
Di pagi harinya, Jovita terbangun lebih dulu. Ia merasa jika guling yang ia peluk sangat hangat dan lebar. Ia memeluk lebih erat guling yang ia peluk, tiba-tiba saja ada suara seperti orang yang tercekik. Dengan refleks, Jovita melepas pelukannya pada gulingnya itu. Dan ia tersadar jika guling yang ia kira itu adalah tubuh Jeff.
Jeff : “Apa kau ingin merusak tulang-tulang rusukku?”
Jovita : “Maaf...eh, tunggu dulu, apa kau memelukku semalaman?”
Jeff : “Iya...memangnya kenapa?”
Jovita : “Kau melanggar kontrak!”
Jeff : “Jangan asal bicara kamu! Semalam siapa yang menarikku lalu memeluk tubuhku? Siapa?”
Jovita : “Apa? Mungkin kau yang memelukku.”
Jeff : “Yang benar saja.”
Jovita : “Lalu apa tadi? Apa kau bisa menunjukkan jika bukan kau yang memelukku lebih dulu?”
Jeff : “Apa aku terlihat membohongimu?”
Jovita : “Berarti benar jika kau yang memelukku lebih dulu, ya kan?”
Jeff : “Aku sudah bilang padamu jika kau yang lebih dulu memelukku.”
Jovita : “Yang benar saja, aku yang memelukmu lebih dulu. Untuk apa aku memelukmu lebih dulu dan keuntungan apa yang kudapatkan jika aku memelukmu lebih dulu.”
Jeff : “Jangan mengelak kau.”
Jeff berdiri lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan kasar, hingga membuat Jovita terkejut dengan hal itu. Jovita hanya diam, ia merasa jika Jeff sangat marah padanya.
Jovita : “Apa benar jika aku yang memeluknya lebih dulu? Oh tidak...sepertinya iya...huft...”
Jovita bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mandi. Ia menempelkan telinganya ke pintu dan mendengar seseorang tengah mengguyur badannya dari atas kepala hingga ujung kakinya.
Jovita : “Sepertinya dia tengah mendinginkan dirinya.”
Jovita melihat ke arah meja sofa yang semalam mereka duduki dan minum bersama. Jovita mulai membersihkan tempat itu, karena banyak barang yang berserakan di atas meja sambil menunggu Jeff mandi.
Butuh waktu yang lama untuk Jovita menunggu Jeff yang tengah berada di kamar mandi. Bahkan Jovita sudah menyelesaikan pekerjaan kecil yang bisa ia kerjakan di kamar itu. Mulai dari membersihkan meja sofa yang berserakan, membersihkan tempat tidur, menyiapkan baju untuk Jeff dan dirinya, memasukkan baju kotor ke koper, dan entah apalagi yang ia kerjakan.
Jovita menunggu Jeff sambil duduk di sofa dan bermain ponselnya. Tak lama kemudian, Jeff keluar dari kamar mandi berbalut dengan jubah mandi dan rambut basah. Jovita yang melihat Jeff pertama kalinya seperti itu langsung melihatnya dengan berbinar-binar, padahal biasanya Jeff melilit tubuh bagian bawahnya saja dengan handuk.
Jeff : “Cepat mandi!”
Jovita : “Ha? Oh ya.”
Jovita berjalan menuju kamar mandi dengan tetap melihat Jeff yang terlihat cool saat seperti itu. Hingga Jovita hampir menabrak pintu kamar mandi, namun pintu itu selamat tidak jadi ditabrak Jovita.
Jovita mandi tanpa menghabiskan waktu yang lama seperti Jeff sebelumnya. Ia keluar dengan pakaian yang sama dengan Jeff, namun rambutnya dibuat menjadi cemolan yang indah. Saat Jovita keluar kamar mandi, Jeff sudah siap untuk jalan-jalan.
__ADS_1
Jovita : “Kau sudah siap?”
Jeff : “Hm.”
Jovita : “Apa kau masih marah?”
Sambil memasang wajah imut pada Jeff.
Jeff : “Cepat pakai bajumu.”
Jovita : “Baik...”
Jeff : “Aku tunggu di luar.”
