Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
59


__ADS_3

Jovita menerima pesan dari orang yang tidak dikenal. Ia harus pergi ke kafe hungry mom esok harinya pukul 10 pagi. Ia tidak tahu siapa yang telah mengirimkannya pesan. Jadi dia berencana tidak akan datang.


Namun, beberapa menit kemudian si pengirim pesan mengirimkan pesan lagi. Tertulis ‘ini tentang kejadian tadi malam di kapal pesiar’. Jovita berpikir jika pesan itu berasal dari David. Ia berubah pikiran untuk tidak menemui si pengirim pesan itu.


Sementara Jeff tetap memikirkan perubahan perilaku Jovita. Ia tetap kepikiran tentang perubahan sikap Jovita meskipun ia sudah fokus pada pekerjaannya. Ia mulai muak dengan pekerjaannya karena sejak selesai makan hingga sekerang, pikirannya tetap sama dan itu membuat dirinya tidak fokus.


Jeff memutuskan untuk berbicara dengan Jovita. Ia mengetuk pintu dan dengan cepat pintu itu terbuka.


Jovita : “Ada apa?”


Jeff : “Apa aku boleh masuk? Ada yang ingin aku bicarakan.”


Jeff masuk ke kamar Jovita, ia duduk di sofa dan Jovita duduk di sampingnya.


Jovita : “Ingin bicara tentang apa?”


Jeff : “Kenapa seharian ini kau hanya ada di kamar? Apa kau sakit?”


Jovita : “Tidak...aku hanya kelelahan.”


Jeff : “Benarkah? Aku lihat dari kemarin kau terus melamun juga, apa ada masalah?”


Jovita : “Tidak. Cuma merasa tidak pantas bersamamu saja.”


Jeff : “Hei, harusnya jika kau merasa seperti itu sejak kita di kapal, bukan sekarang ini.”


Jovita : “Hm...benar juga.”


Jeff : “Apa hanya karena itu kau terus melamun?”


Jovita : “Mm...ya.”


Jeff : “Sepertinya aku yang terlalu khawatir berlebihan. Baiklah...aku akan keluar, kau busa istirahat dengan tenang sekarang.”


Jovita : “Hm...”


Jeff keluar dari kamar dan masuk ke kamarnya. Ia langsung merebahkan tubuhnya dan pergi ke alam mimpi. Jovita juga mulai merebahkan tubuhnya dan pergi ke alam mimpi.


###


Keesokan harinya, Jovita sudah rapi dan cantik seperti biasanya. Ia berniat untuk meraih hati Jeff agar ia bisa keluar menemui si pengirim pesan. Ia keluar dari kamarnya menuju kamar Jeff lalu mengetuk pintu itu.


Jovita : “Jeff...”


Ketukan pertama...


Jovita : “Jeff...”

__ADS_1


Ketukan kedua...


Jovita akan mengetuk pintu lagi, namun Jeff membuka pintu itu.


Jeff : “Hooaam...ada apa?”


Jovita : “Ini sudah pagi, kau tidak ke kantor?”


Jeff : “Aku ingin pergi nanti siang saja.”


Jovita : “He? Kenapa?”


Jeff : “Aku malas datang pagi-pagi, lagi pula pekerjaanku ada di rumah untuk apa aku ke kantor. Dan kemarin malam tidurku belum puas.”


Jeff berjalan masuk ke kamarnya, diikuti dengan Jovita. Jeff duduk di kasurnya sambil menguap dan meregangkan tubuhnya. Dan Jovita membuka lemari baju Jeff sambil melihat-lihat pakaian Jeff.


Jeff : “Apa kau menyuruhku ke kantor sekarang? Tapi aku sedang malas.”


Merebahkan tubuhnya ke kasur.


Jovita : “Jeff...bagaimana bisa seorang pemimpin perusahaan seperti itu, bagaimana jika pegawaimu menirumu datang terlambat?”


Jeff : “Akan kupecat mereka.”


Jovita : “Ck...sudahlah, mandi sana. Aku akan siapkan air hangat, agar kau terlihat lebih fresh.”


Jeff : “Tapi aku nggak mau ke kantor sekarang.”


Jovita menyiapkan air dan Jeff masih tiduran di kasurnya. Setelah Jovita keluar, Jeff malah tertidur. Jovita yang jengkel menarik kaki Jeff dan membuatnya terjatuh.


Jeff : “Iihhh...kenapa sih?”


Jovita : “Cepat mandi! Ryan sudah menunggumu.”


Jeff : “Iya-iya bawel.”


Jeff masuk ke kamar mandi dan Jovita turun ke bawah untuk mengambil makanan. Ia benar-benar ingin meraih hati Jeff agar ia dapat keluar dengan bebas selama 1 jam saja.


Jovita kembali dengan nampan berisi makanan dan minuman. Dan Jeff juga sudah keluar kamar mandi dengan celana dan kemeja kerjanya. Jovita membantu Jeff memakai dasi dan jas bahkan ia juga membantu merapikan rambut Jeff. Sambil merapikan rambut, Jovita bertanya tentang niatannya.


Jovita : “Jeff...”


Jeff : “Hm.”


Jovita : “Apa boleh aku nanti keluar sebentar?”


Jeff : “Kemana?”

__ADS_1


Jovita : “Sebentar...saja, nggak akan lama.”


Jeff : “Kemana?”


Jovita : “Bertemu dengan temanku.”


Jeff hanya diam, dalam hati Jeff tidak ingin Jovita keluar. Namun, jika ia tidak mengizinkannya nantinya Jovita keluar dengan diam-diam. Jeff benar-benar berpikir dengan keras tentang hal ini.


Hingga Jovita selesai mendandani Jeff, Jeff belum juga menjawab. Jeff berjalan ke sofa yang terdapat makanan di depannya. Kemudian ia hanya duduk sambil memikirkannya. Jovita mulai berinisiatif menyuapi Jeff agar ia mendapatkan ijinnya.


Jovita menyodorkan sesendok makanan ke mulut Jeff. Jeff langsung melahapnya sambil memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Hingga ia habis setengah piring, Jeff belum juga menjawab.


Jovita : “Jeff...gimana? Boleh ya?”


Sambil memelas pada Jeff.


Jeff : “Mm...”


Jovita : “Boleh, ya?”


Jeff : “Nanti ajalah.”


Jovita : “Sekarang aja, nanti kau pergi ke kantor.”


Jeff : “Hmm...gimana ya?”


Jovita : “Iya, boleh gitu dong, ya?”


Jeff : “Hm...boleh.”


Jovita : “Beneran?”


Jeff : “Ya.”


Jovita : “Makasih.”


Jeff : “Eitss...tapi ada syaratnya.”


Jovita : “Apa itu? Jangan bilang jika aku harus pergi dengan Ryan.”


Jeff : “Bagaimana kau tahu?”


Jovita : “Aku ingin pergi ke sana sendirian pokoknya titik.”


Jeff : “Jovita...”


Jovita : “Nggak mau. Pokoknya aku mau pergi sendiri. Titik.”

__ADS_1


Jeff : “Oke, dengan satu syarat.”


Jovita : “Apa?”


__ADS_2