
Siaw Cing dan Ai Lien menjadi sekutu demi mempertahankan nyawa Sun Kwan yang sedang dipertaruhkan. Bagaimanapun juga Siaw Cing sangat menyayangi Sun Kwan dan Ai Lien mencintai pemuda itu. Mereka berdua adalah orang yang paling tidak terima jika terjadi apa-apa dengan pemuda berbudi baik itu.
“Mau tidak mau, aku harus menghadap Ny. Liem,” ujar Ai Lien.
“Tapi Nona Hu... Mamaku itu sangat keras hati, bisa-bisa dia menyakiti hatimu,” Siaw Cing khawatir.
“Sekarang ini hidupku sudah kupertaruhkan, aku tidak bisa mundur barang selangkah pun.”
“Aku juga tidak terima kalau Koh Sun Kwan tidak terselamatkan, izinkan aku ikut menghadapi Mama bersamamu. Selagi yang terburuk belum terjadi, aku akan mengambil posisiku dan ikut berjuang demi keluargaku. Walaupun Koh Sun Kwan hanya saudara tiri, tapi ia selalu memperlakukanku seperti saudara kandung. Dia adalah keluargaku.”
“Aku sangat senang jika kau ikut bergabung denganku untuk mencari keadilan bagi Sun Kwan. Mamamu memang sakit hati karena kesalahan Papamu, tapi ia tak berhak menghukum Sun Kwan seperti itu.”
Tanpa banyak berpikir lagi, Siaw Cing dan Ai Lien memberanikan diri menghadap Ny. Liem. Wanita itu akhir-akhir ini tak berselera untuk keluar menemui teman-temannya.
Setelah merasa kesepian karena Tn. Liem sering meninggalkannya setelah resmi menikah, Tio San Ing yang dulu sering kesepian karena tak punya teman, mau tidak mau sedikit mengubah kepribadiannya dan membaur dengan masyarakat.
Sebenarnya ia tahu, orang-orang di sekitarnya tetaplah palsu dan mau berteman dengannya karena ia seorang nyonya muda yang kaya. Tetapi ia memutuskan untuk berteman dengan mereka sekedar untuk melupakan masalah rumah tangganya.
Entah sudah berapa banyak uang yang dihabiskan San Ing untuk membuat teman-temannya terus menempel kepadanya. Sebab ia sering membelikan mereka hadiah. Ia tahu, di sekitar gula akan ada semut. Begitu pula orang yang kaya, pasti banyak orang yang tertarik mendekat hanya untuk memanfaatkannya. Tapi San Ing sudah tidak peduli lagi, yang penting ia tak merasa kesepian dan dapat bersenang-senang untuk melupakan kesedihannya. Karena sibuk dengan teman-temannya, ia jadi agak jauh dengan keluarganya sendiri.
Kini ia berhadapan dengan dua nona muda, yang satu anak kandungnya sendiri, dan yang lainnya adalah gadis yang mencintai anak tirinya.
“Saya mohon, restuilah hubungan saya dan Sun Kwan. Agar ia bebas dari penderitaan, Nyonya,” pinta Ai Lien dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu selama ini Mama sakit hati, tapi Koh Sun Kwan adalah anak yang baik, dan aku sangat menyayanginya. Bebaskan dia dari penderitaannya dengan restumu, Mama,” Siaw Cing menimpali.
__ADS_1
Nyonya Liem menatap kedua gadis itu satu demi satu, raut mukanya tetap dingin seolah tak bergeming terhadap permintaan mereka.
“Orangtua saya sudah merestui hubungan kami, begitu pula Tuan Liem. Sekarang saya memohon supaya Nyonya bisa berubah pikiran dan turut merestui kami. Untuk menyelamatkan nyawa seorang yang tidak bersalah.”
“Ibu Sun Kwan akan tertawa di alam baka jika anak itu akhirnya bahagia, sedangkan aku masih saja menderita seperti dulu,” Ny. Liem berkata getir.
“Saya yakin Mama Sun Kwan sekarang sedang sedih karena selama puluhan tahun anak yang dilahirkannya telah hidup menderita karena kesalahannya. Mungkin jika waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin melakukan kesalahan itu,” kata Nona Hu.
“Dan selama puluhan tahun pula, ia telah menyiksa hatiku, walaupun ia hanya bisa melihatnya dari alam baka. Tapi rasa sakit ini tak bisa terhapuskan.”
“Oh Nyonya Liem, seandainya Nyonya bisa memaafkan dan membebaskan Sun Kwan dari penderitaan, hati Nyonya akan merasa lega. Tetapi jika Nyonya tidak menolong Sun Kwan, dan akhirnya ia meninggal, justru seumur hidup Nyonya akan dikejar rasa bersalah, hati Nyonya akan terus gelisah.”
“Nona Hu, siapa kau hingga lancang sekali mengajariku?!” bentak Ny. Liem.
