
Jeff : “Siapa yang bilang sudah cukup sandiwaranya?”
Jovita : “Bukankah kita sudah di dalam mobil? Artinya tidak akan ada paparazi yang akan memfoto kita kan?”
Jeff : “Jangan selalu berpikir jika kau sudah bersembunyi artinya kau sudah aman, sayang.”
Jovita : “Jangan panggil aku sayang.”
Jeff : “Jika aku tidak memanggilmu sayang lalu aku harus memanggilmu bagaimana, sayang?”
Jovita : “Cukup, Jeff. Sudah cukup kita berdebat tentang hal ini. Dab sepertinya harus ada kesepakatan untuk menyelesaikan permasalahan ini.”
Jeff melihat jam tangannya, sudah pukul 1 kurang 15 menit. Ryan belum kembali juga karena ia sedang mengurus orang yang sempat memfoto Jeff dan Jovita tadi.
Jeff : “Kau ingin kita membuat kesepakatan lagi?”
Jovita : “Yaps...betul. Karena jika kau tidak seperti itu, maka kau akan memanggilku dengan sebutan sayang dimana dan kapanpun.”
Jeff : “Kita ini sepasang kekasih...”
Jovita : “Kontrak.”
Jovita langsung memotong perkataan Jeff. Jeff hanya tersenyum saja, ia berpikir baru pertama kalinya ia ditolak oleh seorang wanita. Padahal biasanya wanita-wanita yang berdekatan atau berjumpa dengan Jeff pasti ingin menjadi kekasihnya atau istrinya. Namun, berbeda dengan Jovita, ia seperti tidak tertarik dengan Jeff sedikitpun.
Jeff : “Dimana sih Ryan ini, lama sekali.”
__ADS_1
Jovita : “Memangnya dia kemana? Kayaknya daritadi dia ada di mobil.”
Jeff : “Aku memintanya melakukan sesuatu tadi.”
Jovita : “Kau menyuruhnya apa?”
Jeff : “Nggak ku kasih tahu.”
Tak lama Ryan kembali, ia langsung masuk ke dalam mobil.
Ryan : “Maafkan saya tuan, saya terlambat.”
Jeff : “Apa kau sudah bereskan dengan benar?”
Ryan : “Sudah, tuan. Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Ryan segera menyalakan mesin dan melajukan mobil ke kantor Jeff. Setibanya di kantor Jeff, Jeff langsung turun setelah seorang satpam membukakan pintu mobil untuk Jeff.
Jeff : “Aku pergi kerja dulu ya, sayang.”
Jeff membalikkan badan Jovita, lalu mengecup keningnya. Jovita yang keningnya dikecup langsung membelalakkan matanya dan menutupi keningnya. Sedangkan Jeff langsung keluar dari mobil dan masuk ke kantornya.
Jovita : “Ryan, apa yang baru saja ia lakukan?”
__ADS_1
Ryan : “Maaf, nona. Saya tidak tahu.”
Ryan langsung melajukan mobil menuju klub madam Ella. Selama di dalam mobil, Jovita hanya melamun sambil masih memegangi keningnya. Ia seperti masih memikirkan apa yang dilakukan Jeff tadinya. Setibanya di klub madam Ella Jovita masih tetap diam.
Ryan : “Nona, sudah sampai.”
Jovita : “Ha?”
Ryan : “Kita sudah sampai di tempat madam Ella, nona.”
Jovita : “Oh, benarkah? Tapi ini dimana?”
Ryan : “Ini di belakang klub nona. Maafkan saya, nona. Saya tidak dapat menurunkan nona tepat di depan klub, karena saya takut jika ada masalah yang muncul.”
Jovita : “Oh, baiklah. Tidak apa-apa kalau begitu, aku akan turun sekarang juga.”
Jovita membuka pintu mobil, ia hendak turun dari mobil. Namun, Ryan menghentikannya.
Ryan : “Nona.”
Jovita : “Iya, Ryan. Apakah ada masalah?”
Ryan : “Nona, tolong gunakan ini.”
Ryan menyerahkan sebuah topi pada Jovita. Jovita langsung memakai topi itu, lalu ia masuk ke klub lewat pintu belakang klub.
__ADS_1
Ryan yang melihat Jovita sudah masuk ke dalam klub langsung pergi begitu saja dengan cepat. Ia tidak ingin melakukan kesalahan, atau Jeff nanti akan menghukumnya.
Ryan yang sudah pergi dari sana tidak sadar jika ada seseorang yang mengikutinya dari tadi. Orang itu sudah mengikuti mobil Jeff sejak meninggalkan kantor Jeff. Orang itu memotret semua momen saat mobil berhenti di belakang klub sampai mobil meninggalkan tempat. Setelah itu, orang itu pergi kembali ke mobilnya.