Sambil berjalan menuju pintu.
Jovita mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Jovita keluar kamar dengan keadaan rapi dan cantik.
Jovita : “Sudah.”
Jeff tengah berbicara dengan Ryan dan salah satu klien.
Jeff : “Baik, kami akan lakukan yang terbaik.”
Klien : “Bagus, saya tunggu kabar baiknya.”
Jeff : “Tentu.”
Jeff : “Ryan, hari ini kau libur, jadi nikmati liburanmu mumpung kau di sini.”
Ryan : “Baik, tuan. Terima kasih atas liburannya.”
Jeff : “Hm.”
Jeff menggenggam tangan Jovita dan mengajaknya ke restoran. Mereka sarapan di sebuah restoran dekat vila mereka. Tidak ada percakapan selama sarapan, Jovita ingin memulai percakapan namun ia enggan. Sementara Jeff entah apa yang sedang ia pikirkan. Setelah selesai sarapan, mereka keluar dari restoran dan tetap diam berdiri di depan pintu keluar restoran.
Jeff : “Kau mau kemana?”
Jovita : “Hm? Terserah, aku akan ikuti kamu.”
Jeff hanya berjalan di depan Jovita, tanpa menggenggam tangannya atau meliriknya yang ada di belakangnya. Dan Jovita hanya menurut mengikuti Jeff berjalan entah ke mana.
Mereka berjalan-jalan seakan-akan sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Mereka berjalan hingga tiba di sebuah taman kecil. Jeff duduk di salah satu bangku yang ada begitu pula Jovita.
Jovita : “Apa kau masih marah?”
Jeff hanya diam, ia bahkan tak melihat ke arah Jovita yang sedang berbicara dengannya.
Jovita : “Jeff...”
__ADS_1
Jovita : “Iya, aku yang salah...maafkan aku.”
Jeff mulai mau menatap ke arah Jovita.
Jeff : “Kau tulus minta maaf padaku?”
Jovita hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Jeff memegang dagu Jovita dan mendongakkan kepala Jovita.
Jeff : “Benar-benar tulus?”
Jovita : “I...iya...”
Jeff : “Anak baik.”
Sambil memeluk tubuh Jovita.
Saat mereka berpelukan di tengah taman, ada suara penjual es krim. Seketika Jovita mencari-cari sumber suara itu.
Jovita : “Jeff...ada penjual es krim, tuh.”
Jeff : “Kamu ingin es krim?”
Jovita : “Hem...”
Sambil mengagukkan kepalanya.
Jeff : “Tunggu di sini, aku akan membelikannya untukmu.”
Jeff berjalan menuju tempat penjual es krim. Dan ia sedikit kesal karena harus mengantre dengan beberapa anak kecil.
Jovita tengah menunggu Jeff yang membeli es krim, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya. Jovita melihat ke arah orang yang menepuk pundaknya itu.
David : “Halo, nona cantik.”
Jovita : “Cih, tuan cerewet. Ada apa lagi kau kemari?”
David : “Tidak ada, aku hanya ingin melihat-lihat pulau ini.”
Jovita : Jika ingin melihat-lihat pulau, kenapa harus menyapaku? Silakan Anda pergi berkeliling melihat-lihat pulau.”
David : “Hei...nona cantik...kenapa bahasamu sangat membuatku tersakiti?”
David duduk di samping Jovita dan mepet dengan Jovita. Jovita yang merasa dipepet oleh David langsung bergeser memberi jarak. David pun mencoba mendekat ke Jovita lagi dan Jovita melakukan hal yang sama. Hingga mereka berhenti, saat Jovita sudah berada di ujung bangku.
Jovita : “Ada sih? Kenapa kau terus mepet?”
David : “Entahlah, rasanya aku ingin selalu berada di dekatmu, nona cantik.”
Jovita : “Jangan membuat bualan. Pergi sana!”
__ADS_1
David memicingkan matanya dan tersenyum kecil pada Jovita. Lalu tangannya merangkul pundak Jovita dan mendekatkan wajahnya ke telinga Jovita. Seketika, ada suara teriakan yang meneriaki David.