
Jeff keluar dari kamar Jovita, namun ia kembali masuk lagi setelah mendengar suara pintu kamar mandi di dalam kamar Jovita tertutup. Ia masuk dan duduk di kasur Jovita, kemudian merebahkan dirinya. Lalu ia bangkit setelah mendengar suara air dan matanya langsung tertuju pada handuk yang ia bawa masuk tadi.
Jeff : “Kau meninggalkan handukmu, sayang.”
Bersuara dengan nada rendah.
Sedangkan Jovita yang sudah selesai mandi, kebingungan mencari handuk. Dan ia teringat jika handuknya ada di atas meja. Ia kebingungan sendiri saat ingin keluar dari kamar mandi. Tidak ada handuk bahkan jubah mandi pun tak ada, hanya ada pakaian yang ia pakai tadi.
Jovita : “Kenapa aku bodoh sih...”
Umpatnya pada dirinya sendiri.
Jeff mendengar teriakan umpatan Jovita. Ia berinisiatif untuk masuk ke kamar mandi, namun sebelum ia memegang gagang pintu, pintu kamar mandi terlihat akan terbuka. Jeff tetap berdiri di depan pintu sambil membawa handuk dan tersenyum lebar.
Jovita dari balik pintu membuka pintu dengan lebar. Ia berpikir jika tidak ada orang, namun pikirannya salah. Jeff ada di balik pintu itu. Alhasil Jovita yang mengenakan dressnya tadi langsung menyilangkan tangannya di dadanya sambil teriak.
Jovita : “Aarrghhhh....”
Jeff : “Hoi!! Hoi!! Kenapa kau teriak-teriak!”
Jovita : “Ngapain kamu di sini?”
Jeff : “Aku sedang membantumu, lihat handuk tertinggal.”
Jovita langsung merebut handuk itu dan menutupi tubuhnya dengan handuk itu.
Jovita : “Sudah! Pergi sana!”
Jeff : “Kau tampak cantik dengan begitu, sayang.”
Jovita melihat dirinya yang sedang memegangi handuk. Tubuhnya masih basah dan rambutnya juga, karena ia sempat keramas. Sehingga lekuk tubuhnya cukup terlihat, bahkan sepertinya ia tidak mengenakan pakaian dalam.
__ADS_1
Jovita : “Dasar mesum! Pergi sana!”
Jovita langsung menutup pintu kamar mandi. Sedangkan Jeff tersenyum lebar dan tergambar di wajahnya jika ia benar-benar senang. Setelah diusir Jovita, bukannya langsung pergi, malah rebahan di kasur Jovita. Ia ingin menunggu Jovita yang keluar hanya dengan handuk terlilit di tubuhnya dan rambut yang basah. Membayangkannya saja Jeff sudah bahagia, apalagi melihatnya langsung.
Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Jovita membuka pintu dan muncul dari balik pintu. Seketika Jeff langsung menekuk mukanya, karena apa yang ada di dalam pikirannya tidak sama dengan kenyataan. Jovita keluar dengan dressnya, namun sepertinya ia mengenakan pakaian dalamnya dan handuknya ia pakai untuk melilit rambutnya.
Jeff : “Kenapa kau keluar dengan dressmu itu? Bukankah aku sudah memberimu handuk?”
Jovita : “Aku sudah menduga jika kau tidak akan keluar dari kamarku. Dan Tuan Jeff, sepertinya apa yang ada di pikiranmu dengan kenyataan yang ada, berbeda.”
Tersenyum tipis.
Jeff : “Huft...sudahlah, cepat pakai baju. Aku menunggumu di meja makan.”
Jeff langsung keluar dan ia sedikit membanting pintu kamar Jovita. Ia berjalan menuju ruang makan. Dan Jovita tertawa puas setelah Jeff berjalan sedikit jauh dari kamarnya. Lalu ia mengambil pakaian dan kembali masuk ke kamar mandi.
Jeff sudah berada di meja makan, ia tengah memainkan tabletnya seperti biasanya. Dan Jovita baru saja turun dari kamarnya, ia langsung duduk dengan anggun.
Jeff : “Sam, sajikan makanannya.”
Pak Sam dan beberapa pelayan menyajikan makan malam untuk mereka berdua. Jovita yang merasa kelaparan ingin segera menyantap makanan yang ada di depannya, namun si tuan rumah belum ingin menyantap makanannya. Jeff masih asyik bermain tabletnya.
Jovita : “Jeff, apa kau tidak akan makan?”
Jeff : “Ya, aku akan makan.”
Jovita : “Ayo kita makan.”
Jeff : “Aku bilang aku akan makan. Artinya aku pasti akan makan.”
Jovita : “Iya, aku tahu. Tapi jika kau ingin makan, letakkan dulu tabletmu.”
__ADS_1
Jeff : “Iya, sebentar.”
Jeff masih tetap bermain tabletnya, ia sepertinya tidak menggubris ajakan dari Jovita.
Jovita : “Jeff...ayo makan.”
Jeff : “Iya-iya, bentar dulu.”
Jovita : “Dari tadi bentar-bentar mulu. Ayo dong makan.”
Jeff sudah mulai lelah menanggapi Jovita yang merengek seperti anak kecil. Ia menyerahkan tabletnya pada Pak Sam.
Jeff : “Kau itu kelaparan, ya?”
Jovita : “Iya! Puas.”
Jeff : “Sepertinya sekarang aku memiliki piaraan baru.”
Jovita : “Piaraan? Kau anggap aku ini piaraan?”
Jeff : “Yaps. Lihatlah dirimu, aku memberimu uang dan mobil. Dan pekerjaanmu hanya makan, tidur, dan jika aku memintamu datang, terkadang kau akan merengek lebih dulu atau kadang kau menurut dan langsung ikut. Bukankah aku pantas menganggapmu sebagai piaraanku?”
Jovita : “Aku ini manusia Jeff, bukannya hewan. Jadi kau tidak bisa menganggapku piaraan. Dan tentang pekerjaan, kau membayarku sebagai kekasih kontrak, artinya pekerjaanku hanya makan, tidur, dan kencan denganmu.”
Jeff : “Hanya itu? Sia-sia aku keluar uang untukmu. Banyak sepasang kekasih di luar sana saling memadu kasih, berciuman, berpelukan, bahkan ada yang lebih dari itu.”
Jovita : “Jeff, aku tegaskan lagi...kita...hanya...sebatas, kekasih kontrak. Kekasih kontrak! Tidak lebih.”
Jeff : “Aku tahu, tapi paling tidak lakukan hal kecil yang bisa mengategorikan bahwa kau adalah kekasihku, meskipun hanya kontrak.”
Jovita : “Lalu aku harus apa?? Mengantar makan siangmu ke kantor?”
__ADS_1
Jeff : “Ide bagus, kau bisa lakukan itu mulai besok. Ayo kita makan."
Jeff langsung menyantap makanan yang ada di depannya, sedangkan Jovita masih diam dan pada akhirnya ia memakan makanannya.