
Sudah lama Wan Siang tidak dibuat jengkel oleh seseorang. Tetapi kali itu ia tak bisa menahan amarahnya lagi, setelah diberi laporan Paman A Seng bahwa anak buahnya di Temanggung menggelapkan uang yang dipercayakan kepadanya untuk dibayarkan kepada pemilik perkebunan tembakau.
“Kake’ane!* Awas saja kalau ketemu orang itu, aku pengen gebugi sendiri,” ucap Wan Siang diliputi kemarahan yang meluap-luap.
“Aku sendiri tidak tahu orang itu ada di mana.” Paman A Seng ikut kesal.
“Baru kali ini aku kecolongan dan kecolongan ribuan Gulden sekaligus, tapi yang bikin aku kesal, gara-gara itu salah satu pabrik rokok langganan kita juga memutuskan kontrak kerja sama, ini yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga.”
Karena penggelapan uang itu, pemilik perkebunan tidak mengirimkan tembakau sehingga perusahaan Wan Siang tidak bisa mengirimkan tembakau sesuai janjinya kepada salah satu perusahaan rokok langganan Wan Siang.
Pemilik perusahaan rokok itu marah dan memutuskan kontrak kerja sama, alasannya karena tembakau sesuai jenis yang diminta tidak dikirim, maka ia tidak bisa produksi rokok. Karena waktu adalah uang, jika produksi terhambat, maka otomatis ia mengalami kerugian. Kemudian Wan Siang mendatangi pemilik perkebunan di Temanggung.
“Saya kan sudah ambil tembakau dari Anda sejak lama, kenapa hanya karena masalah ini Anda tidak mau beri tahu saya dan diam-diam tidak mengirim barang?” tanya Wan Siang .
“Kalau saya dari dulu sistemnya, ada uang barang dikirim, kalau tidak ada uang, ya saya tidak bisa kirim. Anda juga tahu itu,” kata pemilik perkebunan.
“Tapi kenapa Anda tidak mau cari tahu dulu masalahnya, biasanya kami bayar tepat waktu. Baru sekali ini saja terlambat, itu pun bukan karena maksud saya mengulur waktu. Saya sudah keluarkan uang, tapi digelapkan anak buah saya, jadi saya tidak ada maksud menipu. Saya malah yang ditipu.”
“Itu urusan Anda dengan anak buah, urusan saya dengan perkebunan saya, saya juga butuh uang untuk membayar buruh tani dan sebagainya.”
“Kalau Anda tidak mau tahu masalah pelanggan Anda, ya... saya juga malas bekerja sama dengan Anda lagi. Lebih baik saya cari pemilik perkebunan lain yang lebih enak diajak kerja sama dan pengertian kepada para pelanggannya,” pungkas Wan Siang.
Karena itulah Wan Siang jadi pecah kongsi dengan pemilik perkebunan yang sudah lama bekerja sama dengannya. Kemudian dia pulang dengan membawa perasaan yang tidak menyenangkan. Baru kali itu ia dapat masalah besar dalam usahanya.
“Koh... saya tahu Engkoh sedang marah, tapi Engkoh jangan larut dengan masalah itu terus. Mari kita pikirkan bagaimana cara menyelesaikannya,” kata Si Manis.
“Mau tidak mau aku harus cari perkebunan baru di Temanggung untuk diajak kerja sama. Apalagi persediaan tembakau di gudang juga semakin menipis, aku takut tidak bisa ngirim barang ke pabrik rokok.”
“Kalau begitu, sebaiknya besok Engkoh mulai mencari pemilik perkebunan untuk diajak kerja sama. Biar gudang kita tidak sampai kosong.”
“Sebenarnya aku tidak suka ninggal kamu dan anak kita yang masih ada di dalam perut, tapi urusan di Temanggung juga harus segera diselesaikan, untuk kelangsungan usaha kita.”
Wan Siang dan Paman A Seng lantas gerak cepat untuk mengatasi masalah perusahaan, mereka seperti berkejar-kejaran dengan waktu. Untunglah karena Paman A Seng sudah berpengalaman di Temanggung, maka ia tak susah mendapatkan informasi tentang beberapa perkebunan lain yang mungkin bisa diajak kerja sama dan menanam tembakau yang mutunya tidak kalah dengan perkebunan yang baru pecah kongsi dengan Wan Siang.
“Aku tidak enak sama kamu, waktu itu aku sakit dan tidak bisa ke Temanggung, lalu mempercayakan uang itu sama anak buahku, tapi kok ya dia kepikiran untuk menggelapkan. Padahal aku sudah mulai percaya sama dia,” kata Paman A Seng.
