Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 14 Penyelidikan Siaw Cing


__ADS_3

Wan Siang tidak pernah menyangka jika gadis yang dulunya cuma ia anggap jimat bisa membuatnya seperti punya mainan baru yang sangat menarik. Si Manis tidak tahu masalah kejiwaan Wan Siang, tetapi ia memang merasa lelaki itu punya tabiat yang aneh, jauh dari adat kebiasaan laki-laki normal.


Si Manis tidak tahu apa saja yang mungkin akan dilakukan Wan Siang kepada dirinya. Yang jelas ia merasa harus punya pertahanan diri yang kuat, paling tidak menyiapkan mentalnya sendiri. Atau jika mulai terganggu, ia harus bisa mengutarakan perasaannya. Semut saja akan menggigit jika diinjak, sebagai bentuk protes atas perlakuan manusia terhadap diri mereka.


Karena itulah Si Manis jadi lebih berani kepada Wan Siang, tidak takut lagi mengutarakan isi hatinya. Di luar dugaan, Wan Siang jadi lebih mengenal diri gadis itu dengan lebih baik.


Hari itu sepertinya Si Manis akan terbebas dari gangguan Wan Siang, sebab Sun Kwan dan Siaw Cing datang berkunjung. Mereka sudah mendengar kabar ditutupnya rumah judi secara paksa oleh ayah mereka, dan Tuan Liem menyuruh mereka untuk mengunjungi Wan Siang, sembari ingin tahu bagaimana keadaan anak sulungnya itu.


Tuan Liem mendengar laporan dari Lie Kuan Tay kalau dirinya sempat beradu jurus dengan Wan Siang sehingga membuat pemuda itu terluka. Tentu saja itu di luar dugaan Tuan Liem, dia mengira Wan Siang akan patuh terhadap gurunya. Tetapi bukannya patuh, Wan Siang malah melawan Lie Kuan Tay.


Begitu datang, dengan wajah khawatir, Siaw Cing langsung menanyakan keadaan kakaknya.


“Bagaimana keadaan Koh Wan Siang?”


“Sudah baikan, karena ada Si Manis yang mengurus aku,” ujar Wan Siang.


“Maaf, jadi merepotkanmu, Manis,” Siaw Cing berkata kepada Si Manis yang sedang duduk di sebelah Wan Siang.


“Lalu apa rencana Koh Wan Siang selanjutnya? Rumah judi sudah ditutup, apa Engkoh sudah siap memimpin perusahaan Papa?” tanya Sun Kwan.


“Siapa yang mau memimpin perusahaan Papa? Aku tidak mau. Apalagi setelah aku dihajar seperti ini. Aku mau jalan sendiri.”


“Mau usaha apa setelah ini?”


“Belum tahu, biar kupikirkan nanti.”


“Banyak orang yang menggantungkan hidup kepada Engkoh, para pembantu di rumah ini, juga Si Manis. Kalau Koh Wan Siang tidak segera bangkit, bagaimana kehidupan mereka nanti? Terutama Si Manis.”


“Kamu pikir aku tidak bisa mengurus mereka?” Wan Siang agak emosi mendengar pertanyaan Sun Kwan.


“Kalau terus-terusan begini, aku jadi khawatir Koh,” kata Sun Kwan.


Wan Siang tahu arah pertanyaan Sun Kwan. Adik tirinya itu sebenarnya sangat mengkhawatirkan nasib Si Manis jika Wan Siang tak mampu menjaganya. Mulut Sun Kwan ingin mengatakan kalau ia ingin mengurus gadis itu seandainya kakaknya itu tidak sanggup, tetapi lidahnya kelu.


Mendengar namanya sempat disebut oleh Sun Kwan, Si Manis jadi tidak enak hati.


“Jangan khawatirkan saya, saya bisa jaga diri sendiri,” ujar gadis itu.

__ADS_1


Perkataan Sun Kwan serta merta menjadi ancaman terselubung bagi Wan Siang.


“Si Manis diserahkan bapaknya sendiri ke aku, sampai kapanpun dia akan jadi tanggung jawabku, sesuai janjiku kepada bapaknya dulu. Laki-laki sejati tak akan melanggar janji sendiri. Jadi jangan khawatirkan nasib Si Manis, selama aku hidup. Aku akan mengurusnya dan melindunginya,” Wan Siang berkata dengan sungguh-sungguh, terutama ditujukan untuk Sun Kwan.


