Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
13


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Seperti biasanya tidak ada percakapan di dalam mobil. Jeff masih berkutat dengan pekerjaannya, sementara Jovita masih cemberut karena kejadian tadi. Jeff melihat Jovita, lalu ia menutup laptopnya.


Jeff : “Apa kau masih marah sayang?”


Jovita hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Jeff. Ia membuang muka terhadap Jeff. Namun, Jeff tidak menyerah dengan begitu saja. Ia mendekati Jovita dan mengelus kepala Jovita.


Jeff : “Kenapa kau marah padaku sayang? Aku melakukan itu bukan untuk diriku sendiri, tapi untukmu juga.”


Jovita : “Aku nggak peduli.”


Jeff : “Kau imut sekali jika sedang marah.”


Jovita hanya diam, ia masih tetap pada ekspresi dan posisi yang sama.


Jeff : “Dengarkan aku. Aku bukannya ingin mengekangmu tapi aku ingin melindungimu. Ini tidak akan lama sayang, hanya satu bulan sayang. Satu bulan saja.”


Jovita : “Ya ya, tapi caramu seperti mengurungku di penjara bawah tanah.”


Jeff : “Apakah rumahku seperti penjara bawah tanah?”


Jovita : “Hm.”


Jeff : “Ya ampun sayang, banyak orang yang mengatakan jika rumahku adalah istana. Tapi kau mengatakan jika rumahku adalah penjara bawah tanah? Hahahaha...”


Jovita hanya diam, ia tidak memedulikan Jeff.


Jeff : “Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya penjara bawah tanah?”

__ADS_1


Jovita : “Tidak. Tapi sekarang aku tengah ada di penjara bawah tanah.”


Jeff : “Sekarang kau ada di mobil sayang, bukan penjara bawah tanah.”


Jovita : “Setelah ini pasti aku akan segera pergi ke penjara bawah tanah berbentuk istana.”


Jeff : “Sudahlah sayang, jangan mengacuhkanku terus.”


Ryan mematikan mesin mobil, ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Jeff. Jeff turun dari mobil, ia membukakan pintu untuk Jovita.


Jeff dan Jovita masuk ke restoran bintang lima dan saat tiba di pintu masuk, sudah ada dua pelayan yang mengantar Jeff ke mejanya. Jeff dan Jovita duduk di meja yang sudah disiapkan untuk mereka berdua.


Seorang pelayan menuangkan anggur pada gelas keduanya dan Jeff langsung meminum miliknya. Tak lama hidangan steak daging telah datang. Jovita langsung menyantap makanannya.


Jeff : “Apa kau menyukainya sayang?”


Jovita : “Hm.”


Jovita : “Hm.”


Jeff : “Sayang...”


Jovita : “Berhenti memanggilku sayang. Dan cepat habiskan makananmu.”


Sambil berbisik.


Jeff : “Jangan terlalu cepat...aku masih ingin bersamamu.”

__ADS_1


Jovita hanya memutar bola matanya, lalu ia melanjutkan menghabiskan makanannya. Dalam selang beberapa menit, Jovita sudah menghabiskan makanannya.


Jeff : “Kau itu kelaparan atau memang doyan?”


Jovita : “Keduanya.”


Jeff menggeleng-geleng kepalanya, lalu ia menyuapkan makanannya pada Jovita. Dan Jovita langsung melahapnya.


Jeff : “Apa kau masih lapar?”


Jovita : “Hm.”


Jeff memanggil seorang pelayan yang berdiri di salah satu pintu. Ia mengatakan untuk memberikan makanan terbaik dengan segera. Dan tak lama kemudian, makanan pun datang.


Jovita yang melihat banyak makanan yang terhidang tidak dapat menahan air liurnya. Ia menatap Jeff seperti seekor kucing yang tengah kelaparan. Dan Jeff hanya mengangguk tanda setuju.


Jovita segera menghabiskan makanan yang terhidang. Ia memakan semuanya sampai Jeff tidak dapat mencicipi makanan yang baru saja dihidangkan.


Jeff : “Kau sepertinya memang benar-benar kelaparan ya? Apa Sam tidak memberikan makanan dengan baik padamu?”


Jovita : “Aku memang sangat kelaparan dan semua makanan ini membuatku ingin memakan semuanya.”


Jovita sudah menghabiskan makanannya sampai tuntas. Ia bersandar di kursi sambil menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan.


Jeff : “Kau sangat luar biasa, sayang.”


Jeff tersenyum lebar pada Jovita, Jovita hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2