
Jeff dan Jovita menikmati minuman masing-masing. Jovita meminta izin dengan Jeff ke kamar mandi. Jovita pergi ke kamar mandi dan kembali dengan cepat.
Jeff : “Sudah?”
Jovita : “Hm.”
Jeff : “Ayo kita ke sana.”
Sambil menunjuk keluar.
Jovita : “Ayo.”
Mereka berjalan menuju keluar. Namun, saat mereka akan di luar, tiba-tiba Jeff dipanggil oleh salah satu kliennya yang tengah berbincang dengan David.
Mr. Bryan : “Halo, tuan Jeff.”
Jeff : “Halo, Mr. Bryan.”
Mr. Bryan : “Bagaimana dengan perkembangan perusahaan?”
Jeff : “Cukup baik.”
Mr. Bryan : “Bagus-bagus, semoga saja aku mendapat bagian banyak. Hahaha...”
Jeff : “Hahaha...”
Mr. Bryan : “Baiklah aku akan pergi dahulu, kita lanjut di perusahaan saja.”
Sambil senyum pada Jeff dan Jovita.
David : “Sepertinya setiap klienmu pasti klienku juga Jeff.”
Jeff : “Heh, sepertinya seperti itu Tuan Walker.”
David : “Dan aku perhatikan...setiap pesta kau selalu membawa wanita yang beda, Tuan Derrick.”
Jeff : “Oh, rupanya kau sangat perhatian denganku, padahal aku tidak mengharapkan hal itu darimu.”
David : “Oh, benarkah? Aku pikir kau juga sangat memperhatikanku.”
Jeff : “Aku tidak ingin memperhatikanmu dan aku tidak ingin memikirkanmu.”
David : “Beruntung sekali aku. Dan nona cantik, jangan terlalu berharap pada Jeff Derrick ini, karena di hadapannya, kau hanyalah sebuah mainan, tidak lebih.”
Jovita hanya diam, ia mendengarkan kata-kata dari David dengan cuek. Karena ia berpikir, jika ia dibayar hanya untuk itu. David pergi dari sana dan Jeff merasa geram karena David mengatakan hal seperti itu pada Jovita.
Jeff : “Ayo!”
Jeff dan Jovita menuju geladak kapal.
Jovita : “Jeff, tunggu. Kita cari bir kaleng, lalu kita nikmati di geladak bersama.”
__ADS_1
Jeff : “Bir kaleng?”
Jovita : “Iya, itu akan tambah asyik, bukan?”
Jeff : “Sepertinya iya. Em...pelayan.”
Pelayan : “Ada yang bisa saya bantu, tuan?”
Jeff : “Apakah ada bir kaleng?”
Pelayan : “Bir kaleng? Em...ada...namun, ada bir gelas, anggur, koktail, tuan.”
Jeff : “Aku tidak ingin itu, aku ingin bir kaleng. Sepuluh kaleng jika ada.”
Pelayan : “Baik, tuan.”
Pelayan itu pergi dan kembali ke hadapan Jeff dengan membawa sepuluh buah kaleng bir. Ia menyerahkan pada Jeff, Jeff menerimanya dan memberi setengah pada Jovita. Mereka berjalan menuju geladak kapal.
Jeff dan Jovita duduk di lantai geladak, mereka menikmati bir kaleng dengan dinginnya air laut yang menerpa mereka. Jovita mulai kedinginan karena angin laut sangat dingin saat malam hari. Jeff melepas jasnya dan memakaikannya pada Jovita.
Jeff : “Hangat?”
Jovita : “Sedikit.”
Jeff membuka salah satu kaleng, lalu menyerahkan pada Jovita. Jovita menerimanya dan langsung meneguknya. Ia mulai minum dengan baik dan menghembuskannya dengan baik pula. Jeff membuka satu untuknya.
Jeff : “Enak?”
Jeff : “Bagaimana dengan begini?