“Sudah... sudah... kenapa jadi serius begini? Koh Wan Siang mungkin masih emosi, jadi biarkan dia istirahat dulu sambil mengatur langkah selanjutnya,” kata Siaw Cing berusaha mendinginkan suasana.


Untunglah ada Siaw Cing sehingga adu mulut itu dapat dihentikan. Tetapi mendengar penyataan Wan Siang barusan membuat Si Manis berpikir, apakah selamanya ia akan hidup di sisi Wan Siang? Pemuda itu barusan mengatakan bertekad akan mengurus dan melindungi Si Manis selama lelaki itu hidup.


Siaw Cing sendiri merasa heran kepada Wan Siang yang sekarang. Dulu kakak sulungnya tak pernah peduli kepada perempuan, bahkan tunangannya sendiri tidak pernah dipikirkannya. Ia ingat betul bagaimana Nona Sie, tunangan Wan Siang yang dulu, sering datang ke rumah untuk mencari kakaknya itu, tetapi Wan Siang jarang ada di rumah.


Siaw Cing mengira Wan Siang jarang berada di rumah karena mengunjungi Nona Sie, ternyata tidak. Wan Siang jadi seperti buronan yang harus dikejar-kejar Nona Sie jika gadis itu mau menemuinya. Tak heran jika suatu ketika Nona Sie berhubungan dengan laki-laki lain, mungkin butuh hiburan karena seringkali dikecewakan.


“Koh, aku mau menginap di sini malam ini,” ujar Siaw Cing.


“Terserah kamu,” jawab Wan Siang.


“Aku tidak berani tidur sendiri, jadi boleh kan aku menumpang tidur di kamar Si Manis?”


“Boleh Non, saya malah senang,” kata Si Manis, ia betul-betul gembira.


Malam itu Siaw Cing memang tidur satu ranjang dengan Si Manis. Adik Wan Siang itu bukannya tanpa maksud tertentu ingin tidur bersama Si Manis. Siaw Cing punya misi tersendiri. Ia sangat penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi antara gadis Jawa itu dan kakaknya.


Tetapi wanita memang pandai menyimpan isi hatinya. Si Manis tidak tahu kalau Siaw Cing akan menyelidik. Terlebih lagi Si Manis adalah gadis yang polos, sehingga ia akan berkata jujur dan tidak mencurigai maksud Siaw Cing.


“Manis, sebenarnya apa saja yang sudah dilakukan Koh Wan Siang terhadapmu?” Pertanyaan Siaw Cing bagai petir di siang hari, Si Manis terkejut dengan pertanyaan itu, sehingga tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang mendadak jadi khawatir.


“Tidak usah takut, percaya sama aku, rahasiamu akan aman.”


“T...tapi... jangan bilang siapa-siapa ya Non, Non juga jangan kaget.”


“Tidak, aku ini sudah kenal kakakku. Kadang dia memang bikin kaget, tapi aku sudah biasa menghadapinya.”


Si Manis mulai mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya untuk bercerita kepada Siaw Cing. Lagi pula lega rasanya jika ia bisa menceritakan apa saja yang sudah dialaminya.


Kemudian dengan lancar Si Manis menceritakan berbagai peristiwa, dari awal saat Wan Siang mabuk dan tertidur menindih pahanya, hingga kejadian hari sebelumnya saat Wan Siang minta maaf setelah mengerjainya di kamar mandi. Walaupun Siaw Cing bilang tidak akan kaget, tetap saja ia tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.


“Koh Wan Siang itu sepertinya tidak tahu cara bergaul dengan perempuan,” kata Siaw Cing.

__ADS_1


“Begitu ya?”


“Dulu banyak anak perempuan yang kepingin main sama dia, Koh Wan Siang itu kan ganteng dari kecil, banyak yang mau dekat. Tapi dia itu sering bilang, tidak mau main sama anak-anak perempuan itu. Mungkin mereka jadi sedih, terus nangis.”


“Berarti dari dulu dia galak ya Non?”


“Tidak juga, Koh Wan Siang itu kalau sama orang yang disayangnya bisa manis sekali. Tetapi selain manis, juga suka usil. Aku ini sering diusili dia dari dulu. Rambut ditarik, makanan disembunyikan, atau mainanku ditaruh di tempat tinggi. Kadang dia baru mau berhenti kalau aku sudah nangis karena dikerjainya.”


“Tapi dia sayang sama Non kan?”


“Dia sayang sekali sama aku, mungkin bentuk kasih sayangnya itu tidak wajar, semakin sayang semakin ingin mengganggu. Kalau dia tidak sayang, dia abaikan saja orang itu, termasuk tunangannya sendiri.”


