Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 4 Tiga bersaudara


__ADS_3

Si Manis mohon diri kepada Wan Siang karena sudah kepalang malu saat kehadirannya di kamar Wan Siang diketahui oleh kedua adik Wan Siang. Setelah gadis itu pergi, Wan Siang berusaha menunjukkan ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


“Koh Wan Siang, siapa gadis itu, kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Siaw Cing penasaran.


“Oh, dia di sini sebagai bayaran utang bapaknya yang kalah judi,” jawab Wan Siang .


“Kasihan sekali dia... utang uang dibayar dengan manusia, aku baru tahu hal seperti itu.”


“Begitulah hidup, kadang kita tidak tahu akan kehilangan apa dan mendapat apa.”


“Tetapi Koh Wan Siang bisa kan tidak menerima anak perempuannya dan memberi tenggat waktu pelunasan utang?”


“Siaw Cing, dalam dunia usaha, jatuh tempo adalah jatuh tempo, kalau tidak bisa lunasi utang setelah jatuh tempo, maka aku berhak mendapatkan jaminan utang itu,” kata Wan Siang berusaha menjelaskan.


“Usaha memang usaha, tapi ada yang namanya rasa kemanusiaan,” Siaw Cing tak mau kalah.


“Aku sudah memutuskan menerima gadis itu, dan aku beri dia kehidupan yang layak di sini. Anggap saja aku menolong gadis itu. Kata bapaknya mereka hidupnya susah.”


Siaw Cing yang berhati lembut akhirnya mau mengalah dalam adu mulut antar saudara itu, setelah Wan Siang berkata seolah perbuatannya adalah upaya menolong orang.


Walaupun baru melihat Si Manis untuk yang pertama kali, Siaw Cing sudah merasa simpati terhadap kehidupan Si Manis yang malang. Ia berpikir, bagaimana kalau dirinya di posisi gadis itu? Tentu sangatlah tidak enak harus hidup di rumah orang yang tidak dikenal, hanya karena dijadikan jaminan utang. Kehidupan di dunia fana ini kadang memang keras seperti itu bagi rakyat kecil.


Ketika melihat Si Manis lagi yang sudah mandi dan berganti pakaian dengan kebaya baru yang dibelikan Wan Siang, Siaw Cing melemparkan senyum kepada gadis Jawa itu. Si Manis juga tersenyum tipis kepada kepada si gadis Tionghoa.


Si Manis memperhatikan Siaw Cing, ia mengenakan cheongsam berwarna biru dengan rambut dikepang dua, begitu cantik. Terlebih lagi Siaw Cing memiliki lesung pipit di kedua pipinya, yang tampak setiap kali ia tersenyum.


“Siapa namamu?” tanya Siaw Cing.


“Nama saya Parjiyem, tetapi belakangan sering dipanggil Si Manis.”


“Namaku Siaw Cing, adik bungsu Koh Wan Siang. Aku sudah mendengar tentangmu dari kakakku, aku harap kau bisa bersabar menghadapi kakakku itu. Perilakunya agak aneh, tapi kakakku itu orang yang baik, percayalah.”


“iya, Non. Nona baik sekali.”


Dalam hati Si Manis, alangkah berbedanya sifat kedua kakak beradik itu. Sang kakak yang suka mabuk-mabukan itu ternyata punya adik perempuan yang sangat manis dan baik hati. Tetapi Manis masih sangat sulit menerima ungkapan Siaw Cing yang mengatakan kalau kakaknya itu baik.

__ADS_1


Sun Kwan memperhatikan Si Manis dari kejauhan, mendengar kisah Si Manis dari Wan Siang membuat pemuda itu juga merasa simpati. Ada kesamaan antara dirinya dan Si Manis, yaitu terpaksa harus hidup bersama orang lain karena perputaran roda nasib. Jika ibunya tidak meninggal saat melahirkan, tentunya ia bisa hidup dan dirawat oleh ibunya sendiri. Sebagai ibu tiri, Nyonya Liem tidak benar-benar menyayanginya dan itu membuat perempuan itu tampak seperti orang lain di mata Sun Kwan.


