Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 61 Hari yang baik


__ADS_3

Pernikahan Sun Kwan akan diadakan sebentar lagi. Seminggu sebelumnya, Wan Siang dan Si Manis pulang ke Semarang. Seperti yang sudah dikatakan Ny. Liem, rumah Wan Siang yang dulu pernah ditinggalinya, kini telah menjadi miliknya dan Si Manis.


Wan Siang dan Si Manis berjalan menuju pintu rumah itu lagi bersama-sama. Dulu Si Manis pertama kali dibawa ke rumah itu dalam keadaan sedih, dan berjalan di belakang Wan Siang. Kini ia berjalan bersebelahan dengan lelaki itu dengan wajah tersenyum dan hati yang bahagia.


Pelayan berbaris di depan pintu menyambut kedatangan sepasang suami istri itu, seolah tak pernah ada sesuatu hal yang terjadi. Mereka bersyukur bisa kembali bekerja, setelah sebelumnya dirumahkan dan digantikan oleh seorang penjaga rumah yang didatangkan dari rumah Ny. Liem.


“Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Kami senang bisa bertemu lagi dengan Anda berdua,” seorang kepala pelayan menyambut Wan Siang dan Si Manis. Pelayan itu diberitahu bahwa mereka berdua sudah menikah secara sah.


Ia sudah tak perlu lagi bertanya perihal di manakah Si Manis akan tidur. Sudah pasti Si Manis akan tidur satu kamar dengan Wan Siang. Sehingga kamar Wan Siang dipersiapkan begitu rupa, menyerupai kamar pengantin. Terdapat hiasan bunga di mana-mana dengan seprei warna merah, seolah itu adalah ranjang pengantin.


“Nyonya Liem yang mempersiapkan ini semua, semoga Tuan dan Nyonya bisa selalu berbahagia saat tinggal di rumah ini,” ujar kepala pembantu menjelaskan.


Wan Siang melirik ke arah Si Manis, yang dilirik pipinya bersemu merah. Si Manis tak menyangka kalau pada akhirnya ia bisa kembali lagi ke rumah itu sebagai istri Wan Siang. Apalagi kamar Wan Siang yang kini juga menjadi kamarnya itu telah dihias layaknya kamar pengantin. Pasti Wan Siang tidak akan tinggal diam.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar itu dengan perasaan penuh suka cita layaknya pengantin baru. Wan Siang yang sangat rindu dengan rumah itu akhirnya merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Si Manis pelan-pelan duduk di tepi ranjang.


“Kok duduk di situ, sini berbaring di sebelahku,” perintah Wan Siang.


“Aduh, saya jadi ingat waktu pertama kali datang ke sini. Dulu saya ke sini masih seperti anak kecil, sekarang ke sini lagi sudah hamil anaknya Engkoh.”


“Aku juga tidak menyangka. Dulu kan aku tidak suka sama kamu, sekarang kok malah jadi suamimu.” Wan Siang berkata seperti itu sambil menempelkan diri di sisi Si Manis.


“Jodoh itu rahasia Tuhan Koh. Apa yang kita suka bisa jadi yang kita benci. Apa yang kita tidak suka, bisa jadi yang kita cintai.”


Wan Siang memperhatikan sekeliling kamarnya, seprei dan berbagai hiasan bunga yang kebanyakan merah, membuat suasana menjadi begitu syahdu.


“Manis, dulu kan kita malam pertamanya di hotel. Rasanya malam pertama belum sempurna kalau kamarnya tidak dihias seperti kamar ini. Ini baru yang namanya kamar pengantin.”


Wan Siang mulai memancing-mancing Si Manis. Perempuan itu mulai ikut memperhatikan kamar mereka itu.


“Mamanya Engkoh ada-ada saja, menghias kamar ini seperti kita pengantin baru saja.”


“Mungkin Mama ingin menebus kesalahannya kepada kita, dan ingin kita mengulang lagi masa-masa pengantin baru. Jadi... jangan disia-siakan.”


Kata-kata Wan Siang itu diikuti dengan belaian tangannya ke pundak Si Manis. Mau tidak mau Si Manis jadi gugup dibuatnya, seperti gadis yang baru saja menikah.