“Saya adalah perempuan yang mencintai Sun Kwan. Saya akan lakukan apa saja untuk menyelamatkannya. Sekarang saya belum menjadi menantu Nyonya, tapi percayalah, jika Nyonya memberi saya kesempatan menjadi menantu, saya akan berbuat yang terbaik, saya akan menyayangi Nyonya seperti Mama saya sendiri. Saya akan mengurus dan merawat Nyonya di hari tua. Itulah janji saya kepada Nyonya.”
“Nyonya bukanlah orang yang melahirkan Sun Kwan. Tetapi Nyonyalah yang membesarkannya, dan itu adalah tindakan yang mulia. Jika Nyonya memang sebenci itu kepada Sun Kwan, tentu Nyonya akan melakukan sesuatu agar dia tidak dapat terus hidup hingga sekarang.”
Batin Ny. Liem terhenyak mendengar perkataan Nona Hu. Ia kembali teringat peristiwa saat ia hampir saja mencekik Sun Kwan, tetapi tidak jadi. Saat itu ada sesuatu hal yang seperti menahannya melakukan tindakan keji. Entah apakah sesuatu yang menahannya itu.
“Nona Hu, untuk apa aku harus membunuh anak itu. Tidak ada gunanya mengotori tanganku untuk melenyapkan anak itu. Jika anak itu mati, maka ia akan cepat bertemu dengan ibunya di alam baka. Dan mereka berdua bisa berkumpul lagi, sedangkan aku akan dipenjara jika ditemukan bukti kalau aku yang membunuh.”
“Jika sekarang Nyonya tidak menyelamatkan nyawa Sun Kwan, Nyonya bisa jadi menanggung dosa pembunuhan itu. Mungkin tidak akan dihukum di dunia, jika Sun Kwan meninggal karena sakit. Tapi Tuhan melihat semua ini, dan bisa menghukum Nyonya kapan pun juga, sebab Nyonya seharusnya bisa menyelamatkannya, tapi memilih untuk membiarkannya menderita hingga meninggal.”
“Kau betul-betul seorang gadis yang gigih dan pantang menyerah. Tetapi kau tidak bisa memaksaku merubah sikap.”
__ADS_1
Melihat Nyonya Liem tetap keras kepala, Siaw Cing mau tak mau angkat bicara.
“Mama... aku tahu Koh Sun Kwan adalah saudara tiriku, tapi aku menyayanginya seperti saudara kandung. Aku tidak bisa terima kalau pada akhirnya ia meninggal karena Mama. Aku tidak akan memaafkan Mama jika itu sampai terjadi.”
Siaw Cing mengatakan isi hatinya sambil menangis. Biasanya ia selalu menuruti keinginan mamanya, kali ini ia mengambil langkah berani dengan menentang mamanya sendiri untuk Sun Kwan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan, jika Mama tidak mau menuruti keinginanmu?”
“Aku akan pergi dari rumah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Tapi aku pasti tidak bisa tinggal di rumah yang dipenuhi penderitaan. Selama ini Mama telah memaksaku memakai pakaian, sepatu, dan perhiasan yang tidak aku sukai. Aku sudah lama menanggung hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi kehilangan Engkoh yang paling aku sayang karena Mama, aku tidak mungkin bisa bertahan lagi.”
“Siaw Cing, Mama sudah berikan yang terbaik untukmu agar kau dipandang, dan kelak dapat hidup dengan layak, jika ada seorang lelaki kaya yang meminangmu. Menurutmu apakah laki-laki terpandang dan kaya akan mengambil sembarang wanita untuk dijadikan istri?”
“Mama salah, Koh Wan Siang telah memilih Si Manis karena cinta.”
“Kakakmu memang berbeda. Tapi pada kenyataannya, banyak keluarga yang menginginkan menantu yang sederajat. Mama hanya berpikir berdasarkan kenyataan yang ada. Menurutmu berapa banyak cinta yang harus dikorbankan karena itu?”
“Maka bisa jadi aku akan menjadi salah satu korbannya. Jika hidup tanpa cinta. Seperti juga Mama. Tidakah Mama berpikir, bahwa Mama adalah salah satu korban dari tradisi dan pandangan masyarakat itu?”
“Lalu... apakah ada yang bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi secara turun temurun?”
“Tentu saja bisa berubah Mama, dimulai dari diri kita sendiri. Putuslah rantai itu. Pandangan masyarakat yang kuno dan tidak ada lagi manfaatnya pada masa sekarang ini. Jika Mama mau mengubah keputusan sekarang, maka masa depan kita juga akan berubah. Lihatlah apa yang terjadi di sekeliling Mama dan buatlah keputusan terbaik, sebelum segalanya terlambat.”
“Saya mohon dengan penuh kerendahan hati, selamatkanlah Sun Kwan. Hanya Nyonya yang bisa menyelamatkannya sekarang ini.”
“Aku juga memohon kepada Mama.”
__ADS_1
Baik Ai Lien dan Siaw Cing kini sama-sama berlutut di hadapan Nyonya Liem. Tangisan kedua gadis itu mau tidak mau mengusik perasaan Nyonya Liem. Lalu Nyonya Liem bertanya-tanya ke dalam hatinya, haruskah ia membiarkan Sun Kwan mati untuk memuaskan dendamnya, atau menyelamatkan Sun Kwan sekali lagi.