
David mendekat pada Jovita dan saat itu juga Jeff kembali setelah ia membeli es krim. Jeff melihat David mendekat pada Jovita dan ia langsung membuang es krimnya dan berteriak.
Jeff : “David!!!”
David dan Jovita menoleh pada Jeff yang marah. Jeff berjalan dengan cepat dan menarik tangan Jovita dengan kasar. Tubuh Jovita refleks memeluk tubuh Jeff dan Jeff memeluk erat tubuh Jovita.
Jeff : “David! Berani-beraninya kau menggoda pacarku.”
David : “Pacar? Bukannya dia hanya mainanmu?”
Jeff : “Jaga mulutmu, b*j****n!”
Jeff melepas pelukannya dari tubuh Jovita dan langsung menghantam wajah David. Ujung bibir David langsung berdarah akibat dari tonjokan Jeff. Beberapa orang yang ada di sana melihat perkelahian itu dan saling berbisik-bisik.
Sementara Jovita hanya terkejut sambil menutup mulutnya saat melihat Jeff meninju wajah David. Ia hanya diam sesaat dan hanya bisa melihat perkelahian itu. Jeff meraih kerah baju David lalu menghantam wajahnya lagi.
Jeff : “Ini untuk keberanianmu yang menggoda wanitaku.”
Jeff : “Ini untuk keberanianmu karena telah menyebut wanitaku sebagai mainan.”
David mulai bangkit sebelum Jeff menarik kerahnya dan menghantamnya lagi.
David : “Tapi itu memang benar, kan?”
Jeff terbakar amarahnya dan ia ingin menonjok wajah David lagi. Namun, seseorang langsung menghadangnya dan memegang kepalan tangannya.
Jeff : “Lepaskan aku Ryan! Aku ingin membuat wajahnya babak belur dan tidak akan ada wanita yang mau dengannya!”
Ryan : “Tenang, pak. Saat ini bapak menjadi tontonan orang banyak, jangan membuat malu diri bapak.”
Jeff menurunkan kepalan tangannya dan melihat sekitarnya. Ia melihat banyak orang yang berbisik-bisik dan melirik padanya. Ia melihat juga Jovita hanya menutup mulutnya dan diam di tempatnya sejak tadi.
Jeff : “Apa kau tahu apa yang telah dia katakan?”
Dengan berteriak-teriak.
Ryan : “Tenang, pak. Ingat, jangan membuat malu diri bapak.”
Jeff memejamkan matanya dan mengeratkan kepalan tangannya. Ia mencoba menahan amarahnya, lalu ia menarik napasnya dan menghembuskannya. Ia berjalan mendekati Jovita, seketika menggenggam tangan Jovita. Dan mengajak Jovita pergi.
Ryan yang ada di sana mendekati David. Ia memberi hormat kepada David dan meminta maaf kepadanya. Ia juga bilang untuk mengirimkan bill biaya pengobatan wajah David kepadanya dan segera akan diganti oleh Ryan. Kemudian David pergi dari sana mengikuti bosnya yang sudah pergi jauh.
Jeff dan Jovita kembali ke vila, Ryan berada di belakang mereka. Jeff masuk ke kamar mereka dan langsung mengunci kamar mereka. Ryan yang melihat bosnya dan kekasih bosnya di dalam kamar yang terkunci, hanya diam di depan pintu kamar bosnya.
Jeff melempar Jovita ke atas kasur. Lalu ia meraih botol wine yang ada di atas meja dan duduk di sofa. Ia langsung meneguk wine dari botolnya. Sementara Jovita hanya diam melihat hal itu, ia tidak berani mendekati Jeff. Ia berpikir ingin keluar dari kamar dan ingin memberi Jeff waktu untuk sendiri.
__ADS_1
Jovita bangkit dan berjalan mendekati pintu. Namun saat ia akan memegang gagang pintu, Jeff melempar gelas wine ke arah Jovita. Seketika Jovita langsung terkejut dan ada rasa sedikit takut di hatinya.
Jeff : “Jangan berani-beraninya kamu keluar dari kamar ini!”
Berteriak pada Jovita.
Jovita hanya diam dan sedikit meringkuk, ia benar-benar ketakutan saat itu. Ia kembali ke atas kasur dan duduk di pinggir kasur sambil melihat Jeff yang minum wine langsung dari botolnya. Jeff tetap minum wine hingga wine itu habis.
Setelah Jeff habis satu botol, Jeff merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia menekan tombol telepon dan memesan 10 botol wine pada orang yang ada di seberang teleponnya. Kemudian ia menutup teleponnya dan membuang ponselnya sembarang.
Jovita mulai mendekati Jeff, ia mencoba membujuk Jeff. Jovita duduk di dekat Jeff dengan kepala menunduk, ia cukup ketakutan dengan wajah Jeff saat itu.