__ADS_1


Wang Siang mengulang perbuatannya dulu, saat malam pertama di hotel bersama Si Manis. Tetapi kali itu dia melakukannya dengan lebih hati-hati karena istrinya sedang hamil. Si Manis tidak merasakan sakit sama sekali, tetapi merasa kenikmatan lahir dan batin, karena sudah tidak ada lagi masalah yang harus mereka hadapi. Keluarga Liem sudah bisa menerima dirinya.


Perasaan Wan Siang juga jauh lebih bahagia dan tenang setelah memperistri Si Manis dan juga mendapatkan kembali kedudukan sebagai anak sulung keluarga Liem dan juga rumah itu. Kebahagiaannya segera menjadi lengkap dengan calon jabang bayi yang akan dilahirkan oleh Si Manis. Cinta yang mereka perjuangkan akhirnya telah dicapai dengan sempurna.


***


Pesta pernikahan Sun Kwan dan Nona Hu begitu meriah dan gegap gempita, mereka berdua menjadi dua insan yang paling berbahagia di hari itu, seperti raja dan ratu kerajaan Tiongkok. Nona Hu sangat cantik dengan setelan baju pengantin warna merah, begitu pula Sun Kwan yang memakai baju pengantin warna senada.


Pertama-tama Sun Kwan dan Nona Hu melakukan penghormatan kepada Tuhan, alam, leluhur, orangtua, dan satu sama lain. Upacara sembahyang dilakukan di rumah, lalu dilanjutkan dengan sembahyang di kelenteng Gang Lombok dan kembali lagi di rumah untuk melakukan penghormatan kepada orang tua.


Setelah itu diadakan pesta. Pada acara pesta pernikahan Sun Kwan, banyak sekali tamu yang datang. Kebanyakan adalah teman dan keluarga besar kedua mempelai. Di sana juga hadir Wan Siang dan Si Manis sebagai sepasang suami istri. Ny. Liem sudah tidak ambil pusing dengan pandangan orang-orang mengenai menantu perempuannya.


“Aku tidak tahu kalau Wan Siang sudah menikah,” ujar salah satu teman Ny. Liem.


“Iya, mereka sudah menikah secara sah dan tinggal di Kudus. Wan Siang punya usaha di sana,” jawab Ny. Liem santai.


“Istrinya orang Jawa ya?”


“Iya, Wan Siang mencintainya dan dia sekarang adalah anak perempuanku juga.”


“Sungguh mengejutkan, tapi kalau sudah jodoh apa mau dikata?”


Tini dan anak perempuannya juga menghadiri pesta pernikahan Sun Kwan. Ny. Liem telah membersihkan namanya di hadapan semua orang yang pernah mengetahui tentang kejadian antara Tini dan Ny. Liem dahulu. Terutama kepada para pembantu lama yang sempat bekerja bersama-sama dengan Tini di rumah keluarga Liem.


Wan Siang telah berpasangan dengan Si Manis, Sun Kwan telah berbahagia dengan Nona Hu. Tinggallah Siaw Cing duduk seorang diri, kala semua orang sedang sibuk. Anak bungsu keluarga Liem itu adalah saksi jatuh bangunnya seluruh anggota keluarga Liem. Ia dari tadi tersenyum dan ikut berbahagia dengan keadaan yang ada.


Siaw Cing tak sadar kalau saat sedang tersenyum seorang diri itu ada seorang lelaki Tionghoa berpakaian ala Barat yang sedang memperhatikannya. Laki-laki itu anak salah seorang teman Tuan Liem. Namanya Antony Gwie. Kuliah di Amsterdam membuatnya memiliki nama panggilan kebarat-baratan. Ia baru saja menyelesaikan kuliah dan pulang ke Hindia Belanda untuk membantu usaha keluarganya di Semarang, pabrik rokok dengan merk dagang “Kapal Lajar”.


Siaw Cing yang sedang melamun dan tersenyum sendiri terkejut saat Antony Gwie mendekatinya. Budaya Eropa yang mendarah daging membuat Antony menjadi pribadi yang percaya diri dan berani mengambil inisiatif untuk berkenalan dengan Siaw Cing.


“Kamu sendirian, boleh aku temani?” Tanyanya.