“Kadang orang jahat memang nunggu kesempatan, Paman. Saya tidak salahkan Paman yang memang sedang sakit waktu itu. Yang aku salahkan adalah penjahat itu.”
“Terima kasih karena kamu tidak menyalahkan Paman. Sebagai gantinya, Paman sudah ketemu perkebunan baru. Kebetulan yang ini bisa dibilang perkebunan bagus.”
Paman A Seng dan Wan Siang akhirnya pergi berdua ke Temanggung, naik kereta api yang akhirnya berhenti di stasiun bernama Halte Temanggung. Di atas dua rel dibangun kanopi besar, dan di samping peron satu didirikan gedung lobi dengan fasilitas yang memiliki gaya arsitektur Eropa yang cantik.
__ADS_1
Lalu mereka meneruskan perjalanan dengan kereta kuda dan berhenti di satu rumah berarsitektur Belanda dengan cat putih, yang memiliki halaman luas. Di rumah itulah orang biasa melakukan pembicaraan yang berkaitan dengan perkebunan, sebab tak jauh dari rumah itu terdapat perkebunan tembakau yang cukup besar.
Seorang nona Belanda berambut pirang kebetulan ada di teras rumah dan melihat kedatangan Wan Siang dan Paman A Seng. Ia lantas berlari ke dalam rumah dan mencari seseorang.
“Mama... ada tamu!” serunya.
Seorang perempuan Jawa setengah baya yang memakai kebaya berwarna hijau lengkap dengan perhiasan dan tusuk konde bermata batu zamrud keluar dari kamar memenuhi panggilan putrinya.
“Ya Elsa...”
Sebelum datang, Paman A Seng memang sudah membuat janji bertemu terlebih dahulu, tanpa menyebutkan bahwa Wan Siang akan ikut serta.
Ketika perempuan Jawa itu muncul, sontak Wan Siang terkejut. Karena Wan Siang tak bisa melupakannya.
“Tini....”
“Darimana Anda tahu nama saya? Sekarang ini saya lebih dikenal sebagai Nyonya Willem, tapi rupanya Anda tahu nama gadis saya.”
“Apakah Anda tidak ingat dengan seorang anak yang dulu berumur 7 tahun saat Anda terakhir kali meninggalkannya?”
“A... apakah... kau Tuan Muda Liem? Wan Siang?”
Karena Wan Siang dulu masih kecil ketika mereka berpisah, Tini tidak mengenali Wan Siang saat sudah dewasa.
Tini teringat kembali peristiwa pengusiran yang dilakukan Ny. Liem, ia masih saja bersedih jika mengingatnya. Tapi perasaannya juga sangat bahagia karena dapat bertemu dengan Wan Siang lagi, seorang anak laki-laki yang dulu amat disayanginya.
“Aku juga tak percaya jika Anda mencuri perhiasan Mama. Waktu itu Mama cemburu karena kedekatan kita.”
“Syukurlah... sekarang, apa yang bisa kubantu, Wan Siang?”
Wan Siang lantas menceritakan tentang masalah usahanya, dan Tini dengan senang hati mau bekerja sama dengannya. Dengan janji akan memberikan harga bagus, di bawah rata-rata harga jual, tetapi akan memberikan tembakau dengan kualitas terbaik yang bisa dihasilkan perkebunannya.
“Lama tidak bertemu, bagaimana kehidupanmu sekarang?” tanya Tini.
“Sekarang bagaimana saya harus memanggil Anda? Nyonya Tini ataukah... Nyonya Willem?”
“Panggil aku Nyonya Willem, sebab aku sekarang sudah lama tak dipanggil sebagai Tini. Lagipula Tuan Willem menikahiku secara sah, jadi Nyonya Willem, adalah panggilan yang cocok untukku sekarang ini,” jawab Tini.
“Sekarang saya sudah menikah, dengan seorang perempuan Jawa, kini dia tengah mengandung anak saya,” Wan Siang juga menjelaskan hidupnya.
Pernyataan Wan Siang ini serta merta membuat Tini mengingat kata-kata terakhirnya kepada Ny. Liem yang dulu berbuat tidak adil kepadanya. Tetapi tampaknya kata-kata itu kini bukan menjadi kutukan, melainkan berkah bagi Wan Siang.
__ADS_1
“Apa kamu bahagia dengan menikahinya?”
“Saya sangat bahagia, Nyonya. Dia sangat baik dan sayang kepadaku. Karena dia hidupku jadi terarah.”
