Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Oleh-oleh: cerita dari Bengkulu


__ADS_3

Sesuai janji, kali ini saya mau cerita tentang perjalanan ke Bengkulu. Sebelum pergi, karena kita sedang ada di masa pandemic Covid-19, tentunya ada prosedur kesehatan yang harus dilalui, yaitu Rapid test:



Dan ini hasilnya:



Karena sudah terbukti negatif, maka selanjutnya saya melakukan penerbangan ke Bengkulu dengan melalui proses verifikasi rapid test di Bandara terlebih dahulu.



Nah, akhirnya sampai deh di Bengkulu, ini Bandaranya:



Begitu sampai, saya seolah diingatkan kembali bahwa Bengkulu itu adalah kota ditemukannya bunga langka “Raflessia Arnorldi” atau disebut juga bunga bangkai. Tapi kata penduduk setempat, bunga ini cuma ada di dataran tinggi dan tempatnya berpindah-pindah. Lagipula bunga itu jarang muncul di musim hujan, lebih banyak di musim kemarau.



Bandara di Bengkulu bernama Bandara Fatmawati Soekarno, karena Bengkulu adalah kota asal Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno. Begini ceritanya:


Pada tahun 1943 Bung Karno menikahi Fatmawati, dan oleh karena Fatmawati masih berada di Bengkulu, sementara Bung Karno sibuk dengan kegiatan di Jakarta sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), pernikahan itu dilakukan dengan wakil salah seorang kerabat Bung Karno, Opseter Sardjono.


Pada 1 Juni 1943, Fatmawati dengan diantar oleh kedua orang tuanya berangkat ke Jakarta, melalui jalan darat, sejak itu Fatmawati mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.



Sepanjang perjalanan, tentu pemandangannya beda dengan di Jawa. Di Bengkulu masih banyak daerah yang berupa hutan, dan juga terdapat sawah dan kebun-kebun sawit. Tetapi yang agak unik adalah, di Bengkulu ada kawasan yang namanya Kelurahan Semarang. Karena sebagian penduduk yang tinggal di Bengkulu ini adalah para pendatang dari Jawa. Sampai sekarang, Bengkulu juga masih terhitung kawasan yang jarang penduduknya.


Tujuan saya adalah ke kota Arga Makmur, sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil dari Bandara. Nah untuk sampai ke kota Arga Makmur, saya harus melewati daerah perbukitan yang jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Lalu terdapat jembatan yang masih terbuat dari kayu, yang dibawahnya ada aliran sungai yang deras. Untuk dapat melewati jembatan kayu ini, kendaraan harus antree. Karena kondisi jembatan juga sudah tidak begitu kuat dan kokoh, jadi kalo lewat situ pasti deg-deg an donk... :(




Perjalanan menanjak dan berkelok-kelok di daerah perbukitan dengan pemandangan gunung dan hutan juga akan membuat kita pusing kalau atau mabuk darat jika tidak terbiasa.

__ADS_1


Tapi setelah sampai di kota Arga Makmur, kita akan menjumpai langit yang biru, daerah yang tenang, dan udara yang bersih, seperti kota yang tersembunyi di balik gunung gitu.


Kota ini adalah kawasan aman dari Covid, karena memang relatif sepi. Ini adalah foto pemandangan di tengah kotanya:



Jadi berada di kota ini, suasananya seperti lockdown atau PSBB, padahal di sana tidak diberlakukan PSBB. Di dekat bundaran itu ada penginapan yang bernama Hotel Bundaran, di situlah saya menginap selama 3 hari, 2 malam.


Saat pagi hari, ini adalah suasana yang saya potret dari teras kamar hotelnya:


Dengan pemandangan langit biru dan udara yang bersih, saya sempatkan diri untuk minum kopi dan baca buku yang sudah jadi kebiasaan saya sehari-hari. Sangat baik untuk mengusir kepenatan selama hidup di kota, menjadikan jiwa jadi fresh lagi. Maklum, selama pandemi saya tidak bisa piknik ke tempat yang jauh.




