Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 43 Pindah rumah


__ADS_3

Wan Siang sebenarnya tidak mengira kalau ia akan menikahi Si Manis secepat itu. Begitu Si Manis dibawa ke Kudus, ia merasa rumah kecil yang disewanya dengan tujuan sebagai kantor itu tidak layak untuk ditinggali Si Manis. Jadi Wan Siang mencari rumah baru untuk mereka tinggali, dengan tujuan sebagai rumah tinggal, tidak bercampur dengan kegiatan usaha.


Berkat bantuan kenalan Wan Siang, mereka berhasil menemukan rumah bagus yang bisa disewa per tahun, sebab bukan perkara gampang juga membangun rumah dari nol, kalau mereka butuh tempat tinggal segera.


Rumah itu dulu ditinggali satu keluarga Belanda, yang akhirnya pulang ke negara asalnya setelah sukses mengumpulkan modal usaha di Hindia Belanda. Nyonya rumah keluarga itu dulu berkali-kali mengeluhkan tentang cuaca kota Kudus yang panas, padahal sebelumnya mereka tinggal di negeri Belanda yang berhawa sejuk.


Mereka pulang setelah tujuh tahun tinggal di Kudus. Rumah mereka dijual kepada salah seorang teman, yang kini menyewakannya kepada Wan Siang.


Si Manis dan Wan Siang tak perlu pusing mengenai perabotan, sebab keluarga yang dulu menjual rumah itu, menjual rumahnya berikut perabotan. Lagipula tak mungkin membawa perabotan yang besar-besar untuk dibawa pulang ke Belanda.


Karena pemilik rumah pertama hanya tinggal selama tujuh tahun, boleh dibilang rumah itu masih sangat bagus, perabotannya yang dirawat dengan baik juga masih tampak seperti baru. Bisa dikatakan, Wan Siang dan Si Manis sangat beruntung dapat menyewa rumah itu.


“Engkoh jadi harus mengeluarkan banyak uang untuk menyewa rumah ini,” kata Si Manis.


“Tidak apa-apa, aku tidak ingin rumah untuk tinggal bercampur dengan tempat usaha. Lagipula rumah kemarin itu kamarnya cuma ada satu, dan tempatnya kecil. Untuk tempat tinggal, lebih enak kalau luas begini,” ujar Wan Siang sambil mengedarkan pandangannya di dalam rumah itu.


Rumah itu berwarna dominan putih dengan jarak antara lantai yang terbuat dari marmer dan langit-langitnya lumayan lebar, sehingga udara di dalam rumah menjadi lebih sejuk untuk ukuran Wan Siang dan Si Manis.


Perabotannya rata-rata dari kayu mahoni bercat putih, dilapisi dengan kain bercorak tanaman dan bunga-bunga, sungguh indah dipandang. Tentu Wan Siang sebagai orang Tionghoa dan Si Manis sebagai orang Jawa tak terbiasa dengan rumah bertatanan Eropa seperti rumah itu. Tetapi entah mengapa, mereka menganggapnya bagus, sehingga langsung setuju menyewa rumah itu saat pertama kali melihatnya.


Terdapat tiga kamar tidur dan empat kamar pembantu yang berada di bagian belakang rumah. Dulu keluarga yang menempati rumah itu termasuk keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu dan dua orang anak, dengan beberapa pembantu.


Si Manis dan Wan Siang menempati kamar tidur utama, yang ukurannya paling luas dan yang paling indah pula. Wan Siang sangat menyukai kamar itu, karena di tempat itulah ia akan menghabiskan banyak waktu memadu kasih dengan istrinya.


Si Manis sekali lagi berpikir kalau ia seperti berada di negeri dongeng dan tinggal di dalam puri yang sangat bagus.


“Kalau usahaku sudah tambah maju dan uang kita cukup, aku ingin sekali bisa membeli rumah ini. Aku suka rumah ini,” kata Wan Siang.


“Rumah ini bagus, tapi pasti harganya mahal sekali ya Koh.”


“Kalau rumah ini ditakdirkan jadi milik kita, pasti bisa.”


“Tapi besar sekali, kita kan cuma berdua.”


Wan Siang tersenyum. “Siapa tahu nanti bukan cuma berdua.”

__ADS_1


Rumah itu juga dilengkapi taman di bagian depannya, taman yang ditumbuhi pohon mangga dan rambutan, yang setiap tahun dapat dipanen buahnya. Juga tanaman hias dan tanaman bunga yang menambah keindahan taman itu.


Si Manis sangat menyukai taman itu, sehingga ia berniat ingin ikut merawat taman itu dengan menyiraminya setiap hari. Baru kali itu dia tinggal di rumah yang ada tamannya.


Setelah resmi menyewa rumah itu, Wan Siang mempekerjakan tiga orang pembantu wanita dan seorang laki-laki yang bertugas sebagai tukang kebun. Tapi karena Si Manis sudah resmi menjadi istri Wan Siang, ia ingin memasak sendiri.


Setelah urusan pindah rumah selesai, Wan Siang mulai memasang iklan lowongan pekerjaan di koran. Kemudian ia mulai menerima orang-orang yang datang untuk melamar pekerjaan di kantornya.


Mengingat saat itu zaman meleset, banyak orang mencari kerja. Akibatnya Wan Siang cukup kewalahan menghadapi belasan orang yang datang melamar. Sebagian besarnya dia tolak karena tidak memenuhi syarat, misalnya karena tidak pandai baca tulis atau terlalu tua.