“Tuan sudah punya tunangan?”


“Dulu, dia pernah bertunangan dan hampir menikah. Lalu pertunangannya batal, ahh...dia juga sebenarnya tidak suka dan tidak peduli sama tunangannya, cuma mau nuruti keinginan Mama saja.”


“Tuan suka usil kepada saya, apa itu artinya dia sayang sama saya? Tapi kok aneh...”


“Hahahaha.... mungkin. Aku sudah bebas dari keusilannya sejak dia pindah ke sini. Sekarang kamu yang diusili, terus kamu tidak bisa ke mana-mana dan harus menerima nasib. Kasihan kamu Manis.”


Siaw Cing menunjukkan rasa simpatinya, tetapi juga merasa geli.


“Tapi dia usilnya kok seperti itu ya... kan saya jadi malu, dia suruh pijat, atau dia cium, ...aihh,” Manis jadi malu sendiri mengingat semua keisengan Wan Siang, apalagi sesudah diberitahu Siaw Cing apa artinya kalau Wan Siang sudah usil.


Kala Siaw Cing dan Si Manis membicarakan Wan Siang dengan suara selirih mungkin agar yang dibicarakan tidak mendengar, Wan Siang sedang gelisah di tempat tidurnya.


Karena adiknya menginap, dia jadi tidak bisa tidur dengan ditemani Si Manis. Sepertinya ada yang kurang hingga membuatnya tak bisa tidur dengan mudah. Selain itu ia terus teringat kata-kata Sun Kwan, yang terdengar seperti peringatan bagi dirinya.


Wan Siang jadi dipaksa harus memikirkan nasibnya sendiri, karena langkah-langkah hidupnya akan mempengaruhi kehidupan Si Manis. Ia tidak ingin membuat gadis itu menderita dan bernasib tidak jelas jika ia tak segera menentukan arah hidup. Ia harus segera memulai usaha baru, seperti yang pernah diutarakan Paman A Seng.


Usaha baru itu tentu saja belum terpikirkan di benak Wan Siang, tetapi karena tidak tahu itulah, terbersit dalam benaknya niat untuk mencari petunjuk. Ia berencana pergi ke kelenteng, seperti lazimnya orang-orang Tionghoa yang pergi ke tempat itu untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan dalam hidup mereka.


Sun Kwan juga mau tidak mau ikut menginap di rumah Wan Siang, ia tidur di kamar lain sendirian. Di dalam kesendiriannya ia termenung, sembari membayangkan wajah Si Manis yang beredar di benaknya. Gadis itu tampak semakin cantik dan mempesona, tetapi entah kenapa semakin sulit digapai.


Ia berharap Wan Siang masih seperti dulu, yang hanya memikirkan diri sendiri. Karena ketampanan dan kekayaannya, Wan Siang selalu mendapat keistimewaan, yaitu dikejar-kejar oleh perempuan. Lalu dengan seenaknya Wan Siang bisa mengabaikan atau menolak mereka. Jika Wan Siang masih seperti itu, tentu akan lebih mudah bagi Sun Kwan untuk mendapatkan Si Manis.


Tetapi Wan Siang kini sepertinya malah ingin menguasai Si Manis, dan jika kakaknya itu sudah menginginkan sesuatu, maka ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Sun Kwan biasanya tidak pernah memperebutkan sesuatu, sebab seringnya ia akan mendapat benda-benda milik Wan Siang jika kakak tirinya itu sudah bosan dengan benda itu.

__ADS_1


Setiap kali Tuan Liem ingin membelikan pakaian baru untuk Sun Kwan, istrinya selalu melarang dan lebih ingin anak itu memakai saja pakaian bekas Wan Siang. Demikian juga untuk mainan. Sun Kwan sangat sedih memikirkan takdirnya yang selalu menerima apa saja yang sudah menjadi sampah bagi Wan Siang. Tetapi malam itu untuk pertama kalinya ia berharap agar Wan Siang menjadi bosan dengan Si Manis, sehingga gadis itu dapat jatuh ke tangannya. Karena selama Wan Siang menginginkan Si Manis, gadis itu tidak akan pernah akan menjadi miliknya.


Ada satu lagi yang membuat Sun Kwan iri: Wan Siang diurus oleh gadis itu. Sebagai anak yang kehilangan ibu kandung, dan memiliki ibu tiri yang tak mau mengurusnya, Sun Kwan sebenarnya juga haus kasih sayang. Dia mengkhayalkan Si Manis mau mengurusinya...


__ADS_2