Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
48


__ADS_3

Semua orang menoleh pada Jeff dan David hanya tersenyum puas melihat keadaan itu.


Ryan : “Pak...”


Robert : “Ada apa, Tuan Jeff?”


Jeff : “Maafkan aku Tuan Robert, karena membuat acaramu kacau.”


Robert : “Sepertinya ada masalah antara kau dengan David, apa benar?”


Jeff : “Hanya sedikit masalah, tapi segera akanku selesaikan dengan baik masalah itu, di luar acara.”


Robert : “Oh, baiklah.”


Jeff hanya mengangguk dan kembali duduk. Ia kembali pada mode sebelumnya. Jovita memegang tangan Jeff dan mengelusnya dengan lembut. Ia berbisik pada Jeff.


Jovita : “Jangan mudah terpancing amarahmu. Aku sering mengalami hal seperti itu, jadi jangan khawatir.”


Jeff mengangguk saja dan acara kembali tenang. Sedangkan Ryan menghela napas lega, karena masalah akan diselesaikan di luar acara. Tapi ia mulai sadar jika ia akan terlibat dalam penyelesaian masalah nantinya.


Setelah acara selesai, semua orang dapat berkeliling pulau atau kembali ke kamar masing-masing. Jeff meminta Ryan untuk masuk ke kamarnya dan Jovita disuruh untuk berkeliling di sekitar vila saja atau di restoran.


Jeff : “APAAN DIA ITU TADI?? Apa dia ingin aku terlihat memalukan di depan banyak orang? Sungguh aku tam menduga jika ia mengatakan hal serendah itu pada Jovita. Apakah aku salah jika aku selalu membawa wanita yang berbeda di setiap pesta? Bukankah lebih baik jika aku membawa pasangan dari pada dia hanya sendirian bersama dengan asistennya. Huh...”


Ryan : “Tapi tuan, jika...dipikir-pikir...memang ada benarnya tentang perkataan...”


Jeff : “Kau sudah bosan bekerja denganku?”

__ADS_1


Potong Jeff.


Ryan : “Tidak, tuan.”


Jeff : “Susun rencana untuk membalas perkataannya.”


Ryan : “Rencana apa, tuan?”


Jeff : “Kau pikirkanlah, nanti jika sudah ada, baru kasih tahu aku.”


Ryan : “...baik, tuan...”


Dengan lesu.


Selanjutnya, Jeff dan Ryan tengah membahas perusahaan dan perkembangannya.


Setelah acara selesai, Jovita diminta Jeff untuk berkeliling sendiri atau pergi ke restoran. Ia memutuskan untuk pergi ke restoran yang ada di dekat vila. Ia sedikit menggerutu pada Jeff, karena ia tidak menepati janjinya.


Jovita : “Dasar, dia itu terbuat dari apa, sih? Saat minum di geladak, ia bilang akan menemaniku ke mana pun aku pergi. Dan membiarkan Ryan untuk berlibur sendirian, sekarang buktinya, dia malah menghilang bersama dengan Ryan entah ke mana. Lama-lama sebal, deh.”


Seorang pelayan mendekatinya dan menanyakan pesanan Jovita. Jovita hanya bilang ingin minum jus jeruk saja. Pelayan itu pergi dan kembali dengan pesanan Jovita.


Jovita : “Kemana sih dia itu? Katanya aku harus bersamanya dan menempel dengannya seperti permen karet, sekarang malah menghilang tanpa jejak. Menyuruhku keliling sendiri, tapi nggak boleh keluar daerah vila, ke restoran hanya boleh restoran vila. Menyebalkan, dasar tukang ngatur!”


Jovita terus mengumpat tentang Jeff dan menggerutu sendirian sambil meminum jusnya perlahan. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Jovita berbalik sambil tersenyum, lalu senyumnya itu memudar karena orang yang di pikirannya dengan ada yang di depannya berbeda. Orang yang ada di depannya adalah Tuan Cerewet atau David Walker.


David : “Halo, nona cantik.”

__ADS_1


Jovita : “Oh, Tuan cerewet.”


Jawabnya dengan datar sambil menyeruput jusnya.


David : “Bolehkah aku duduk di sini?


Sambil menarik kursi yang ada di depan Jovita.


Jovita : “Hm.”


David duduk lalu memanggil seorang pelayan. Dan ia memesan minuman yang sama dengan Jovita. Pelayan itu pergi dari sana.


David : “Kenapa kau sendirian, nona cantik?”


Jovita : “Haruskah aku menjawab pertanyaanmu, tuan cerewet?”


David : “Ayolah, jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil aku David...atau...Walker, aku akan lebih berterima kasih.”


Jovita : “Maaf ya, tuan cerewet, bukannya aku tidak mau memanggilmu dengan namamu, tapi...aku merasa jika Anda lebih cocok di panggil dengan panggilan ‘tuan cerewet’”


David : “Kau itu...”


David menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, ia mencoba bersabar. Kemudian ia tersenyum manis pada Jovita, jikalau ada wanita di sekitar David, mungkin wanita itu akan meleleh karena ketampanan David yang tersenyum. Namun, berbeda dengan Jovita, ia terlihat cuek bahkan tidak peduli.


David : “Baiklah, aku terima kau memanggilku dengan sebutan ‘tuan cerewet’ tapi aku akan menganggap jika sebutan yang kau berikan padaku adalah rasa kasih sayang yang kau berikan padaku.”


Jeff : “DAVIIIDD!!!”

__ADS_1


Jeff berteriak memanggil nama David, hingga membuat semua pengunjung menoleh kepadanya dan saling berbisik-bisik. Jovita yang mendengar teriakan Jeff dari belakangnya langsung terkejut dan menoleh pada Jeff. David yang melihat Jeff, hanya tersenyum indah dan bahagia.


__ADS_2