Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
50


__ADS_3

Jeff menerima ponselnya dan melihat wanita itu sambil berterima kasih. Wanita itu tersenyum dengan indah nan cantik pada Jeff saat Jeff melihatnya.


Wanita : “Tidak perlu berterima kasih, tuan...”


Tiba-tiba Jovita mendekati Jeff dan memotong perkataan dari wanita itu.


Jovita : “Oh sayang, kau sudah menemukan ponselmu?”


Jeff : “Hm...iya.”


Jovita : “Apakah wanita cantik ini yang telah menemukannya, sayang.”


Sambil menekankan kata ‘sayang’


Jeff : “Ya...benar.”


Jovita : “Terima kasih ya, nona cantik. Aku tidak akan melupakan jasamu.”


Wanita : “Iya, sama-sama. Apakah kalian pacaran?”


Jovita : “Yaps, benar. Kami sedang pacaran dan tadi kami baru saja menghadiri pesta pernikahan, tiba-tiba aku jadi ingin hubungan kami sampai menikah.”


Dengan senyum paksaan pada wanita itu.


Jeff yang mendengar itu hanya senyum-senyum bahagia sendiri. Ia ingin tertawa dengan keras, namun ia tidak bisa melakukan hal itu.


Jovita : “Benarkan, sayang? Dan...apa kau memiliki pemikiran yang sama dengan juga, sayang?”


Jeff : “Mm...mungkin...ya.”


Jovita : “Wah! Bagus sekali, aku jadi tambah sayang deh sama kamu.”


Sambil mencubit pipi Jeff.


Jeff hanya diam dan mengangguk saja. Ia juga tersenyum ingin tertawa karena tingkah laku dan kata-kata Jovita.


Tiba-tiba ada seorang pria dari belakang wanita itu memanggil wanita itu dengan sebutan sayang. Pria itu sangat tampan, tinggi, dan cukup maskulin. Pria menghampiri wanitanya dan berbicara sebentar dengan wanita itu.


Wanita : “Oh, maafkan aku. Aku hampir melupakan kalian. Dia adalah pacarku...”


Si Pria : “Bukan pacar, sayang...”


Wanita : “Oh, ya. Aku tunangannya dia dan kami akan menikah satu minggu lagi.”

__ADS_1


Dengan senyum membanggakan.


Jovita : “Mm...oh, Waw! Selamat untuk kalian, ya.”


Wanita : “Terima kasih.”


Jovita : “Mm...saya juga ingin berterima kasih karena sudah menemukan ponsel pacarku dan mau mengembalikannya juga.”


Wanita : “Itu sudah menjadi tugas kita sebagai manusia.”


Jovita : “Haha...sekali lagi aku...eh bukan, maksudku kami mengucapkan terima kasih kepada Anda. Terima kasih banyak.”


Wanita : “Kami pergi lebih dulu, ya.”


Jovita hanya mengangguk, kemudian ia melihat hingga kedua orang itu sudah cukup jauh darinya. Lalu menatap Jeff yang menahan tawanya sendiri.


Jovita : “Apa? Kenapa kau tertawa?”


Jeff : “Hahahaa...kau lucu sekali...hahaha...”


Jovita : “Diam Jeff.”


Sambil menutup mulut Jeff dengan tangannya.


Jeff : “Baik-baik.”


Jeff : “Oke-oke, aku tidak akan tertawa lagi.”


Jovita : “Janji?”


Jeff : “Hm...”


Jovita melepaskan tangannya, Jeff merangkul pinggang Jovita.


Jeff : “Sayang, aktingmu sangat luar biasa. Tapi perlu kau ketahui, jika aku sudah tahu dia memiliki hubungan dengan seorang pria.”


Jovita : “Apa??? Jadi kau sudah tahu? Kenapa tidak bilang padaku? Nih cubitan untukmu.”


Jovita mencubit perut Jeff dan Jeff mengaduh kesakitan.


Jovita : “Mau lagi?”


Jeff : “Nggak, udah cukup.”

__ADS_1


Jovita : “Sejak kapan kamu tahu jika dia punya lelaki?”


Jeff : “Aku tak sengaja melihatnya tadi, ia bersama seorang pria yang sama dengan yang tadi.”


Jovita : “Kenapa nggak beritahu aku tadi??”


Jeff : “Hei, kau tadi menyerobot terus mencerocos nggak tahu diri. Jadi aku hanya dian saja melihatmu seperti orang yang cemburu.”


Jovita : “Siapa yang bilang jika aku cemburu?”


Jeff : “Lihat itu, wajahmu memerah seperti tomat, hahaha...”


Jovita memukul Jeff lalu mencubit perut Jeff dan pergi meninggalkan Jeff. Jeff yang baru saja kena cubitan maut yang kedua kalinya benar-benar mengaduh kesakitan. Ia baru mengejar Jovita setelah rasa sakitnya cukup hilang.


Jeff : “Hei! Tunggu aku! Kau mencubitku dua kali dalam beberapa menit saja. Hei!”


Jovita tidak peduli dengan Jeff, ia terus berjalan dengan mantap tanpa melihat ke belakang. Dan Jeff terus mengejarnya hingga mendapatkan Jovita kembali.


###


Sementara Ryan, yang ada di vila, tengah mengerjakan tugas yang diberikan bosnya itu. Ia juga harus memantau jalannya perusahaan saat bosnya tidak ada di kantor.


Ryan : “Kapan ini selesainya? Huft...”


Ryan melihat sekelilingnya, ia berada di kamar Jeff. Karena Jeff tidak mengizinkan jika Ryan berada di kamarnya sendiri. Saat melihat sekelilingnya, ia tak mengira jika ada ponsel menyala di atas nakas.


Ryan mengambil ponsel itu dan ia menebaknya jika itu ponsel Jovita. Ada panggilan masuk, tertulis nama Vania di layar ponsel itu. Sebenarnya ia tidak niatan untuk menerima telepon itu, namun si penelepon terus saja menghubungi Jovita. Akhirnya Ryan menjawab telepon itu.


*mode telepon*


Ryan : “Ha...”


Vania : “Kakak!!! Kenapa baru jawab sekarang?? Aku menelepon kakak hampir seratus kali dan kakak baru mengangkatnya sekarang? Apa kau begitu sibuk dengan Tuan Jeff??? Hingga kau melupakan adik tersayangmu ini?”


Vania : “Mm...kak? Halo? Kakak? Kau masih mendengarkanku, kan?”


Ryan : “Oh, maaf. Saya adalah sekretaris Tuan Jeff.”


Vania yang mendengar suara seorang lelaki langsung melempar ponselnya di atas kasur. Ia terkejut bukan main, karena seingatnya jika Jovita tidak pernah menitipkan ponselnya atau memberikan ponselnya pada seorang lelaki. Lalu Vania kembali meletakkan ponselnya di telinganya setelah ia merasa sedikit rileks.


Vania : “Ha...halo? Dengan siapa ini?”


Ryan : “Saya adalah sekretaris Tuan Jeff. Maaf atas kelancangan saya, Nona Jovita dan Tuan Jeff tengah berjalan-jalan di pantai. Jika ada pesan yang perlu saya sampaikan pada Nona Jovita, silakan Anda katakan saja kepada saya.”

__ADS_1


Vania : “...mmm...tidak ada...mmm...aku hanya ingin berbincang-bincang saja. Sekian terima kasih.”


Vania langsung menutup ponselnya, lalu ngibrit keluar kamarnya. Sementara Ryan kebingungan sendiri dengan jawaban Vania. Ia kembali meletakkan ponsel Jovita di atas nakas dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


__ADS_2