Saat memperhatikan Si Manis yang sudah rapi dan memakai kebaya berwarna merah pilihan Wan Siang, entah kenapa gadis itu tampak seperti bunga mawar yang sedang mekar di mata Sun Kwan. Si Manis sangat berbeda dengan gadis Tionghoa yang lebih sering ia lihat. Gadis Jawa itu berkulit sawo matang, tetapi memberikan kesan asing yang membuat penasaran. Tubuhnya memang kurus, tetapi karena kebaya yang dipakainya, lekukan tubuhnya yang langsing itu tampak menawan.


Liem Sun Kwan, adik tiri Wan Siang itu, seperti tak ingin memalingkan pandangannya dari Si Manis. Nama itu memang sungguh tepat disematkan untuk si gadis Jawa. Sun Kwan tahu nama gadis itu setelah diberitahu Siaw Cing.


Sun Kwan adalah pria berjiwa melankolis dan lembut. Bisa dibilang, ia mirip dengan Siaw Cing. Wajah Siaw Cing memiliki kemiripan dengan ayahnya, begitu pula Sun Kwan. Orang tidak akan tahu kalau sebenarnya mereka saudara tiri. Sedangkan Wan Siang lebih mirip dengan ibunya. Nyonya Liem adalah wanita yang cantik, tetapi sayang sifatnya tidak secantik wajahnya. Kecantikan perempuan itu menurun kepada Wan Siang, sehingga Wan Siang tumbuh sebagai pemuda yang sangat tampan, tetapi juga bisa dibilang cantik seperti ibunya. Jika sifat Wan Siang semanis Sun Kwan, tentunya ia bisa disebut sebagai pemuda yang sempurna tiada terkira.


Tetapi yang kerap kali terjadi, semakin tampan seseorang , semakin ia dapat berbuat sesuka hatinya, terlebih lagi kalau ia kaya. Tidak peduli sebrengsek apapun kelakuan Wan Siang, perempuan tetap akan tergila-gila pada dirinya. Dunia memang begitu, seandainya seorang pria itu sangat baik, ia tak akan dilirik oleh wanita dengan mudah jika wajahnya jelek. Kecuali jika pria itu berusaha mati-matian merebut hati gadis itu dengan kebaikannya atau dengan kekayaannya, barulah wanita bisa menoleh kepadanya.


Yang paling sulit ditemui adalah perpaduan seorang pria yang memiliki ketampanan, kekayaan, dan kebaikan hati sekaligus.


Sun Kwan sendiri bisa dibilang tampan dan juga baik hati, tetapi ia tidak memiliki minat dalam berbisnis. Ia lebih menyukai seni lukis dan kaligrafi. Dengan kesukaannya itu, baik Tuan maupun Nyonya Liem tidak pernah berpikir menjadikan Sun Kwan sebagai penerus usaha mereka. Sun Kwan juga gemar membaca sastra klasik Tiongkok yang membuatnya dapat berpikir lebih bijaksana dibandingkan Wan Siang. Kesan seorang yang halus budi dan terpelajar sangat lekat dengan Sun Kwan.


Saat Sun Kwan melihat Si Manis, ia melihatnya dengan segenap cita rasa seni yang ia miliki. Perempuan Jawa bernama asli Parjiyem itu begitu indah di matanya. Tiba-tiba ia ingin menjadikan Si Manis sebagai obyek lukisannya.


Setelah Siaw Cing dan Sun Kwan pergi ke kelenteng. Wan Siang mengajak bicara Si Manis dalam upaya meluruskan kejadian semalam. Mereka duduk di kursi bergaya peranakan yang ada di ruang tengah. Mula-mula Wan Siang memperhatikan penampilan Si Manis dalam kebaya merah barunya yang membuat gadis itu tampak jauh lebih baik daripada pertama kali ia datang ke rumah itu.


“Kalau mabuk, aku tidak dalam keadaan sadar. Jadi jika kalau aku suruh kamu begini atau begitu, itu karena aku tidak sadar, apa kau mengerti?” Wan Siang menjelaskan.


“Dan kalau aku panggil kamu Manis, itu juga bukan karena kamu manis. Menurutku Manis lebih mudah disebut daripada nama aslimu.”


“Saya memang tidak pernah merasa manis. Karena paman yang baik hati itu, saya bisa dipanggil manis.”


