
David mengajak Jovita kembali duduk di tempat keduanya. Mereka berdua hanya diam, tidak ada percakapan di antara mereka.
David : “Kau sungguh-sungguh akan mengikuti perintahku?”
Jovita : “Ya, tapi sebelum itu, hapus video itu.”
David : “Tidak bisa. Jika aku menghapus video ini, bisa jadi kau tidak akan mengikuti permintaanku.”
Jovita : “Tidak akan.”
David : “Tapi aku tidak yakin.”
Jovita : “Ck.”
Sambil memutar bola matanya.
David : “Cepat berikan ponselmu!”
Jovita : “Untuk apa?”
David : “Cepat berikan!”
Jovita menyerahkan ponselnya pada David. Namun, sesaat kemudian David mengembalikannya lagi.
David : “Pin.”
Jovita : “Hm?”
David : “Pin!!”
Jovita : “Ooh...”
Jovita mengambil kembali ponselnya lalu memasukkan kata sandinya. Setelah itu, David merebut paksa ponsel Jovita.
David : “Sudah kuduga.”
Jovita : “Apa?”
__ADS_1
David : “Ini.”
Sambil memperlihatkan pesan yang ia kirim semalam pada Jovita.
Jovita : “Kenapa? Apa ada yang salah?”
David : “Tidak.”
Dengan nada kesal.
Setelah itu, David mengotak-atik ponsel Jovita dan mengembalikannya lagi. Jovita hanya mengambil ponselnya lalu memasukkannya kembali.
David : “Jangan sampai tuanmu tahu atau kau akan tersakiti nanti.”
Jovita : “Tanpa kau peringatkan aku sudah tahu.”
David : “Nanti malam aku akan mengirim pesan padamu, jangan lupa untuk dibalas. Jika kau tidak membalasnya maka kau tahu sendiri apa konsekuensinya.”
Jovita hanya diam sambil menghembuskan nafas dengan kesal. David mulai pergi dari sana dan meninggalkan Jovita menikmati kopi dan dessertnya sendirian.
###
Satu jam lamanya, ia mencoba untuk membuat dirinya konsentrasi, namun hasilnya tetap sama. Ia sama sekali tidak bisa diam dan fokus. Alhasil ia memanggil Ryan untuk masuk ke ruangannya.
Ryan : “Ada yang dapat saya bantu tuan?”
Jeff : “Minta seseorang untuk menengok Jovita.”
Ryan hanya diam dan matanya membulat.
Jeff : “Ada apa?”
Ryan : “Mm...menengok nona? Maksud tuan untuk mengikuti nona?”
Jeff : “Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti aku ingin tahu kemana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, apa yang dia lakukan, seperti itulah.”
Ryan : “Baik, tuan.”
__ADS_1
Ryan membalik badannya dan hendak membuka pintu. Namun Jeff memanggilnya lagi.
Ryan : “Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?”
Jeff : “Kau saja, kau yang pergi.”
Ryan : “Ha?”
Jeff : “Ha? Kau tidak dengar apa yang aku katakan!?”
Ryan : “Ba...baik, tuan.”
Ryan keluar dari ruangan Jeff. Ia keluar dengan menggerutu, harusnya ia mencari seseorang untuk mengikuti Jovita. Namun sekarang ia harus melakukan hal itu di tengah banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
Ryan : “Dasar bos yang tidak tahu penderitaan asistennya. Cih...menyebalkan.”
Bahkan di dalam lift ia masih mengumpat tentang bosnya. Tapi saat lift terbuka, ia berhenti mengumpat dan mencoba menenangkan dirinya.
Ryan : “Tenanglah, semua ini ada baiknya. Ayo, kita ikuti Nona Jovita.”
Akhirnya ia melajukan mobilnya menuju tempat Jovita, sebelumnya ia telah bertanya pada sopir yang mengantarkan Jovita. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga ia tiba di sebuah kafe bernama hungry mom.
Sebenarnya saat mendengar nama kafe itu, Ryan mengerutkan keningnya. Pasalnya ia tahu kafe itu adalah kafe yang paling cocok untuk pasangan berkencan. Dalam perjalanan, ia hanya bergumam apakah Jovita tengah kencan dengan seorang laki-laki atau memang bertemu dengan temannya? Pertanyaan itulah yang terus berputar di kepalanya.
Saat ia tiba, ia sudah melihat Jovita duduk di salah meja dan tengah menunggu seseorang. Ryan duduk di salah satu meja yang agak jauh dari Jovita, namun ia masih bisa mengawasi Jovita. Ryan terus menatap dan mengawasi Jovita, hingga David masuk dari pintu kafe dan langsung menuju kasir lalu ke meja Jovita. Mulai saat itulah Ryan memotret kebersamaan David dan Jovita dan mengirimkannya kepada Jeff.
Jeff yang menerima pesan dari Ryan langsung geram saat melihat Jovita bertemu dengan David. Ia menyingkirkan dokumen-dokumen, peralatan, atau apa pun itu yang ada di atas mejanya. Jeff kembali duduk dan menenangkan pikirannya sesuai saran Ryan, karena sikap Jovita kepada David benar-benar cuek dan tidak peduli.
Ryan melaporkan segala hal yang ia lihat, bahkan hingga si David beranjak pergi dan hendak keluar kafe, namun dicegah oleh Jovita. Saat melihat foto Jovita yang memegang tangan David Jeff benar-benar sudah tidak memiliki kesabaran lagi. Ia keluar dari ruangannya dan membanting pintu yang tak berdosa itu. Ia berjalan menuju perparkiran dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi ke kafe hungry mom.
Ryan yang tidak tahu jika bosnya telah berangkat menuju kafe itu, tetap mengirimkan pesan dan foto-foto kegiatan Jovita setiap menit bahkan setiap detiknya. Jeff yang sedang memuncak kemarahannya ditambah lagi dengan suara getaran ponselnya, hampir menyetir seperti orang gila. Bahkan ia hampir menerobos lampu yang sedang merah, namun ia mengerem mobilnya tepat sebelum ban mobilnya menyentuh garis penyebrangan.
Jeff benar-benar tidak sabar, ia membuka ponselnya yang terus bergetar tanda pesan masuk. Ia membuka gambar yang tepat saat itu gambar Jovita sedang menyerahkan ponselnya pada David. Hal itu membuat kemarahannya semakin tak terbendung. Ia menekan klakson mobilnya dengan sangat panjang.
Tttiiiinnnn.....ttiiiiinnnnn.....
Orang-orang yang tengah menyeberang pun merasa kaget dengan suara klakson mobil Jeff. Bahkan orang-orang yang berada di dalam mobil di samping kanan kiri dan belakang Jeff mengumpatinya sebagai orang gila. Dan drama di lampu merah telah berakhir saat lampu berwarna hijau, Jeff pun langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tiba di kafe hungry mom.
__ADS_1
*****
Maaf telat up🙏🙏🙏