
Ryan terkejut bukan main saat melihat ekspresi Jeff saat melihat presentasi dari tim 3. Ia bahkan tidak dapat mengedipkan matanya hingga matanya terasa pedas karena terlalu lama membelalakkan matanya.
Ekspresi Jeff saat melihat presentasi tim 3 sangat berbeda saat ia melihat presentasi dari tim sebelumnya. Ia tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar, seperti baru saja melihat sebuah berlian paling mahal didunia atau barang antik dari ribuan tahun silam. Ia terlihat bahagia dan senang dengan presentasi tim 3.
Jeff : “Ini baru namanya bekerja. Tidak sia-sia aku menggaji mereka.”
Ryan hanya dapat diam saja. Ia bahkan belum selesai dengan matanya yang masih terbelalak bundar.
Jeff : “Hei Ryan, cepat beritahu tim 3, jika presentasi buatan mereka lolos.”
Ryan : “Ha?”
Jeff : “Ha?? HEI! Kau tidak dengar dengan apa yang aku bilang?”
Ryan : “Oh, iya tuan. Baiklah.”
Jeff : “Tetesi matamu dengan obat mata sana, aku masih membutuhkanmu.”
Ryan segera keluar dari ruang kerja Jeff. Ia mencari Pak Sam untuk meminta obat tetes mata.
Ryan : “Pak Sam, apa kau mempunyai obat tetes mata?”
Pak Sam : “Ada. Sebentar saya ambilkan.”
Pak Sam pergi sebentar, kemudian kembali lagi dengan membawa obat tetes mata. Ia menyerahkannya kepada Ryan dan Ryan segera meneteskan obat itu pada matanya. Setelah itu ia kembali ke ruang kerja Jeff.
Saat memasuki ruang kerja Jeff, Ryan menarik napasnya dalam-dalam lagi dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ia kembali berdiri di dekat Jeff yang sedang melihat presentasi dari tim 4.
Wajah Jeff kembali ditekuk-tekuk seperti kertas lipat yang tidak berbentuk. Ryan hanya dapat memejamkan matanya dan menarik napasnya lagi.
Jeff : “Kau sudah beritahu tim 3?”
Ryan yang kelupaan langsung menepuk jidatnya dan segera mencari ponselnya.
Jeff : “Sepertinya kau sudah tak ingin bekerja denganku lagi, Ryan.”
__ADS_1
Ryan : “Tidak, tuan. Saya masih ingin tetap bersama tuan.”
Ryan segera mengirimkan pesan sesuai perintah Jeff kepada tim 3. Jeff masih memeriksa presentasi dari tim 4. Ia masih berekspresi sama dengan tadi bahkan ia terlihat sedang berpikir keras.
Jeff : “Ryan, pecat semua anggota tim 4.”
Ryan : “Tuan...”
Jeff : “Kau mau membantah? Kalau begitu segera kemasi barang-barangmu.”
Ryan : “Ampun, tuan. Saya tidak membantah perintah tuan.”
Jeff : “Kalau begitu beritahu tim 4 untuk segera mengemasi barang mereka besok.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jeff melihat-lihat kiriman email lainnya, namun hanya ada 4 kiriman presentasi dari tim desain.
Jeff : “Sudah lewat 10 menit, tapi tim 2 belum mengirimkan presentasi mereka?”
Jeff : “Pecat mereka! Aku sudah tak membutuhkan mereka lagi.”
Tiba-tiba ada pesan email yang masuk. Jeff segera membuka email itu dan melihat isi email. Email itu kiriman dari tim 2.
Jeff : “Ryan, kirim pesan pada tim 2 untuk mengemasi barang mereka besok. Aku sudah tidak menerima kiriman presentasi mereka walaupun terlambat satu detik saja.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Ryan segera mengetik pesan dan mengirimkannya kepada tim 4 dan 2.
Jeff : “Ryan, kuberi waktu kau 3 hari untuk mencari karyawan baru di tim desain. Dan untuk latar belakang ketiga tim, kuberi waktu 5 hari. Kuharap kau memberiku informasi jauh hari sebelum hari yang aku tentukan.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jeff : “Sudah, pergilah.”
__ADS_1
Ryan membungkukkan badannya dan berjalan keluar ruang kerja Jeff. Ryan harus segera melakukan pekerjaannya, mulai dari membeli tablet baru, merekrut karyawan baru, mencari latar belakang karyawan, dan masih banyak lagi yang harus ia lakukan besok.
Saat berjalan menuruni anak tangga, Ryan berpapasan dengan Jovita. Ia hanya sekedar membungkuk dan menyapa Jovita. Jovita yang melihat Ryan tergesa-gesa kebingungan sendiri.
Jovita : “Ryan, ada apa?”
Ryan : “Tidak ada, nona. Saya undur diri lebih dulu. Selamat malam, nona.”
Jovita : “Hm.”
Jovita segera berjalan menaiki anak tangga dan saat ia akan memasuki kamarnya, Jeff berada di depan pintu kamar Jeff.
Jeff : “Kau berani juga ya.”
Sambil tersenyum misterius.
Jovita : “Apa aku membuat kesalahan?”
Jeff : “Kau tidak sadar?”
Jovita : “Hm...apakah salah jika aku bertanya pada Ryan?”
Jeff berjalan mendekati Jovita.
Jeff : “Sayang, aku bukannya marah saat kau bertanya pada Ryan tentang apa pun itu. Tapi lebih baik kau bertanya lebih dulu padaku, agar aku tidak akan marah padamu.”
Jeff bicara sambil tangannya mengelus-elus kepala Jovita dengan lembut. Jovita yang diperlakukan seperti itu merasa bulu kuduknya berdiri, ia merasa ada aura yang sangat mencekam di dekatnya.
Setelah itu, Jeff langsung berjalan dan masuk ke kamarnya, namun ia keluar dan berjalan mendekati Jovita lagi serta membisikkan sebuah kalimat.
Jeff : “Selamat malam, sayang.”
Sambil mencium pipi Jovita.
Jeff langsung masuk ke kamarnya dan Jovita memegang pipinya sambil berjalan memasuki kamarnya.
__ADS_1