Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
63


__ADS_3

Jeff tiba di kafe hungry mom, ia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk kafe. Ia turun dari mobil, masuk ke dalam kafe dan matanya mencari-cari Jovita. Ia menemukan Jovita yang tengah duduk sambil menikmati kopi dan dessertnya. Jeff berjalan dengan cepat menuju meja Jovita.


Jovita yang tengah menyeruput kopinya sambil melamunkan kejadian sebelumnya, tiba-tiba tersadar. Ia melihat bayangan Jeff tengah mendekatinya dengan cepat. Ia sempat berpikir kenapa Jeff berada di sini? Dan ia juga berpikir jika itu bukanlah Jeff. Namun pikirannya salah saat tubuh Jeff benar-benar tepat berada di depannya sambil meraih tangan Jovita.


Jovita : “Jeff?”


Jeff hanya diam, ia pun menarik paksa Jovita dan berjalan menuju mobilnya. Jovita pun bertanya-tanya pada Jeff.


Jovita : “Jeff? Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah kau harusnya ada di kantor?”


Jeff tetap diam, ia tidak menjawab satu pun pertanyaan Jovita. Bahkan ia tidak bersuara sedikit pun. Pikirannya dalam amarah dan tidak dapat berpikir dengan waras.


Jovita : “Jeff...ada apa denganmu? Kenapa kau menarik ku seperti ini?”


Jovita mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Jeff. Dan semakin Jovita ingin melepaskannya, semakin erat pula genggamannya.


Jovita : “Jeff...lepaskan, kumohon...”


Sambil menitikkan air matanya karena tangannya mulai kesakitan.


Jovita : “Jeff...lepaskan...”


Mereka sudah berada di depan mobil, Jeff membuka pintu mobil bagian belakang. Ia melempar Jovita masuk ke dalam mobil seperti melempar tas kerjanya. Jovita terbanting di dalam mobil. Ia seperti seorang sandera yang dipaksa masuk oleh penculik.


Jeff menutup pintu mobil dengan membantingnya keras-keras. Lalu ia duduk di belakang kemudi dan langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi. Jovita yang berada di kursi belakang hanya diam ketakutan, ia tidak mengerti kenapa Jeff bersikap demikian. Jovita bahkan tidak berpikir jika Jeff telah mengetahui bahwa ia bertemu dengan David.

__ADS_1


Jeff melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya dengan emosional dan drama di lampu merah pun terjadi lagi. Jovita hanya kebingungan dan ketakutan, ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


Setibanya di rumah, Jeff mengeluarkan Jovita dan menariknya menuju kamarnya. Ia benar-benar sudah kehilangan kewarasannya. Jeff masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi. Jovita di masukkan ke bathtub dan air dingin dinyalakan.


Air itu benar-benar dingin, rasa dinginnya hingga menusuk tulang. Jovita ingin beranjak berdiri, namun Jeff menekan bahunya dan membuatnya terjatuh di bathtub. Air terus mengisi bak, hingga penuh dan Jeff tidak mematikan krannya.


Jeff mulai mendekati Jovita yang basah kuyup dan kedinginan. Ia meraih kemeja Jovita dan berusaha melucuti Jovita. Jovita yang kemejanya di raih langsung memegang erat-erat kemejanya. Ia tidak rela jika harus menanggalkan pakaiannya.


Jeff yang sudah geram, mulai bersikap kasar pada Jovita. Ia menarik kemeja Jovita dengan keras, sehingga membuat kemeja itu robek. Ia melemparkan kemeja dengan sembarangan dan mulai meraih rok denim yang dipakai Jovita. Dan rok itu bernasib sama dengan kemejanya.


Jovita yang kemejanya dirobek dan dibuang hanya dapat menutupi tubuh bagian atasnya dengan menyilangkan tangannya. Ia bahkan tidak berpikir jika Jeff akan melakukan hal yang sama pada roknya. Dan saat roknya terlepas darinya, ia hanya menatap Jeff dengan kebingungan sambil menitikkan air matanya.


