
Jovita masuk ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Sedangkan Jeff berada di ruang kerjanya berteriak memanggil Ryan.
Di ruang kerja Jeff
Jeff : "Ryan, dimana hasil presentasi tim desain?"
Ryan : "Ini, tuan."
Ryan menyerahkan tablet yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Dan ia juga sudah membukakan email yang memperlihatkan kiriman hasil presentasi tim desain. Jeff menerima tablet itu dan menscroll kiriman email.
Jeff : "Hanya ini? Padahal ini sudah hampir jam pulang, tapi hanya ini yang mengumpulkan? Untuk apa mereka seharian di kantor? Dan untuk apa mereka ku beri waktu selama itu? Mereka itu tak ada gunanya."
Ryan : "Tuan, kurang 1 jam lagi waktu jam pulang kerja."
Jeff : "Aku sudah ada di rumah, artinya jam pulang kerja kurang 10 menit lagi."
Ryan hanya diam saja, ia tidak berani menjawab ataupun berbicara dan mengeluarkan sepatah kata apapun.
Jeff : "Ryan, segera beritahu tim desain untuk segera mengirimkan hasil presentasi mereka. Segera! Aku tunggu 10 menit lagi. Jika ada satu tim yang tidak segera mengumpulkan, akan ku pecat satu tim itu."
Ryan : "Baik, tuan."
Ryan segera mengetik apa yang Jeff katakan dan mengirimkannya pada tim desain dengan tablet yang baru saja Jeff serahkan pada Ryan.
Jeff : "Ryan."
Sambil tangannya meminta tablet.
__ADS_1
Ryan : "Silahkan, tuan."
Ryan mengembalikan tabletnya pada Jeff. Jeff membuka presentasi dari tim desain yang telah dikirimkan.
Saat melihat hasil presentasi, Jeff terlihat melipat-lipat wajahnya seperti remasan kertas. Ryan yang melihat itu, langsung menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat mulut secara perlahan.
Jeff : “PRESENTASI APA-APAAN INI!!! APA GUNANYA AKU MEMBAYAR MEREKA, APA YANG MEREKA KERJAKAN TIAP HARI???”
Tablet yang dipegang Jeff tadi langsung dilempar ke lantai. Ryan hanya dapat memejamkan matanya, saat melihat tablet itu pecah dilantai. Ia menghela napas lagi, karena ia harus mencari tablet lagi sebelum matahari terbit besok.
Jeff : “Ryan, apa kau yang merekrut mereka semua?”
Ryan : “Bukan, tuan. Saya hanya mempersetujui mereka bekerja.”
Jeff : “Apa mereka anak baru?”
Jeff : “Kenapa kau tidak menguji mereka dulu??? Apakah perekrutan karyawan sekarang ada sogok-sogokan? Cari tahu, dari mana mereka dan untuk perekrutan karyawan baru lagi, aku ingin kau yang memegang.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jeff : “Ambilkan tablet di kamarku sana, cepat!”
Ryan : “Baik, tuan.”
Ryan keluar dari ruang kerja Jeff, ia masuk ke kamar Jeff dan mengambil tablet yang ada di atas nakas. Lalu ia segera kembali ke ruang kerja Jeff. Ryan membuka email dan mencari presentasi dari tim desain.
Ryan : “Ini tuan, hasil presentasi dari tim 1.”
__ADS_1
Jeff : “Hm.”
Sambil menerima tablet dari Ryan.
Ryan : “Tuan, untuk tim 5, selain saya harus mencari tahu tentang mereka...apa yang harus saya lakukan selanjutnya?”
Jeff : “Apa kau perlu menanyakan hal itu? Pecat mereka! Aku sudah tak menerima mereka lagi.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jeff : “Besok hari terakhir mereka bekerja, jadi lusa aku tidak ingin melihat mereka lagi. Apalagi surat lamaran kerja mereka di kemudian hari.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jeff melihat presentasi dari tim 1, ia terlihat berpikir keras, sambil mengangguk-angguk. Dan saat slide presentasi hampir habis, wajahnya kembali terlihat terlipat-lipat. Ryan hanya dapat menarik napasnya lagi dan membuangnya dengan pelan.
Jeff : “Ryan, minta pada mereka untuk memperbaiki di bagian slide akhir. Dan aku ingin mereka mengirimkannya saat masuk jam kantor besok.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jeff : “Nih, perlihatkan presentasi selanjutnya.”
Sambil memberikan tablet pada Ryan.
Ryan segera membuka kiriman email dari tim 3. Lalu ia menyerahkannya pada Jeff dan setelah itu, ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada tim 1 untuk memperbaiki presentasi mereka pada bagian akhir.
Setelah mengirimkan pesan, Ryan memperhatikan Jeff kembali. Dan saat ia melihat ekspresi Jeff, Ryan membelalakkan matanya dan menelan saliva dengan susah payah.
__ADS_1