
Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi, namun di dalam mobil tidak terasa melaju dengan kecepatan tinggi dan suara deru mobil pun tak terdengar. Jovita hanya diam saja dan melihat jalanan dari jendela. Sedangkan Jeff sedang berkutit dengan laptopnya, entah apa yang sedang ia kerjakan.
Mobil tiba di sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi. Seorang satpam membuka gerbang rumah tanpa di suruh. Mobil masuk ke halaman rumah. Rumah itu dicat dengan warna putih dan abu-abu, sedangkan pagarnya dicat abu-abu semuanya. Rumah luas dan besar dengan gaya modern dan warna gelap yang mendominasi rumah.
Ryan mematikan mesin mobil, ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Jeff. Saat Jeff turun sudah ada seorang lelaki yang berdiri di depan pintu rumah. Lelaki itu sepertinya seorang kepala pelayan dari rumah Jeff. Karena berpakaian amat sangat rapi bahkan kusut dari pakaian saja tidak terlihat, rambutnya tertata rapi dan kelimis, ada kumis nyentrik melintir yang menghiasi wajahnya. Namun lelaki itu seperti sudah berumur 50 tahunan.
Kepala Pelayan : “Selamat datang, tuan.”
Jeff : “Sam, dia adalah Jovita.”
Kepala Pelayan : “Selamat datang, Nona Jovita.”
Jovita : “I..iya.”
Jeff : “Jangan gugup, sayang. Dia tidak akan menembakmu atau membunuhmu.”
Jovita : “Dia bisa menembak?”
Jeff : “Jangan pikirkan.”
Jeff merangkul pinggang Jovita untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah. Namun, saat menginjakkan kaki di dalam rumah melewati dua pintu besar, sudah ada sekitar dua puluh pelayan wanita yang berjajar di samping kanan dan kiri. Mereka semua seperti menyambut seorang raja di rumah itu, mereka juga menyapa seperti Pak Sam tadi. Pak Sam dan Ryan mengikuti Jeff dan Jovita, di belakang mereka.
__ADS_1
Jeff : “Dengar!! Dia adalah Jovita, kekasih baruku. Dia akan tinggal di sini selama sebulan. Dan jika dia membutuhkan sesuatu kalian harus melayani dia dengan baik dan jangan sampai membuat kesalahan apapun.”
Jovita yang mendengar perkataan dari Jeff hanya bisa menganga. Dalam batinnya, aku akan tinggal di sini selama sebulan?
Jeff : “Ada apa, sayang? Lihatlah air liur hampir membuat rumahku banjir.”
Jovita yang sadar mengatupkan mulutnya. Ia juga mengelap mulutnya dan mencari air liur yang dikatakan Jeff.
Jovita : “Tunggu. Kau tadi bilang apa? Sayang?”
Jeff : “Iya, sayang. Apakah salah?”
Jovita : “Dan ya, sejak kapan kau merangkul pinggangku?”
Jovita : “Siapa yang bilang jika aku membuat banjir rumahmu dengan air liurku? Dan ya, lebih baik kau hentikan memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ aku risih mendengarnya.”
Jeff memicingkan matanya dan tersenyum, kemudian ia lebih mengeratkan rangkulannya pada pinggang Jovita. Lalu ia mendekatkan mulutnga ke telinga Jovita dan membisikkan kata ‘sayang’. Jovita yang mendengarnya langsung mendorong Jeff dan sedikit menjauh dari Jeff. Jeff tertawa melihat reaksi dari Jovita.
Jeff : “Sam, antarkan Jovita ke kamarnya.”
Pak Sam : “Baik, tuan.”
__ADS_1
Pak Sam mengantarkan Jovita ke kamar Jovita diikuti dengan dua pelayan wanita. Pak Sam membukakan pintu kamar dan saat pintu terbuka, terlihat desain kamar yang sangat feminim dan hampir sama dengan kamar Jovita di klub. Namun, ada beberapa perabotan yang ditambahkan seperti sofa, televisi, kursi santai yang menghadap ke balkon, pintu kaca dengan gorden panjang menuju ke balkon.
Pak Sam : “Ini kamar Anda, nona.”
Jovita : “Em...sepertinya ada yang salah, ya?”
Pak Sam : “Apa yang salah nona. Apa ada hal yang kurang?”
Jovita : “Ini benar kamar untukku, Pak Sam?”
Pak Sam : “Benar, nona. Dan tolong, jangan panggil saya dengan sebutan pak.”
Jovita : “Em...tapi aku tidak bisa untuk itu. Em..kalau begitu aku istirahat dulu.”
Pak Sam : “Baik, nona. Namun, sebelum itu, silahkan nona untuk membersihkan diri. Mereka akan membantu nona.”
Jovita : “Em...oke.”
Jovita masuk ke dalam kamarnya dan Pa Sam menutup pintu kamar. Jovita diminta untuk masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan badan. Mulai dari luluran, pijatan badan, mandi, keramas, pedicure, menicure, dan entah apa lagi.
Setelah selesai dengan semua ritualnya, Jovita keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar dan wangi. Bahkan ia merasa tubuhnya lebih rileks, tenang, dan ringan seperti semua beban hidupnya terangkat. Dua pelayan yang membantunya keluar dari kamar setelah mengeringkan rambut Jovita dan sedikit mengaplikasikan make up ke wajah Jovita.
__ADS_1
Setelah itu, Jovita merebahkan tubuhnya di kasur yang nyaman dan empuk. Ia merasa jika kasurnya dulu kalah empuk dengan kasur di rumah Jeff. Dalam hitungan detik pun Jovita sudah pergi ke alam mimpi. Ia bahkan sudah tidak mendengar suara ketukan pintu kamarnya.