Jovita : “Jeff...”
Jovita : “Apa kau bisa...membatalkan pesananmu...tadi?”
Jeff : “Nggak.”
Jovita : “Jeff...jangan siksa dirimu...”
Tok...tok...tok...suara pintu kamar mereka di ketuk. Jovita akan berdiri, namun Jeff menahannya dengan memegang tangan Jovita.
Jeff : “Kau tidak boleh membukanya.”
Jovita : “Lalu siapa yang akan membukakannya?”
Kemudian Jeff menyandarkan kepalanya di bahu Jovita. Selang beberapa menit kemudian, Jeff berdiri dan membukakan pintu. Ia membawa 10 botol wine di tangannya. Ia duduk, kemudian membuka salah satu botol dan meminumnya langsung dari botol.
Jeff : “Ayo minum, sayang.”
Jeff menyodorkan botol minumannya pada Jovita. Jovita langsung menolaknya dan merebut botol itu.
Jovita : “Jeff, jangan gila kau.”
Jeff : “Gila? Aku sudah tergila-gila padamu, sayang.”
Jeff memonyongkan bibirnya pada Jovita. Dan Jovita langsung menutup bibir Jeff. Ia merasa jika Jeff memang benar-benar sudah tidak waras.
Jovita : “Jeff...sepertinya kau sudah tidak waras. Ayo kita ke kamar mandi dan membuatmu waras.”
Jovita mencoba membopong tubuh Jeff yang berat dan mencoba untuk melawan Jovita. Ia tertatih-tatih membawa tubuh Jeff ke kamar mandi. Namun, pada akhirnya ia berhasil membawa tubuh Jeff masuk ke kamar mandi.
Jovita langsung memasukkan Jeff di bathtub. Ia menyalakan kran air dingin, seketika Jeff menarik tubuh Jovita untuk masuk ke dalam bathtub. Tubuh Jovita langsung basah semua dan ia memukul tubuh Jeff.
Jovita : “Jeff...apa kau gila???”
__ADS_1
Jeff : “Ti..dak..muah...”
Jeff langsung mencium pipi Jovita dan Jovita langsung menjitak kepala Jeff. Jeff mengaduh kesakitan, kemudian ia menenggelamkan kepalanya di air. Jovita keluar dari bathtub dan membersihkan tubuhnya lagi di box shower. Mereka keluar setelah 30 menit kemudian.
###
Jovita keluar lebih dulu dan Jeff keluar kemudian masih dengan sifat manjanya. Namun, ia sebenarnya sudah sadar sepenuhnya. Jovita duduk di kasur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sementara Jeff masih tetap manja seperti kucing.
Jovita : “Jeff...jangan seperti itu, sini kukeringin rambutmu.”
Jovita mengeringkan rambut Jeff dengan handuk miliknya tadi. Jeff hanya menurut saja.
Jeff : “Sayang?”
Jovita : “Hm?”
Jeff : “Apa kau suka dengan David?”
Jovita : “David? Tuan Cerewet, ya?”
Jeff : “Hm...”
Jovita : “Entah.”
Jeff : “Jawab dengan jujur! Apa kau suka dengan David?”
Jovita : “Bukannya aku suka dengannya, tapi jika dia menyewaku, maka aku harus menyukainya, kan?”
Jeff : “Artinya kau suka padanya, ya kan? Sudahlah, aku nggak mau bicara denganmu.”
Jeff berdiri dan ia terlihat marah pada Jovita. Jovita mencoba untuk membujuknya dan memintanya duduk lagi. Namun, Jeff sepertinya memang marah pada Jovita.
Jovita : “Jeff...dengarkan aku dulu.”
Jeff duduk di atas kasur dan ia bersiap untuk berbaring. Namun Jovita menarik tangannya dan membuat Jeff duduk lagi.
Jovita : “Dengerin aku, Jeff. Aku bukan orang yang bisa menyukai satu orang saja, tapi aku harus menyukai banyak orang, terutama mereka yang sudah membayarku. Jadi kau tidak bisa menyimpulkan jika aku bilang aku suka pada David...”
Jeff : “Itu kamu bilang suka sama David.”
Jeff menyela perkataan Jovita. Jovita mencubit lengan Jeff.
Jovita : “Dengerin dulu, dong. Itu cuma seumpama, belum tentu benar dan belum tentu sa...lah...”
Jeff : “Sudahlah mau tidur. Jangan ganggu aku.”
__ADS_1
Jeff kembali berbaring dan Jovita mencoba untuk membujuk Jeff lagi, namun sia-sia. Jeff tidak ingin mendengar perkataan Jovita lagi, ia lebih memilih tidur. Jovita yang frustrasi keluar dari kamar dan pergi untuk menyegarkan pikirannya.