Jeff merangkul pundak Jovita dan mendekatkan dirinya pada Jovita. Mereka seperti layaknya sepasang kekasih yang tengah menikmati dinginnya angin laut dan saling menghangatkan bersama dengan bir yang ada di tangan mereka.
Jeff : “Apa kau akan kuat minum?”
Jovita : “Sebenarnya aku kuat untuk minum.”
Jeff : “Benarkah?”
Jovita : “Hm...tapi aku membohongimu, hahaha...”
Jeff : “Rupanya kau bisa membohongiku, hm.”
Jovita : “Kau tak akan menyangkanya, kan? Tapi aku tak pernah minum saat aku bekerja di klub.”
Jeff : “Lalu kapan kau minum?”
Jovita : “Saat tengah hari, hampir tiap hari aku minum saat siang hari.”
Jeff : “Benarkah? Kau ternyata sangat kuat.”
Jovita : “Kau mau melawanku?”
__ADS_1
Jeff : “Kau menantangku?”
Jovita : “Hm.”
Jeff : “Sekarang?”
Jovita : “Jangan...entah kapan, tapi kita harus bertarung minum.”
Jeff : “Aku terima tantanganmu.”
Jovita : “Bagus. Oh, ya Jeff.”
Jeff : “Hm?”
Jovita : “Kau...kenapa tinggal sendirian?”
Jeff : “Benarkah?”
Jovita : “Hei, maksudku dimana keluargamu? Atau saudaramu? Dan kenapa Ryan selalu ada bersamamu? Apakah dia tidak memiliki dunia sendiri? Atau kau yang membuatnya tidak memiliki dunia sendiri?”
Jeff : “Hei...apakah aku terlihat sekeji itu pada Ryan? Aku tidak sekeji itu padanya, dia bekerja dan aku membayarnya. Artinya aku tidak keji pada Ryan.”
Jovita : “Apakah semuanya bagimu dapat dinilai?”
Jeff : “Bukankah benar? Semua orang selalu membutuhkan uang. Bahkan ada beberapa orang yang menganggap bahwa segalanya membutuhkan uang, bukan?”
Jovita : “Jeff, memang benar segalanya membutuhkan uang, tapi uang bukanlah segalanya. Jadi biarkanlah beberapa hari dia menikmati dunianya, seperti mencari kekasih, membuat wajahnya tersenyum, melakukan perawatan tubuh, minum-minum...”
Jeff : “Hei, kekasihmu itu akh atau dia?”
Jovita : “Tuan Jeff...apa kau lupa kita ini apa?”
Jeff : “Iya...aku tahu, tapi sepertinya kau lebih mengkhawatirkan dia ketimbang aku.”
Jovita : “Bukannya aku mengkhawatirkan dia, tapi aku kasihan dengan wajahnya yang selalu datar seperti itu, tidak ada guratan bekas senyuman atau tertawa. Aku prihatin dengannya jika lama-lama ia bekerja denganmu, dia hanya akan hidup sendirian selamanya.”
Jeff : “Ya-ya, sudahlah jangan bahas dia, malas aku juga bahas dia.”
Jovita : “Kau akan berikan dia liburan, kan? Sehari saja, biarkan dia merasakan hari tanpa beban, ya?”
Jeff : “Akan kupikirkan lagi.”
Jovita : “Nggak perlu kau pikirkan...besok kita menghadiri pesta pernikahan putri klienmu. Lalu biarkan dia berlibur sendirian di pantai atau berkeliling pulau.”
Jeff : “Ya-ya, aku akan beri dia waktu libur sehari. Puas?”
Jovita hanya mengangguk setuju.
Jeff : “Tapi sebagai gantinya, kau harus selalu ada bersamaku, tidak boleh pergi sendirian, tidak boleh pergi tanpa pamit, dan harus selalu ada di sampingku.”
Jovita menarik napas berat lalu menghembuskan, kemudian ia mengangguk setuju. Jeff mendentingkan kalengnya pada kaleng Jovita, menandakan kesepakatan. Mereka meminum bir bersama di atas geladak kapal sampai tengah malam.
__ADS_1