Wan Siang tertawa kecil mendengar pengakuan Si Manis, bahwa Paman A Seng itu dianggapnya sebagai paman yang baik hati.


“Paman A Seng memang begitu, menganggap semua perempuan manis atau cantik. Tidak peduli dia apakah perempuan itu perawan atau janda.”


“Tetapi paman itu ramah dan baik kepada saya,” jawab Manis.


“Aku sudah membelikanmu baju baru dan mengajakmu makan di kedai mie terenak, tapi kau tidak pernah menyebutku baik. Sedangkan Paman A Seng yang bermulut manis itu, sudah kau puji setinggi langit.”


“Tuan membelikan saya baju karena baju saya jelek, mungkin karena tidak mau melihat saya dengan baju jelek itu, maka Tuan membelikan saya baju baru.”


“Apa itu tidak bisa dihitung kebaikan?”

__ADS_1


“Jika Tuan membelikan saja baju itu, tanpa menyebut kejelekan baju-baju saya, mungkin itu bisa dibilang kebaikan.”


“Jadi kau tersinggung karena aku bilang bajumu jelek?”


“Itu baju pemberian orangtua saya, biarpun jelek, tapi sangat berarti buat saya.”


Wan Siang baru menyadari, kalau gadis Jawa itu ternyata bisa tersinggung. Tadinya ia berpikir untuk menjadikannya sekadar jimat kekayaan yang ia pasang di rumahnya. Tetapi jimat berupa manusia itu ternyata urusannya tidak sesederhana yang ia kira.


Gadis itu bisa merasa sedih dan tersinggung. Jika Wan Siang tidak dapat memperlakukannya dengan baik, ada kemungkinan suatu hari gadis itu akan kabur. Karena itu, Wan Siang berusaha memperlunak sikap.


“Lupakan omonganku itu, aku memang suka asal bicara. Sekarang kau punya baju baru, kalau begini kau juga tampak jauh lebih baik.”


Sedikit demi sedikit rasa ketersinggungan di hati Si Manis juga berkurang, bukan karena ia sepenuhnya bisa menerima perlakukan Wan Siang, tetapi menyimpan rasa sakit hati berlama-lama di dada itu memang tidak enak.


“Saya harap Tuan tidak sering-sering mabuk di rumah, saya takut. Jika Tuan berbuat sesuatu yang tidak Tuan sadari, saya sangat takut.”


“Apa saja yang aku lakukan kepadamu semalam?”


“Pertama Tuan menggedor kamar saya, lalu menarik saya ke kamar Tuan. Tuan minta dipijit sampai tertidur, itu karena Tuan bilang pijitan saya enak, lalu Tuan tidur memeluk paha dan kaki saya. Karena saya tidak bisa bergerak, saya terpaksa harus ada di kamar Tuan sampai pagi.”


“Apa aku benar-benar berkata kalau pijitanmu enak, dengan mulutku sendiri?”


“Iya, Tuan. Untuk apa saya bohong?”


Mendengar pengakuan Si Manis, sekali lagi wajah Wan Siang yang putih itu bersemu merah. Pembawaannya yang dingin terhadap Si Manis hancur sudah jika mendengar pengakuan gadis itu. Ternyata dalam keadaan mabuk dia bisa bertingkah aneh-aneh, sehingga gadis itu merasa jadi korban.


Tetapi hal itu juga membuat Wan Siang dapat menilai kepribadian Si Manis. Gadis itu seperti tidak menganggap dirinya pemuda yang istimewa, tetapi bagaikan hama pengganggu kehidupannya. Ketampanan Wan Siang telah membuat gadis-gadis Tionghoa terpesona kepadanya dan ingin menjadi istrinya. Tetapi gadis Jawa yang kurus kering itu justru merasa terganggu jika berada dekat dengannya.


Gadis itu memang berbeda, walaupun tampak rapuh dari luar, tetapi menyimpan sesuatu yang misterius di dalam dirinya. Jelas Wan Siang sekarang tak bisa memandangnya dengan sebelah mata. Sekarang ada seorang perempuan yang merasa tidak tertarik padanya, dan itu adalah suatu hal baru bagi Wan Siang.



Liem Sun Kwan


__ADS_1


Liem Siaw Cing


__ADS_2