
Seumur hidup, Sun Kwan belum pernah menyatakan cinta pada seorang gadis, dan tantangan Siaw Cing membuatnya berpikir keras. Sudah banyak buku sastra yang dibacanya, rangkaian kata-kata nan indah tidak asing baginya, tetapi selama ini kata-kata itu hanya mengendap dalam pikirannya.
Yang paling sulit adalah bagaimana mengeluarkan rangkaian kata nan indah itu melalui mulutnya untuk disampaikan kepada Ai Lien.
Pengalaman Sun Kwan menyukai seseorang juga masih sebatas pemikiran. Dulu karena terdorong emosi, perasaannya kepada Si Manis terluapkan di hadapan Wan Siang. Sepertinya Sun Kwan perlu ada dalam kondisi terdesak, baru ia akan mampu untuk mengeluarkan apa yang terpendam dalam pikirannya.
Hari itu Sun Kwan datang ke rumah Ai Lien. Orangtua gadis itu lagi-lagi pergi ke luar kota, sehingga tinggallah ia sendiri di rumah dengan para pembantu. Meskipun ditemani pelayan, tetap saja gadis itu merasa kesepian, karena itu ia sangat gembira saat Sun Kwan datang.
“Sun Kwan, aku bosan, untung kau cepat datang,” ujar Ai Lien.
“Apa kau menungguku?” tanya Sun Kwan.
“Aku mengharapkanmu datang, biar ada yang bisa kuajak bicara.”
Jika Sun Kwan datang, biasanya para pelayan Ai Lien akan pergi meninggalkan nona mudanya itu, untuk dapat berbicara berdua saja dengan Sun Kwan.
Suasana rumah itu hening sesaat. Di hadapan Ai Lien, Sun Kwan tidak biasanya kehabisan kata-kata. Pemuda itu hanya mampu menatap ke arah gadis cantik yang duduk di hadapannya.
“Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Ai Lien.
“Tidak, wajahmu sangat sempurna.”
Ai Lien tersenyum mendengar dirinya dipuji oleh orang yang biasanya bersifat malu-malu.
“Jika kau yang memuji, aku langsung percaya. Sebab kau tidak pernah berbohong, karena itu aku memasukkannya dalam hati.”
“Tapi sungguh, kau adalah perempuan yang sangat cantik. Kau sendiri pasti sering mendengarnya dari mulut orang lain.”
“Ya, tapi... aku tidak memasukkannya dalam hati. Aku tidak peduli pujian mereka. Tapi aku selalu peduli dengan semua yang kau katakan. Karena kau adalah teman baikku.”
“Jadi... apakah kau menganggapku hanya sebagai teman?”
“Bukankah selama ini memang begitu, kau sendiri dulu yang menawariku menjadi temanmu,” kata Ai Lien.
Sun Kwan ingat kejadian itu, ketika ia meminta Ai Lien menjadi temannya. Dan situasinya sampai sekarang belum berubah. Ia ingin situasi itu berubah, tetapi entah kenapa kata-katanya seperti berhenti di kerongkongannya. Sepatah kata cintapun tak sanggup ia keluarkan. Tiba-tiba ia menganggap dirinya payah dan tidak punya nyali.
“Ai Lien...”
Sun Kwan berusaha menghimpun kembali keberaniannya, Ai Lien yang namanya disebut oleh Sun Kwan mau tidak mau menjadi menaruh perhatian penuh. Bersiap-siap mendengarkan kata-kata berikutnya.
__ADS_1
“Ya... ada apa?”
“Ai Lien, apakah kau setuju kalau....”
“Kalau apa, Sun Kwan?”
Di hadapan Ai Lien, Sun Kwan tiba-tiba menjadi sosok yang penuh teka-teki, sebab dia tak kunjung menyelesaikan kata-katanya dan membuat segalanya menjadi tidak jelas.
Sun Kwan menarik nafas dalam-dalam, ia tak mau terus-terusan menjadi pengecut dalam hal menyatakan perasaan kepada seorang gadis. Tapi bukannya melanjutkan omongannya, yang ada, dirinya malah terdiam seribu bahasa.
Ai Lien seperti mengawasi Sun Kwan dan terus diam menunggu, sampai gadis itu akhirnya membuka mulut.
“Sebenarnya kamu mau berkata apa? jangan membuat aku penasaran.”
“Aku tidak bermaksud membuatmu penasaran.”
“Lalu apa maksudmu tak melanjutkan kata-katamu?”
Sun Kwan jadi menghembusakan nafas panjang, seperti berusaha menenangkan dirinya sendiri, yang dipenuhi gejolak aneh.
Kini Sun Kwan makin terdesak dengan kata-kata Ai Lien, disertai tatapannya yang tajam menusuk ke arah Sun Kwan.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau bicara, biar aku yang menebak,” ujar Ai Lien.
“Kau ini pasti mau bilang, Ai Lien apa kau setuju jika kau menemaniku ke kelenteng?”
“Bukan... bukan itu..,”
“Lalu apa... apa? Kalau kau terus membuatku penasaran, aku akan marah.”
Ai Lien memasang muka cemberut di hadapan Sun Kwan, pemuda itu semakin gundah gulana. Ia tidak ingin mengacaukan hari itu lebih parah lagi.
“Ai Lien...., apakah kau setuju men... menjadi kekasihku?”
Mendengar kata-kata itu meluncur dari mulutnya, Sun Kwan sendiri terperanjat. Ia sudah terdesak, sehingga tak ada pilihan lain baginya, menyatakan maksudnya atau mati.
