
Pagi hari di rumah Jeff
Jovita sudah berpakaian dengan rapi dan cantik, ia terlihat anggun saat menuruni anak tangga. Ia sudah menyelesaikan ritual di kamar mandi dibantu oleh dua orang pelayan yang selalu ke kamarnya. Ia menuju ke dapur, namun seorang pelayan menghentikannya dan memintanya untuk ke ruang makan.
Jovita : “Selamat pagi, Pak Sam.”
Pak Sam : “Selamat pagi, nona.”
Jovita : “Jeff belum turun?”
Pak Sam : “Belum, nona. Tuan masih berada di kamarnya.”
Jovita : “Aku akan memanggilnya.”
Pak Sam hanya mengangguk dan sedikit membungkukkan badan, saat Jovita membalikkan badannya. Ia naik ke lantai dua, lalu mengetuk pintu kamar Jeff.
Jeff masih betah di bawah selimutnya dan memejamkan matanya. Ia bahkan tak mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Padahal Jovita sudah mengetuk pintu ribuan kali, namun Jeff masih belum membuka matanya.
Drrtt...drrtt...drrtt...suara ponsel Jeff bergetar. Jeff yang merasa terusik dengan suara getaran dari ponselnya langsung membuka matanya dan mengangkat telepon itu.
*mode telepon*
Jeff : “Halo, ada apa?”
Ryan : “Selamat pagi, tuan. Saya ingin melapor, jika tim 1 telah mengirimkan presentasi mereka.”
Jeff : “Hm.”
Jeff langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Ryan yang teleponnya di tutup secara tiba-tiba hanya dapat melihat layar ponselnya yang menunjukkan telepon telah diputus. Jeff melempar ponselnya di sampingnya, ia mengacak-ngacak rambutnya dan bangkit. Jovita masih mengetuk pintu kamar Jeff dan tiba-tiba pintu terbuka.
Jeff : “Ada apa?”
Jeff membuka pintu dengan penampilan rambut yang masih acak-acakan, kaos putih ketat, dan celana pendek. Ditambah dengan ekspresi kesal yang tergambar di wajahnya. Jovita hanya melihat Jeff, lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Jovita : “Sarapan sudah siap. Apa kau tidak ke kantor?”
Jeff : “Aku pemilik perusahaan, terserah aku mau datang jam berapa.”
Jovita : “Baiklah, aku hanya ingin memberitahumu jika sarapan sudah siap.”
Jovita berbalik badan dan hendak kembali ke ruang makan. Namun tangan Jeff menarik tangan Jovita.
Jeff : “Bantu aku bersiap.”
Jovita : “Bersiaplah sendiri. Kenapa aku harus membantumu?”
Jeff : “Apa kau sudah lupa tentang apa yang kukatakan kemarin? Cepat masuk!”
Jovita : “Hm.”
Jovita masuk ke kamar Jeff, kamar itu masih remang-remang dengan lampu tidur yang menerangi seisi kamar. Jeff mengambil handuk di lemarinya dan Jovita membuka gorden, serta mematikan lampu tidur. Jeff masuk ke kamar mandi, sedangkan Jovita membereskan tempat tidur Jeff.
Tak lama kemudian, Jeff keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Ia juga menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Jovita sudah menyiapkan pakaian Jeff dan ia meletakkannya di atas sofa.
Jeff yang masih menggosok rambutnya, malah duduk di sofa.
Jovita : “Jeff...cepat pakai bajumu. Aku ingin sarapan.”
Jeff : “Kau rupanya sudah kelaparan, sayang.”
Jovita : “Cepatlah Jeff! Atau aku tinggal kau.”
Jeff : “Baiklah-baiklah.”
Jeff mengambil kemeja dan celananya, ia masuk ke kamar mandi dan keluar sudah memakai pakaian. Jeff kembali duduk di sofa, ia menyalakan rokoknya. Jovita yang sebal melihat Jeff bersantai-santai langsung berdiri di belakang Jeff sambil membawa hairdryer.
Jovita mengeringkan rambut Jeff dan menyisirnya. Ia terlihat seperti sudah terbiasa mengurus hal seperti itu. Ia bahkan memakaikan dasi Jeff dan jasnya juga, bahkan ia juga memasangkan kaos kaki dan sepatu Jeff. Sedangkan Jeff masih menikmati rokoknya dan saat semua sudah terpasang, Jeff baru mematikan rokoknya.
__ADS_1
Jeff : “Kau ternyata sangat terlatih.”
Jovita : “Untuk hal ini? Aku bukan terlatih, tapi sudah terbiasa.”
Jeff : “Kau terbiasa memakaikan pakaian orang yang telah menidurimu?”
Jovita bangkit setelah mengikat tali sepatu Jeff.
Jovita : “Aku sudah bilang padamu, jika aku tidak melayani mereka tidur, bahkan kau juga.”
Jeff : “Kau berani juga berbicara seperti itu.”
Jovita : “Kenapa aku tidak berani, asal perlu kau ingat, aku bukan wanita murahan ataupun j*****.
Jeff tersenyum tipis, Jovita membalikkan badan lalu pergi meninggalkan Jeff. Jovita kembali ke ruang makan dan duduk di salah satu kursi, dipiringnya sudah terhidang sarapannya.
Tak lama kemudian, Jeff turun dan berjalan ke ruang makan. Ia duduk di tempat biasanya dan sarapan sudah terhidang dipiringnya. Jeff langsung memakan sarapannya, sedangkan Jovita masih menghabiskan setengah jus miliknya.
Tidak ada percakapan atau pun suara saat itu. Jeff dan Jovita terlihat sibuk dengan sarapan masing-masing. Hingga sarapan usai masih tetap tidak ada suara. Jeff yang sudah selesai sarapan, langsung berdiri.
Jeff : “Sam!”
Pak Sam : “Ada perintah apa, tuan?”
Jeff : “Ryan belum kemari?”
Pak Sam : “Tuan Ryan sudah ada di depan, tuan.”
Jeff mendekati Jovita yang masih menghabiskan sarapannya. Ia mengelus kepala Jovita dan mengecup kepala Jovita.
Jeff : “Aku berangkat kerja dulu, sayang.”
Jeff langsung pergi meninggalkan Jovita yang masih mematung. Ia sedikit terkejut dengan perlakuan Jeff, padahal selama ini ia belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Saat ia tersadar, Jeff sudah berangkat menuju kantor.
__ADS_1
*****
#Author minta maaf, karena author tidak bisa up tiap hari. Tapi, author akan up tiap hari sabtu dan minggu.#