Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
64


__ADS_3

Jeff kembali ke kantornya, ia masuk ke ruangannya yang berantakan karena ulahnya sendiri. Ia duduk di kursi tercintanya sambil memijat kepalanya. Ryan mendekatinya dan melaporkan kegiatan Jeff selanjutnya.


Ryan : “Tuan, pukul 3 ada meeting dengan salah satu klien di Grand Restaurant.”


Jeff : “Kau saja yang datang.”


Ryan : “Tapi tuan, klien ini ingin bertemu secara langsung dengan Anda.”


Jeff : “Baiklah...”


Sambil tangannya mengisyaratkan pada Ryan untuk pergi.


Ryan : “Baik, tuan. Permisi.”


Ryan keluar dari ruangan Jeff, sementara Jeff tetap memijat kepalanya yang terasa pening. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya. Ia tertidur selama beberapa menit, namun itu sudah cukup baginya untuk menghilangkan rasa peningnya. Dan jam masih menunjukkan pukul 2, Jeff memanggil Ryan lewat telepon. Ryan datang dengan cepat.


Ryan : “Ada yang dapat saya bantu, tuan?”


Jeff : “Bantu aku membereskan kekacauan ini.”


Ryan : “Baik, tuan.”


Ryan mengumpulkan semua dokumen-dokumen yang berserakan di lantai. Ia menyerahkan pada Jeff dan Jeff mengurutkan kembali dokumen-dokumennya. Setelah semua dokumen rapi, tersisa pecahan vas bunga dan beberapa alat tulis.


Jeff : “Kau bersihkan sisanya, aku akan pergi meeting.”

__ADS_1


Ryan : “Ya?”


Jeff : “Jawaban apa itu, ha?”


Ryan : “Tapi...bukankah saya harus ikut meeting, tuan?”


Jeff : “Kau menyusul saja, bereskan itu dulu.”


Ryan hanya menganga sambil melihat kepergian Jeff dengan membawa beberapa dokumen untuk meeting.


Ryan : “Aarrgghhh...menyebalkan. Kenapa aku harus membereskan kekacauan ini???”


Ia mulai memunguti satu-persatu alat tulis yang ada di lantai sambil menggerutu.


###


Musik diputar dengan irama yang halus dan menenangkan. Jeff membuka kaca mobilnya dan menghirup udara segar tanpa polusi yang padat dari kendaraan. Sungguh lucu bukan? Tadi ia seperti seekor singa yang kelaparan hingga menggila di jalan, namun sekarang ia lebih seperti seorang manusia yang tak memiliki beban hidup sama sekali.


Sesampainya di restoran, ia turun tepat di depan pintu masuk restoran dan mobilnya diparkirkan oleh seseorang yang sudah menjemputnya di depan pintu. Ia berjalan menuju meja yang telah ditujukan oleh seorang pelayan di sana. Ia masuk ke sebuah ruangan yang lebih mewah dan elegan dengan nuansa hitam dan merah.


Jeff : “Selamat siang, Tuan Nixon.”


Sambil mengulurkan tangannya.


Tn. Nixon : “Selamat siang, Tuan Derrick. Silakan duduk.”

__ADS_1


Jeff : “Tentu.”


Tn. Nixon : “Dimana asisten Anda?”


Jeff : “Dia akan menyusul.”


Tn. Nixon : “Baiklah. Bagaimana jika kita berbincang-bincang terlebih dahulu.”


Jeff : “Tentu, tidak masalah. Saya juga sudah membawa dokumennya.”


Tn. Nixon : “Bagus sekali.”


Jeff dan Tuan Nixon membicarakan kerja sama mereka. Dan tak lama kemudian, Ryan tiba dengan tergesa-gesa, namun tetap rapi dan tampan tentunya.


Jeff : “Kenapa terlambat sekali?”


Ryan : “Maaf, pak. Jalanan sudah mulai padat.”


Tn. Nixon : “Tidak perlu menyalahkannya, kita sudah hampir selesai juga. Mari kita selesaikan sisanya.”


Jeff : “Tentu.”


Jeff dan Tuan Nixon kembali ke topik mereka sebelumnya. Sementara Ryan harus memendam gerutunya di dalam hatinya.


...****************...

__ADS_1


Maaf baru update🙏🙏🙏


Terima kasih untuk reader yang masih setia menunggu dengan setia...😙😙😙


__ADS_2