Jovita : “Jeff...apa yang kau lakukan?”


Jeff : “Lakukan hal itu lagi, maka kau akan mendapatkan hal yang lebih dari ini.”


Jovita : “Apa...apa maksudmu?”


Sambil menangis menatap Jeff.


Jeff : “Kau pikir aku tidak tahu kau bertemu siapa? Kau pikir aku bodoh? Ingat ini wanita kontrakan, aku bisa melakukan apapun padamu tanpa memikirkan kontrak sialan itu. Kau mengerti!”


Jovita : “I...iya...”


Sambil menangis sesenggukan.

__ADS_1


Jeff : “Jadi...jika kau bertemu dengannya lagi secara diam-diam di belakangku, kau akan tahu akibatnya.”


Jovita hanya mengangguk, ia benar-benar sudah kedinginan. Dan rasanya pikirannya membeku seketika. Jeff keluar dari kamar mandi dan turun dari lantai atas.


Jeff : “Dengar semuanya! Jangan ada yang datang mendekati Jovita setelah aku pergi! Jika ada yang berani datang mendekatinya, kalian pasti sudah tahu konsekuensinya. Kalian paham!!”


Seluruh pelayan : “Siap, tuan!”


Jeff berjalan keluar, menuju mobilnya. Ia akan kembali ke kantornya.


###


Jovita masih terendam di bathtub, ia hanya diam sambil menangis. Tubuhnya kedinginan dan pergelangan tangannya mulai membiru akibat cengkeraman Jeff tadinya. Ia tidak beranjak dari sana hampir dua puluh menit lamanya. Tidak ada pelayan yang menghampirinya, bahkan Pak Sam pun juga tidak menghampirinya. Karena semua pelayan telah diperintahkan untuk tidak datang mendekatinya.


Ia beranjak keluar dari bathtub dan mematikan kran. Ia mengambil jubah mandi yang tergantung di salah satu gantungan. Ia memakai jubah itu dan berjalan keluar kamar mandi menuju kamarnya. Ia berjalan dengan lunglai dan lemas karena tubuhnya benar-benar masih menggigil.


Pak Sam yang melihat Jovita berjalan dengan lemas dan menggigil hanya dapat diam sambil melihat Jovita berjalan menuju kamarnya dari lantai bawah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat Jovita. Sebenarnya ia merasa iba, namun tuannya sudah memerintahkan untuk tidak mendekati Jovita, sehingga tidak ada yang berani mendekati Jovita walaupun ada perasaan iba.


Jovita masuk ke kamarnya dan menyalakan shower panas untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah itu, ia mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat. Ia membawa air itu ke dekat tempat tidurnya, lalu merendam kakinya dengan air itu. Ia juga mengatur suhu AC-nya menjadi hangat. Selama beberapa menit, ia hanya merendam kakinya sambil melamunkan kejadian-kejadian tadi.


Saat Jovita mengingat kejadian-kejadian di kafe, ia mulai paham mengapa Jeff bisa semurka itu. Dan saat tangannya digenggam erat hingga membuat bekas, tanpa sadar ia menitikkan air mata sambil memegang pergelangan tangannya. Lambat laun, titikkan air mata yang menetes berubah menjadi derasan air mata dan membuat si pemilik air mata mencurahkan semua kesedihannya. Jovita benar-benar menyesal saat itu juga, ia menyesal karena telah mengkhianati Jeff.


Jovita : “Bodoh! Bodoh! Huhuhu...”


Jovita mengumpati dirinya sendiri sambil menangis dengan keras. Ia menekuk kakinya dan memeluknya. Ia sudah tidak peduli lagi dirinya yang kedinginan ataupun rambutnya yang masih basah. Ia hanya bisa menyesali kejadian-kejadian yang sudah berlalu dengan menangisinya.

__ADS_1


__ADS_2