Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
44


__ADS_3

Jovita tersenyum setelah Jeff mengatakan bahwa ia cocok dengan gaun terakhir.


Jovita : “Oke, sekarang aku akan keluar dan kau, Tuan Jeff...kau harus segera mandi.”


Jeff : “Yah...sepertinya sudah waktuku untuk mandi.”


Jovita mengangguk dan ia keluar dari kamar Jeff. Jeff langsung beranjak dari duduknya, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


###


Setalah mandi, Jeff mengecek ponselnya. Dan tiba-tiba, Jovita sudah ada di kamar Jeff.


Jovita : “Pukul berapa?”


Jeff : “Hm? Oh, pukul delapan. Dan kita akan berangkat pukul tujuh.”


Jovita : “Kalo gitu, ayo makan sekarang.”


Jeff : “Kau itu, apa di pikiranmu hanya makan saja?”


Jovita : “Aku tak mau kelaparan Jeff, jadi kita harus makan sekarang. Lalu aku harus berdandan, lalu kita berangkat. Dan jika di pesta, apa aku akan makan sebanyak-banyaknya hingga perutku kenyang? Tidak mungkin bukan?”


Jeff : “Ya, ya. Ayo makan.”


Jeff dan Jovita turun menuju ruang makan. Pak Sam memang sudah menyiapkan makan malam lebih malam hari itu. Mereka makan dalam ketenangan.


Setelah makan, Jovita kembali lebih dulu untuk merias dirinya. Jika Jeff mungkin hanya butuh beberapa menit saja, tapi Jovita tidak mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk merias. Jovita merias diri dibantu kedua pelayan yang biasanya membantunya mandi dan merias setiap pagi.


Jeff tengah menikmati kopinya yang menemaninya sehabis makan. Dan Ryan tiba, menghadap tuannya yang ada di ruang makan.


Ryan : “Tuan, kita akan berangkat setengah jam lagi.”


Jeff : “Hm.”


Jeff meneguk kopinya dengan santai.

__ADS_1


Ryan : “Tuan, apakah tuan tidak akan bersiap?”


Jeff : “Sebentar lagi.”


Ryan tetap menunggu dan orang yang ditunggunya tetap menikmati secangkir kopi yang ada di depannya, sambil bermain tabletnya. Lima belas menit kemudian, Jeff baru menghabiskan kopinya. Dan ia beranjak dari duduknya.


Jeff : “Bantu aku bersiap.”


Ryan : “Baik, tuan.”


Mereka naik ke atas menuju kamar Jeff. Saat tiba di pintu kamar Jeff, Jovita keluar dari kamarnya. Ia terlihat cantik dengan gaun biru dongkernya model middle dress dengan motif bunga bordir berwarna putih dan lengan panjang. Rambutnya sekarang di sanggul dengan rapi dan cantik. Ditambah dengan heels yang senada dengan gaunnya.


Jeff : “Waw...cantiknya...”


Ryan : “Cantik sekali, nona.”


Di dalam hati Ryan.


Jeff mendekati Jovita dan ia memegang bahu Jovita sambil memutar-mutar tubuh Jovita. Jovita hanya diam dan lama-lama ia merasa pusing.


Jeff : “Sayang...kenapa kau cantik sekali...”


Jovita : “Sudahlah, cepat kau harus bersiap.”


Jeff : “Baik, nyonya.”


Sambil memberi hormat pada Jovita.


Jeff bersiap dibantu Ryan, ia memakai jas dengan warna yang sama dengan Jovita. Dan rambutnya diberi pomade disisir ke belakang. Dalam sepuluh menit, ia sudah menjadi tampan.


Jovita menunggu Jeff di sofa ruang tamu. Ia sedang bermain ponselnya.


Jeff : “Ayo sayang, kita berangkat.”


Jovita : “Ayo.”

__ADS_1


Sambil melingkarkan tangannya ke tangan Jeff.


Jeff : “Ryan, kau sudah bawa dokumen perpanjangan kontrak?”


Ryan : “Sudah, tuan.”


Jeff : “Oke. Sekarang kita berangkat.”


Seperti biasa, Ryan membukakan pintu untuk kedua sepasang kekasih itu. Dan kemudian baru ia duduk di belakang kemudi. Selama perjalanan, Jovita hanya diam dan melihat ke arah luar jendela. Sedangkan Jeff tengah mencari perhatian dari Jovita.


Jeff mengganggu Jovita untuk menarik perhatian Jovita. Dan Jovita hanya diam tidak bereaksi dengan Jeff. Ia tetap asyik dengan gedung-gedung yang ia lihat.


Jeff menoel-noel pipi Jovita, namun Jovita tetap tidak bereaksi. Jeff membelai rambut Jovita dan mengelus perlahan, memainkan rambut Jovita, menciumi bau rambut Jovita, namun itu semua tidak ada gunanya. Bukan Jeff namanya jika ia menyerah begitu saja.


Jeff mendekati Jovita dan wajahnya cukup dekat dengan Jovita. Ia meniup di telinga Jovita dan alhasil Jovita langsung menoleh sambil menutup telinganya.


Jovita : “Apa yang kau lakukan?”


Jeff : “Kau dari tadi melamun, sampai kau tidak menggubrisku. Apa yang kau lamunkan sebenarnya?”


Jovita : “Tak ada, hanya saja...indah melihat kota saat malam dihiasi dengan lampu-lampu gedung-gedung tinggi yang menyala. Terkadang aku jadi ingat jika aku ini adalah wanita malam. Yang selalu bekerja saat malam hari, tanpa tahu seperti apa malam di luar sana. Aku hanya tahu kota saat pagi atau siang hari, namun saat matahari mulai berada di barat, artinya aku harus segera kembali ke tempatku.”


Jeff : “Oh.”


Jovita : “Memangnya kau berpikir apa?”


Jeff : “Tidak...hanya saja kenapa kau sangat asyik saat melihat luar? Ternyata seperti itu, kapan-kapan akan kuajak kau ke suatu tempat yang indah.”


Jovita : “Dimana?”


Jeff : “Sudahlah, aku bilangkan nanti, bukan sekarang. Sekarang kita akan berpesta di sebuah kapal pesiar.”


Jovita : “Oke-oke.”


Ryan : “Tuan sudah sampai.”

__ADS_1


Ryan mematikan mesin mobil. Ia membukakan pintu untuk Jeff dan Jovita. Mereka keluar dari mobil seperti benar-benar sepasang kekasih yang bahagia. Sedangkan Ryan seperti seorang asisten yang selalu mengikuti ke mana pun bosnya pergi.


__ADS_2