Wanita Malam Dan CEO Kaya

Wanita Malam Dan CEO Kaya
14


__ADS_3

Jovita yang sudah kekenyangan hanya duduk dan menepuk-nepuk perutnya. Tiba-tiba seorang pelayan membawa nampan berisi hidangan penutupnya. Pelayan itu langsung menyajikan es krim dan red velvet cake serta secangkir kopi hitam.


Jovita yang melihat itu langsung menelan air liurnya. Ia tidak tahan dengan es krim dan red velvet cake yang tersaji di depannya. Ia mengelus perutnya yang buncit, tapi ia masih ingin memakan hidangan itu.


Jeff : “Makanlah.”


Sambil menyeruput kopinya.


Jovita : “Tidak. Aku sudah kekenyangan.”


Jeff : “Kekenyangan atau kau takut perut lebih besar?”


Jovita : “Keduanya.”


Jovita berbicara dengan berbisik, Jeff tidak mendengar kata dari Jovita.


Jeff : “Kau bicara apa tadi?”


Jovita : “Tidak apa-apa.”


Jeff tersenyum tipis, ia kembali menyeruput kopinya. Sedangkan Jovita hanya diam sambil air liurnya menetes menahan godaan yang ada di depannya.


Jeff : “Makanlah itu, jika kau tidak memakannya mereka akan membuangnya.”


Jovita : “Membuangnya? Mudah sekali restoran ini membuang makanan yang belum disentuh.”


Jeff : “Restoran ini mengutamakan untuk menyajikan makanan yang baru saja dimasak dan makanan yang sudah tersaji adalah makanan basi.”

__ADS_1


Jovita : “Lebih baik memakannya dari pada dibuang.”


Jovita memakan red velvet cake yang tersaji di depannya. Setelah habis, ia memakan es krimnya. Jeff hanya geleng-geleng kepala melihat Jovita memakan es krim dengan lahap. Jeff menyendok red velvet cake miliknya, namun setelah itu ia tidak memakannya lagi.


Jovita : “Kau tidak menghabiskan cakemu?”


Jeff : “Terlalu manis untukku.”


Jovita : “Apa karena memakan cake sambil melihatku jadi lebih manis?”


Sambil tersenyum lebar pada Jeff.


Jeff : “Hahaha...”


Jeff tertawa lepas melihat Jovita tersenyum lebar padanya.


Jeff : “Kau memang benar-benar manis sayang.”


Jeff : “Jika sepasang kekasih tidak saling memanggil dengan sebutan sayang, harusnya memanggil dengan sebutan apa?”


Jovita : “Terserah, yang terpenting jangan panggil dengan sebutan sayang.”


Jeff : “Kita sedang kasmaran sayang, kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan sayang? Atau kau ingin kupanggil dengan sebutan mami? Atau mama? Atau baby?”


Jovita : “Berhenti! Cukup! Aku merasa telingaku ingin lepas.”


Sambil menutupi kedua telinganya.

__ADS_1


Jeff : “Mami, jangan begitu dong.”


Jovita : “APA??? MAMI??”


Jeff : “Lalu aku harus panggil mama, apa dong?”


Jovita : “MAMA??? Aarrgghhhh...”


Jovita mengulurkan tangannya, ia seperti ingin mencekik Jeff. Namun, Jeff hanya memasang tampang tanpa dosa dan tersenyum lebar. Matanya melirik ke samping dan alisnya naik turun, seperti sedang memberi kode pada Jovita.


Jeff : “Lihatlah ke sana.”


Jovita : “APPAA???”


Jovita melihat ke arah yang Jeff tunjukkan. Ia melihat ada seseorang yang duduk dan memakan makanannya. Namun, satu tangan orang itu seperti sedang memotret.


Jovita yang sadar langsung berpura-pura seperti sedang membetulkan kerah dan dasi milik Jeff. Jeff hanya tersenyum tipis dan tergambar di wajahnya rasa kepuasan. Jovita hanya dapat memasang wajah tersenyum dengan paksaan.


Jovita : “Lihatlah sayang, dasimu sedikit miring dan kerahmu berantakan.”


Jeff terus tersenyum senang, ia memperhatikan Jovita dengan seksama. Setelah sandiwaranya, Jovita kembali duduk dengan anggun dan kembali menghabiskan sisa es krimnya.


Jovita : “Ayo sayang, aku sudah menghabiskan semua makanannya dan aku juga sudah kenyang.”


Sambil tersenyum dengan sedikit terpaksa.


Jeff : “Baiklah, ayo kita pulang."

__ADS_1


Jeff tersenyum lebar dan menggandeng tangan Jovita. Mereka keluar dari restoran dan masuk ke mobil. Dan Jovita langsung melepas tangannya yang bergandengan dengan Jeff.


Jovita : “Sudah cukup sandiwaranya.”


__ADS_2