Ai Lien tersenyum dan nyaris tertawa melihat ada pemuda yang begitu kaku dalam hal menyatakan pemikirannya. Ia juga geli melihat Sun Kwan yang tertunduk malu setelah mengatakan permintaannya. Wajah pemuda itu sudah merah padam menanggung malu, sembari jantungnya berdebar kencang menunggu jawaban Ai Lien.
“Pemuda yang sangat pemalu,” gumam Ai Lien.
__ADS_1
Gadis itu belum pernah bertemu dengan pemuda seperti Sun Kwan, yang sangat berhati-hati dalam mengungkapkan perasaanya. Biasanya pemuda yang ditemuinya terlalu percaya diri dan menganggap Ai Lien akan dengan mudah menerima mereka. Tapi justru Ai Lien tidak suka pemuda seperti itu, yang menganggap dirinya seolah mudah didapatkan.
“Kenapa kau takut mengungkapkan perasaanmu sendiri? Lihat aku, ungkapkan apa yang kau rasakan.”
Sun Kwan mengumpulkan segenap kekuatan hanya demi bisa menghadapi Hu Ai Lien yang pemberani.
“Ai Lien, aku menyukaimu... aku ingin kau menerimaku sebagai kekasihmu, walaupun aku jauh dari kata pantas untukmu.”
“Aku heran, kenapa justru pemuda sepertimu yang merasa tidak percaya diri. Sedangkan banyak pemuda payah di luar sana, malah punya rasa percaya diri yang tinggi.”
“Aku tidak biasa menganggap diriku hebat.”
“Sebenarnya apa masalah hidupmu, Sun Kwan? Kau tidak seharusnya menganggap dirimu rendah. Kau pemuda yang tampan dan cerdas, juga berbakat. Kau juga dikaruniai sifat baik dan bersikap santun. Seharusnya nilai-nilai dalam dirimu itu bisa membuatmu percaya diri.”
Kata-kata Ai Lien seperti ucapan dari Dewi Welas Asih yang membuat perasaan Sun kwan menjadi lebih baik.
“Aku memang punya masalah percaya diri, aku selalu merasa tidak lebih baik dari orang lain.”
Sepanjang hidupnya, Sun Kwan selalu dipaksa menjadi orang dengan peringkat kedua dalam keluarganya. Tidak heran, jika ia menjadi pribadi yang selalu merasa rendah diri. Setiap kali ia ingin menjadi nomor satu, ibu tirinya selalu menekannya dan memaksanya untuk selalu kalah atau mengalah.
“Mulai sekarang, jangan merasa rendah diri lagi. Jika kau menjadi kekasihku, maka kau jangan sampai kalah berani daripada aku. Sekarang aku ingin memberimu contoh, bagaimana bersikap berani.”
Setelah berkata seperti itu, Ai Lien mendekatkan wajahnya kepada Sun Kwan, lalu mencium bibir pemuda itu dengan penuh semangat. Saat itu, Sun Kwan merasakan energi keberanian dari Ai Lien yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pemuda itu sangat terkejut dibuatnya.
“Nah sekarang, balaslah,” pinta Ai Lien.
Karena Ai Lien telah menunjukan sikap beraninya, Sun Kwan tidak merasa ragu lagi untuk membalas ciuman Ai Lien yang penuh semangat tadi, pemuda itupun pada akhirnya mampu mencium gadis yang ia cintai.
Setelah keduanya selesai berciuman dengan penuh semangat, Sun Kwan seperti mendapat energi baru yang membuat dirinya menjadi semakin percaya diri dan bersemangat. Gadis itu telah mengubah diri dan dunianya.
Akhirnya ia merasa ada orang yang benar-benar bisa menerima dirinya dan menyayanginya. Tidak semua orang dapat memperoleh cinta pertamanya. Tetapi selalu ada kesempatan-kesempatan lain yang membuat orang dapat memperoleh kebahagiaan sejati. Cinta pertama memang tak terlupakan, tetapi cinta yang terakhir adalah cinta yang paling berarti.
Hu Ai Lien gagal mendapatkan cinta pada pandangan pertamanya. Walaupun perasaannya dulu sangat menggebu-gebu, tetapi perasaan itu tak dapat bertahan lama dalam hatinya. Lalu datanglah Sun Kwan dengan kelembutan dan perhatiannya. Perlahan tetapi pasti, ia telah menanamkan benih cinta yang tumbuh perlahan di hati Nona Hu.
Sun Kwan menceritakan kejadian hari itu kepada Siaw Cing, dan membuat adik perempuannya itu tertawa terbahak-bahak sekaligus bangga kepada keberanian Sun Kwan.
“Engkoh ini orang yang hebat, memang sudah sepantasnya mendapat perempuan yang hebat pula seperti Nona Hu. Mulai sekarang Engkoh harus lebih percaya diri. Masa lalu biarlah berlalu, sekarang buka lembaran baru bersama Nona Hu,” Siaw Cing terkekeh lagi setelah berkata begitu.
Kabar dari Kak Otor:
__ADS_1
Hi... Kak Otor menyapa lagi. Saat ini Kak Otor sedang gembira, karena novel Tuan Muda Liem berhasil menembus 10.000 view, yang artinya novel ini sudah mendapat ranking jumlah vote di Noveltoon. Dilihat dari statistik, semakin hari jumlah pembaca novel ini semakin meningkat. Terus dukung Kak Otor dengan selalu like, komen dan vote agar novel ini mendapat ranking yang bagus, sehingga semakin banyak yang tahu ya para readers yang budiman.
Sebelumnya Kak Otor ucapkan terima kasih atas dukungan para readers selama ini, yang tak bosan-bosannya mendukung Kak Otor dengan terus membaca novel ini tanpa kenal lelah. Tanpa kalian, Kak Otor bukanlah siapa-siapa.