
Hari kepulangan ke Semarang adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh Wan Siang. Ia tak hanya sekedar pulang ke rumah, tetapi juga melabuhkan pikiran dan perasaannya kepada Si Manis yang dicintainya.
Tetapi ada yang istimewa dalam kepulangan Wan Siang kali itu, sebab ia membawa kabar gembira untuk Si Manis, perihal kontrak barunya dengan NV. Kwee Kiaw Tjin, satu perusahaan rokok cukup besar yang dimiliki oleh orang Tionghoa di Kudus.
Keberhasilan Nitisemito dalam membangun dan mengelola pabrik rokok membuat persaingan dagang di industri rokok semakin menggeliat. Orang melihat ada pasar besar untuk rokok, dan kesempatan itu tidak dilewatkan oleh orang-orang Tionghoa yang memang selalu mencari berbagai peluang bisnis.
Pabrik-pabrik rokok baru bermunculan. Bertambahnya pabrik rokok menyebabkan kebutuhan akan tembakau juga semakin besar, dan di situ perusahaan Wan Siang mengambil peran.
Setelah keluar dari stasiun, Wan Siang dengan hati riang gembira menuju ke rumahnya dengan kereta kuda. Ia ingin mengabarkan kepada Si Manis perihal kesuksesannya menjalin kontrak tempo hari.
Tetapi setelah Wan Siang sampai di rumah, rumah itu tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kehadiran Si Manis. Wan Siang awalnya mengira gadis itu ada di satu ruangan di rumahnya, tetapi setelah ia memeriksa semua ruangan yang ada, Si Manis tak kunjung ditemukan.
Kemudian Wan Siang diterpa kepanikan. Ia memanggil-manggil nama Si Manis, tetapi gadis itu tak muncul-muncul.
“Manis... kamu di mana? Manis... Manis...!!!”
Wan Siang kemudian bertanya kepada salah satu pembantu yang dijumpainya.
“Kamu tahu di mana Si Manis? Apa dia sedang pergi belanja? Tapi dia tidak pernah belanja pada hari aku pulang.” Wan Siang menjadi sangat panik.
Pembantu yang ditemuinya itu hanya bisa menunduk, lama kelamaan ia terisak karena takut bercampur sedih.
“Kenapa nangis, sebenarnya ada apa ini?”
“Non Manis, dia... pergi dari rumah, Tuan.”
Wan Siang tak habis pikir dengan jawaban dari pembantunya. Menurut Wan Siang, Si Manis tak akan pergi begitu saja, tanpa ada kata perpisahan.
“Aku tahu ada yang tidak beres di sini. Ceritakan.”
“Nyonya besar kemarin datang, untuk bertemu Nona. Lalu... lalu dia memarahi Nona. Nona juga ditampar dan diusir dari rumah ini oleh Nyonya besar.”
Kisah pilu yang baru saja diceritakan oleh si pembantu membuat hati Wan Siang seperti ditusuk belati, begitu menyakitkan. Ia tak pernah berpikir kalau mamanya bisa begitu tega melakukan hal kejam seperti itu kepada gadis yang dicintainya. Secara tidak langsung, mamanya telah menyakiti Wan Siang, seperti yang sering dilakukannya semenjak Wan Siang kecil.
“Lalu, kalian semua di mana? Kenapa tidak ada yang mencegah Si Manis pergi?”
“Kami semua takut kepada Nyonya, Tuan pasti tahu, dia....”
“Apa kalian tidak takut padaku? Aku perintahkan kalian untuk menjaga dan memperhatikan kebutuhan Nona. Tapi waktu dia disakiti, kalian tidak ada yang membela?”
__ADS_1
“Maafkan kami Tuan. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, u...untuk menolong Nona.”
“Sudahlah, aku tidak mau lagi terima alasan kalian!”
Setelah itu Wan Siang mengangkat kopernya lagi dan meninggalkan rumah. Para pembantu tidak tahu ke mana majikan mereka pergi, apakah hanya untuk sementara waktu atau selamanya. Yang jelas kepergiannya kali itu disertai rasa kecewa, hingga tak ada satu orang pun yang bisa memastikan saat kembalinya.
Tujuan Wan Siang adalah rumah orangtuanya. Semua orang yang melihat Wan Siang dengan setelan jas hitam, kemeja putih, dan topi hitam terkejut, apalagi Wan Siang menenteng koper yang lumayan besar.
“Di mana Mama?” Wan Siang bertanya kepada Siaw Cing yang pertama kali ditemuinya.
“Kenapa Engkoh menenteng koper dan mencari Mama?”
“Mama sudah membuat kesalahan besar. Cepat beritahu aku di mana Mama.” Siaw Cing bergidik ngeri melihat raut wajah Wan Siang yang sepertinya sedang diliputi kemarahan.
“Akan aku panggilkan Mama.”
Siaw Cing memenuhi keinginan Wan Siang dan memanggil mamanya yang sedang merias diri di dalam kamar. Ny. Liem hendak pergi menemui teman-temannya di acara pesta. Dia memaksakan diri untuk tersenyum menyambut kedatangan anak sulungnya.