Wan Siang belum menemukan orang yang cocok untuk tugas bertemu calon pembeli, yang tugasnya juga menawarkan tembakau dan meyakinkan calon pembeli untuk membeli tembakau itu. Dia menemukan satu orang yang tepat untuk dipekerjakan di bagian pembukuan. Sebelumnya ada tiga calon, tetapi ketika Si Manis dilibatkan dalam pemilihan pegawai, akhirnya dipilihlah satu orang yang tepat.


Nama orang itu adalah Oey Kim Hok. Alasan awal Wan Siang memilihnya adalah karena Kim Hok berwatak serius dan berwajah tidak tampan. Lalu saat Kim Hok diuji menghitung dengan sempoa, ia dapat melakukannya dengan kecepatan yang luar biasa dan juga tepat. Wan Siang saja tidak bisa menghitung secepat Kim Hok.


“Sebelum melamar kerja di sini, saudara pernah bekerja di mana?” tanya Wan Siang.


“Panggil saja Kim Hok, Tuan. Saya tadinya hanya diserahi tugas kecil sebagai tenaga pembukuan di toko kelontong Papa saya,” jawab Kim Hok.


“Papamu punya toko kelontong, pasti dia ingin kamu meneruskan usaha toko kelontongnya, mengapa mencari pekerjaan di tempat lain?”


“Saya punya kakak laki-laki, tentunya toko itu nanti akan diserahkan kepadanya. Lagipula saya ingin hidup mandiri, tidak ingin terus bergantung pada usaha warisan keluarga.”


“Saya tidak cocok dengan kakak saya, karena itu saya melamar bekerja di sini.”


Mendengar penjelasan Kim Hok, Wan Siang teringat tujuan hidupnya sendiri, bahwa ia juga lebih suka hidup mandiri daripada menggantungkan masa depan dengan mengelola usaha keluarga.


Wan Siang sangat terkesan dengan Kim Hok. Apalagi tujuan mereka sama, hidup mandiri tanpa campur tangan keluarga besar. Selain itu, Kim Hok memang orang yang sangat ahli di bidangnya. Sepertinya angka-angka sudah menjadi teman hidupnya.


Setelah mempekerjakan Kim Hok, Wan Siang jadi bisa pulang ke rumah pada sore hari dan tak perlu memikirkan tentang pembukuan. Walaupun begitu ia terus mendapat laporan keuangan dari Kim Hok setiap hari. Tugas Wan Siang hanya tinggal mengontrolnya.


Karena bantuan Kim Hok, Wan Siang tidak lagi selelah dulu. Ia jadi punya waktu luang bersama Si Manis. Apalagi ia sudah pindah rumah. Rumah itu adalah tempat kembali yang sangat menyenangkan. Begitu memasuki rumah, hawa sejuk yang dihasilkan dari pertukaran udara yang baik langsung terasa.


Selain hawa yang sejuk, Wan Siang disambut oleh seorang istri yang menyenangkan pandangan dan hati. Wan Siang biasanya sampai di rumah pada pukul setengah enam sore, dan Si Manis sudah selesai memasak beberapa hidangan, dibantu oleh salah satu pembantunya untuk makan malam.


“Makin lama kamu makin pandai memasak,” kata Wan Siang.

__ADS_1


“Engkoh sudah memberikan segalanya kepada saya, sudah sepantasnya saya juga membahagiakan Engkoh dengan memasak sendiri.”


“Kalau kita punya anak, pasti hidup kita lebih bahagia lagi.”


Si Manis agak berkecil hati, karena setelah tiga bulan menikah, ia belum juga hamil. Raut mukanya jadi agak sedih.


“Maafkan saya Koh, saya belum bisa hamil sampai sekarang.”


Melihat Si Manis yang merasa kecewa dengan diri sendiri, membuat Wan Siang menyesali perkataanya tadi.


“Kan baru tiga bulan kita kawin. Nanti pasti tiba waktunya kamu akan hamil.”


“Saya takut tidak bisa beri Engkoh keturunan...”


Si Manis menjadi semakin sedih, matanya berkaca-kaca, air mata hampir tumpah dari kedua matanya. Wan Siang akhirnya bangkit dari kursinya dan mengajak Si Manis ke dalam kamar untuk menenangkannya.


“Sudah jangan nangis,” ucap Wan Siang sambil menghapus air mata istrinya.


Si Manis bisa sedikit tenang karena dihibur oleh suaminya yang baik dan pengertian.


Wan Siang lalu membaringkan Si Manis dan memeluknya erat-erat.


“Seandainya saya tidak bisa kasih Engkoh keturunan, apakah Engkoh mengambil istri lagi?”


“Jangan mikir yang tidak-tidak. Memangnya aku dulu kawin sama kamu dengan tujuan cuma ingin punya anak saja? Aku kawin sama kamu, karena kamu membuat aku bahagia.”


“Tapi kata Engkoh kalau kita punya anak, pasti hidup kita lebih bahagia lagi.”


“Kalau memang aku tidak ditakdirkan punya anak, aku sudah bahagia dengan punya kamu. Bagiku itu sudah cukup. Lagipula, aku belum tentu bisa cinta sama perempuan lain, jadi belum tentu juga punya anak dari mereka.”


Setelah Wan Siang menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya kepada Si Manis, barulah istrinya itu tenang.


“Sekarang, ayo kita usaha lagi.”


“Usaha apa Koh?”

__ADS_1


“Ya, usaha membuat anak. Yang penting kita jangan putus asa.”


Si Manis jadi tersenyum kembali, dan memenuhi keinginan Wan Siang dalam usaha mendapat keturunan. Karena Wan Siang sudah tidak kelelahan setiap harinya, maka ia dapat sering-sering membuat istrinya bahagia.


__ADS_2