“Aku sangat senang... kau tahu, selama puluhan tahun ini aku selalu memikirkan masa depanmu. Karena dulu aku berkata kepada Nyonya Liem, bahwa kelak anak laki-lakinya akan menikah dengan orang yang dianggapnya rendah. Waktu itu karena sakit hati, kata-kata itu terlontar dari mulutku.”
“Anda tidak perlu merasa bersalah Nyonya, karena rendah bagi mamaku, belum tentu rendah bagi orang lain. Yang buruk di mata seseorang, belum tentu buruk di mata yang lain.”
“Apakah Mamamu merestui pernikahan kalian?”
“Tidak, ia sempat menampar dan mengusir istriku. Karena itulah kami kawin lari dan tinggal di Kudus, jauh dari mama.”
“Aku turut prihatin. Tapi... aku juga senang karena kau bisa hidup bahagia dengan istrimu sekarang. Jika ada waktu, aku akan mengunjungi rumah kalian di Kudus.”
“Saya akan merasa senang jika Nyonya Willem mau mengunjungi kami.”
Pertemuan itu sangatlah berarti bagi Tini dan Wan Siang. Mereka dipertemukan lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik dibanding ketika mereka berpisah. Tini lalu menceritakan kisah hidupnya setelah diusir Ny. Liem kepada Wan Siang.
***
Setelah diusir oleh Ny. Liem, Tini terpaksa mencari pekerjaan. Seorang tetangganya memberi informasi bahwa di Temanggung, seorang tuan Belanda yang istrinya baru saja meninggal, membutuhkan seseorang sebagai pengasuh untuk anak perempuannya yang bernama Elsa.
Pengalaman Tini sebagai pengasuh anak di keluarga Liem membuatnya diterima bekerja di rumah Tuan Willem. Karena kasih sayangnya yang besar kepada Elsa, anak perempuan itu menyayanginya juga. Dan Tn. Willem juga pada akhirnya jatuh cinta kepada Tini.
Tuan Willem pria yang sangat baik hati, membuat Tini bersedia menerima pinangannya sebagai istri sah. Karena istri pertama Tn. Willem sudah meninggal, maka tak sulit bagi Tn. Willem untuk menjadikan Tini istri sahnya. Mereka menikah saat Tini berumur 32 tahun, sedangkan Tn. Willem 45 tahun.
Ketika Tn. Willem jatuh sakit, ia meminta Tini menggantikannya untuk mengurus perkebunan tembakau, dan juga Elsa, putri semata wayangnya. Sebab Tini tak pernah hamil sepanjang menikah dengan Tn. Willem. Walaupun begitu, Tn. Willem tak pernah mempermasalahkan itu dan cukup puas dengan hanya memiliki Elsa.
Tuan Willem akhirnya meninggal saat berusia 60 tahun dan mewariskan hartanya untuk Tini dan anak perempuannya. Tetapi rumah dan perkebunan tembakau sepenuhnya menjadi milik Tini. Elsa mewarisi sejumlah uang yang disimpan di bank, yang bisa dicairkan ketika ia memutuskan untuk menikah.
Banyak sekali pemuda yang ingin menikah dengan Elsa, tetapi gadis itu selalu meminta pendapat ibu tirinya dulu. Tidak hanya pemuda kaya, banyak gadis kaya yang jadi incaran para pemuda yang ingin memanfaatkannya. Sehingga Tini perlu melindungi anak tiri yang disayanginya itu dari para pemuda yang hanya mengincar hartanya saja.
Tuan Willem tahu besarnya kasih sayang Tini untuk putrinya, hingga ia percaya, wanita itu akan melindunginya seperti anak sendiri.
Keterangan:
Kake'ane: kata umpatan khas Semarang.
Kak Otor menyapa:
Sepertinya kisah ini sudah menjelang ending , saya harap para Readers terus semangat membaca novel ini. Dan dalam kesempatan hari ini, Kak Otor mengucapkan : selamat hari Ibu.
__ADS_1
Kebetulan novel Kak Otor ini juga membahas berbagai permasalahan dengan orang tua, terutama Ibu. Baik soal ibu kandung maupun ibu tiri. Buat Kak Otor tidak masalah apapun status ibu itu, kandung ataukah tiri, yang penting seorang ibu dapat memberikan kasih sayang selayaknya seorang ibu yang baik terhadap keluarganya.
Jadi tetap semangat untuk menyayangi ibu kita, dan bagi yang sudah menjadi seorang ibu, janganlah lelah menyayangi dan mengasihi keluarga kita. Sebab harta yang paling berharga adalah keluarga :)