Pada hari kedua, saya menjalankan misi menghadiri sebuah pernikahan, yang tentu saja menjalankan protokol kesehatan yang berlaku. Saya memakai kebaya seperti Si Manis hehe...



Awalnya saya pengen bisa nyanyi lagunya Ed Sheeran yang berjudul “perfect” untuk kedua mempelai, tapi melihat selera musik penduduk yang berbeda, jadi saya gak jadi nyanyi, saya dengerin saja orang-orang yang begitu percaya diri menyumbang nyanyi lagu-lagu dhangdut yang mereka bisa.


Ternyata ada lagu dhangdut yang menurut saya menarik, sebenarnya lagu lama, tapi entah kenapa saya baru dengar sekarang, berikut liriknya:


Makan Hati


Penyanyi: Rita Sugiarto


Buat apa tampan kalau makan hati


Lama-lama mati bunuh diri


Biar jelek asal sayang sampai mati


Biar miskin tapi kaya hati


Biar jelek asal sayang

__ADS_1


Biar miskin kaya hati


Apa gunanya tampan kalau jadi pikiran


Apa gunanya istana bagaikan neraka


Daripada ku merana


Hidup selalu menderita


Lebih baik sederhana


Asal hidup bahagia


Sepertinya lagu ini sangat mewakili perasaan penduduk setempat, yang kalau saya lihat memang mereka terlihat damai dan sederhana, tetapi juga bahagia. Karena mereka nampaknya suka menyanyi dan bersenda gurau, serta percaya diri.


Bagi yang mendambakan rasa nostalgia seperti tahun 80 atau 90 an, bisa mampir ke kota ini, karena kondisi alam dan penduduknya mengingatkan saya pada masa lalu, saat masyarakat masih relatif santai, dengan bentang alam yang masih alami. Berasa time traveling.


Pagi harinya saat saya mau pulang terjadi angin kencang, saat itu udaranya juga dingin. Karena itu saya jadi masuk angin.


Setelah menyelesaikan misi, saya siap-siap pulang pada keesokan harinya. Dalam perjalanan pulang ke Bandara, saya sempat lewat Benteng Marlborough, ternyata Bengkulu pernah dijajah Inggris, sehingga ada benteng Inggris di sana.



Selain itu saya juga melewati “Pantai Panjang”, sebenarnya pantai ini adalah Samudera Hindia, laut lepas yang kalau kita melakukan pelayaran terus ke arah barat, maka kita bisa sampai ke Afrika. Saat itu cuaca lagi kurang bagus, jadi saya tidak mampir ke pantai. Sebab udaranya dingin, anginnya cukup kencang dan ombaknya relatif besar.



Tetapi saya sempat mampir ke sebuah rumah makan yang letaknya di seberang pantai yang menghidangkan sajian seafood. Terus terang saja saya suka masakannya, karena bumbunya relatif terasa dan bahan-bahan yang digunakan sangat segar. Seperti ikan, cumi dan udangnya segar-segar, mungkin karena bahannya langsung dibeli dalam kondisi baru ditangkap dari laut.


Sedangkan untuk membeli oleh-oleh khas Bengkulu, bisa dibeli di dekat Museum Fatmawati. Oleh-oleh khas Bengkulu yang saya beli kemarin berupa sirup jeruk Calamansi (sirup ini rasanya segar), madu, kerupuk ikan dan tas rajut, kebetulan saya adalah penggemar tas :)



Segitu dulu ya ceritanya, sebenarnya saya ingin bisa jalan-jalan, tapi karena keterbatasan waktu dan kondisi kesehatan dan cuaca yang tidak memungkinkan waktu itu, makan saya cuma bisa mampir dan lewat sebentar. Untungnya cuaca waktu harus terbang ke Jakarta lagi, walaupun berawan, tapi masih relatif aman untuk dilalui.


__ADS_1


__ADS_2