“Tumben kamu ingin bertemu Mama,” ujar Ny. Liem yang sudah berpakaian rapi bersiap pergi.
“Seharusnya Mama lebih tahu arti kedatanganku ke sini.”
“Kamu pasti ingin bertanya kenapa Mama menyuruh gadis itu pergi, bukan?” kata Ny. Liem.
“Mama tidak hanya mengusirnya, tetapi juga menyiksanya. Secara tidak langsung, Mama juga telah menyiksaku. Mama sudah menyakitiku,” ujar Wan Siang.
“Karena Mama tidak bisa membiarkanmu menikahi perempuan kampung itu.”
“Dia bukan perempuan kampung Ma. Dia cahaya kehidupanku. Tanpa dia, aku akan berjalan tanpa arah. Setelah Papa hancurkan usahaku, rasanya aku ingin mati saja. Untung ada Si Manis yang menolong. Kalau sekarang usahaku sukses, semua itu karena Si Manis. Aku berusaha bangkit, karena aku ingin bahagiakan dia.”
Wan Siang menjelaskan tentang perasaannya kepada Si Manis di hadapan mamanya, yang masih mematung.
“Apa kau tidak sadar kedudukanmu? Kamu anakku, Mama tidak mau punya menantu perempuan kampung. Mama malu!”
“Hahahahaha... malu. Hanya karena itukah Mama tega menghancurkan hidupku dan Si Manis?”
“Ini menyangkut kehormatan keluarga besar, apa kamu tidak paham juga?”
“Jangan mengatakan ini demi kehormatan keluarga. Ini semata-mata hanya untuk kepentingan Mama.”
__ADS_1
Tatapan Wan Siang yang tajam seperti menusuk batin Ny. Liem.
“Jadi Mama tidak mau menerima Si Manis?”
“Tidak, aku tidak sudi.”
“Baik, kalau Mama tidak mau menerimanya, sebaiknya aku juga pergi dari kehidupan Mama. Mama sudah usir dia, jadi aku tidak ada alasan lagi tetap ada di sini.”
“Apa?! Kamu mau pergi meninggalkan Mama demi perempuan kampung itu? Aku ini mamamu, Wan Siang. Tanpa Mama, kau tidak akan bisa lahir ke dunia ini.”
“Kadang aku bertanya... kenapa harus kau yang jadi Mamaku? Mama yang selalu memberikan penderitaan bagi anak-anaknya. Yang selalu ingin menang sendiri dan berbuat kejam pada orang lain. Kenapa aku harus memiliki Mama yang seperti itu?”
Kata-kata Wan Siang benar-benar membuat Ny. Liem murka, sebab apa yang dikatakan anaknya itu memang menunjukkan sifat buruknya. Tidak pernah ada yang berani menyatakan itu secara terang-terangan, dan ketika Wan Siang mengungkapkannya, Ny. Liem menjadi sangat marah.
“Cukup, kamu sudah keterlaluan, Wan Siang!”
“Mama, apapun yang terjadi, aku akan menikahi Si Manis.”
“Jadi kau berencana kawin lari?”
“Aku tidak punya pilihan lain. Mamalah yang memaksaku mengambil jalan ini.”
Ny. Liem hampir-hampir tak percaya dengan langkah yang akan diambil Wan Siang, jika orang lain mendengar kisah kawin lari Wan Siang dengan seorang perempuan kampung, tentunya akan hancur kehormatan keluarga besarnya.
“Kalau kau kawin lari, apa kata orang nanti? Kau ini harusnya senang, karena ada perempuan seperti Nona Hu yang ingin menjadi istrimu. Dia wanita dari keluarga terpandang. Tetapi kau memilih untuk kawin lari dengan gadis kampung. Kau ini benar-benar sudah gila.”
“Kalau begitu kami akan menghilang dari kehidupan Mama. Agar orang lain tak ada yang tahu, agar Mama bisa hidup tenang.”
Nyonya Liem nyaris kehabisan kata-kata untuk mencegah Wan Siang menjalankan rencana kawin larinya itu.
“Koooh....” Siaw Cing yang mendengar rencana Wan Siang untuk kawin lari dan menghilang dari keluarganya, tak bisa menahan tangisnya. Ia tak siap untuk kehilangan kakak laki-lakinya itu.
“Siaw Cing, kau pasti paham kalau aku tidak punya pilihan lain lagi.”
“Tapi aku sedih kalau Engkoh pergi.”
“Sampai kapan pun kau tetap adik perempuan yang aku sayangi. Hubungan kita selamanya tak akan putus,” kata Wan Siang.
Lalu dia berkata ke Ny. Liem, “Sekarang giliranku untuk pamit kepada Mama. Selamat tinggal Mama.”
__ADS_1
Wan Siang mengangkat kopernya, kemudian meninggalkan rumah itu. Suasana hati Ny. Liem menjadi sangat buruk, sehingga mustahil baginya untuk pergi ke pesta. Siaw Cing terus-terusan menangis saat melihat Wan Siang pergi. Wan Siang tak sekalipun menoleh ke belakang, hatinya telah teguh untuk mempertahankan cinta sejatinya. Cinta sejati yang ingin dia pegang sampai akhir hayat.