Siaw Cing yang selama ini tak pernah didekati oleh seorang lelaki tentu saja terkejut. Tetapi karena Antony dirasa sopan, maka Siaw Cing mau memberi kesempatan baginya.


“Siapa namamu?” tanya Antony.

__ADS_1


“Eh...aku Liem Siaw Cing, adik mempelai pria.”


“Namaku Antony Gwie. Aku anak pertama keluarga Gwie. Senang bertemu denganmu.”


Siaw Cing hanya tersenyum. Ia tidak begitu paham tentang latar belakang keluarga Gwie, karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan juga keluarga. Ia bukanlah anak yang pandai bergaul dan temannya bisa dihitung dengan jari.


Tuan muda Gwie tidak ingin itu menjadi pertemuan terakhirnya dengan Siaw Cing. Ia terkesan dengan wajah manis dan kepolosan yang terpancar dari seorang Siaw Cing.


Gadis itu bahkan tidak bertanya tentang apa pekerjaan Antony. Mereka juga tak punya kesempatan berbicara lebih lama karena ayah Antony memanggil pemuda itu dan Siaw Cing setelah itu didekati oleh teman-teman perempuannya. Pada saat itu Siaw Cing belumlah menganggap Antony sebagai orang yang penting bagi kehidupannya.


***


Setelah acara resepsi yang melelahkan bagi Sun Kwan dan Nona Hu, akhirnya mereka bisa beristirahat di atas ranjang pengantin. Nona Hu masih mengenakan baju pengantinnya, begitu pula Sun Kwan. Mereka berdua saling berpandangan karena tahu, sebentar lagi pakaian mereka haruslah dilepas dan diganti dengan baju yang nyaman untuk tidur.


Namun karena itu malam pertama mereka menjadi suami istri, maka mereka tak bisa begitu saja menutup mata dan tidur, ada hal yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.


“Sun Kwan, bukankah kita harus ganti pakaian?” tanya Nona Hu.


“Iya, pakaian ini tidak nyaman buat tidur. Ayo kita lepas saja,” ujar Sun Kwan.


Sadar bahwa mereka harus melepas pakaian di hadapan pasangannya membuat Sun Kwan dan Nona Hu merona.


“Tidak, bukankah harusnya kau yang melepas pakaian mempelai wanita, dan...”Nona Hu memancing.


“Iya, itu... eh... apa kamu sudah siap?”


“Coba sekarang kamu jangan malu-malu lagi di hadapanku, lakukan sesuatu sesukamu.”


Sun Kwan awalnya ragu-ragu untuk membuka baju pengantin Nona Hu. Tetapi karena gadis itu memberikan semangat kepadanya, maka Sun Kwan akhirnya dengan lancar melakukannya. Melihat tubuh wanita yang polos tanpa sehelai kain pun, membuat Sun Kwan amat gugup dan juga takjub.


Untungnya Sun Kwan punya istri yang pemberani, sehingga Nona Hu dengan lancar melakukan hal yang serupa pada Sun Kwan. Bahkan dengan inisiatif sendiri, wanita itu kini telah dengan lancar melancarkan cumbuannya. Sun Kwan mau tidak mau menjadi larut dalam cumbuan Nona Hu dan bisa mengimbangi hasratnya. Mereka berdua melakukan kegiatan malam pertama tanpa kesulitan yang berarti.


Kini kebahagiaan telah lengkap, dan kedua Tuan Muda Liem telah resmi menjadi suami bagi istri-istri mereka dengan liku-liku perjuangan masing-masing. Kini yang tersisa tinggal Siaw Cing, sang Nona Muda Liem.


Kak Otor Menyapa:

__ADS_1


Hi... kisah Tuan Muda Liem sepertinya harus diakhiri sampai di sini, karena semua Tuan Muda Liem sudah berbahagia. Tetapi saya tahu banyak pembaca yang masih bertanya-tanya, tentang nasib Siaw Cing dan juga tentang kelahiran anak Si Manis.


Tentunya itu juga akan saya ceritakan, nanti sebagai bonus. Jadi... sampai jumpa di bab-bab bonus chapter ya. Ikuti terus kisah Tuan Muda Liem yang di bonus chapter sedikit bergeser dengan Nona Muda Liem yaitu Siaw Cing sebagai tokoh utama.


__ADS_2