
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, berjalan menuju tempat tujuan. Selama di perjalanan, Jovita hanya dapat melihat gedung-gedung perkantoran atau apartemen yang berjajar di sepanjang jalan. Tiba-tiba sopir yang mengantarkan Jovita berkata jika ia hampir sampai.
Tak lama, mobil itu berhenti di sebuah kafe yang sangat minimalis, elegan, dan sangat pas untuk sepasang kekasih berkencan. Jovita yang sudah turun dari mobil dan memperhatikan kafe, hanya bisa keheranan sendiri.
Jovita : “Kenapa orang itu memintaku bertemu di sini?”
Ia berbicara pada dirinya sendiri.
Jovita : “Dan namanya dengan model tempatnya sangat aneh.”
Tanpa pikir panjang lagi, Jovita berjalan mendekati kafe itu. Sebelum mendekati kafe, ia mengatakan kepada sopirnya untuk tidak menunggunya dan menjemputnya pukul sepuluh tiga puluh. Ia berjalan dengan santai dan elegan, lalu mendorong pintu kafe. Ia mendekati meja kasir sambil melihat daftar menu.
Jovita : “Tolong, cafe lattenya satu dan marshmallow slicenya satu.”
Kasir : “Baik, nona. Meja nomor berapa? Dan atas nama?”
Jovita : “Lima, Vita.”
Kasir : “Baik, silakan nona.”
Jovita pergi ke mejanya, tanpa menunggu lama seorang pria duduk di depannya. Jovita sedikit terkejut saat melihat orang yang duduk di depannya.
Jovita : “Tuan cerewet?”
Siapa lagi kalau bukan David, pria yang duduk di depan Jovita.
David : “Kau masih memanggilku begitu nona cantik?”
Jovita : “Lalu aku harus memanggilmu apa?”
Sambil melepas kacamata dan masker yang ia kenakan sedari keluar dari mobil.
David : “Kalau begitu perkenalkan, namaku David Walker. Kau bisa memanggilku David atau Walker.”
Sambil mengulurkan tangannya pada Jovita.
Jovita tidak merespons tangan David yang terulur. Ia hanya diam sambil melipat tangannya di dada.
Jovita : “Apa kau yang telah membiusku?”
David : “Hehh...kau ternyata sudah mulai sadar.”
Jovita : “Berapa banyak yang kau inginkan?”
David : “Apa?”
Jovita : “Uang.”
__ADS_1
David : “Hahaha...aku sudah cukup banyak memiliki uang, untuk apa aku meminta uang padamu.”
Jovita : “Lalu apa maumu?”
David : “Kau.”
Jovita : “Kau tidak berhak memilikiku, karena aku sudah memiliki tuanku.”
David : “Lepaslah dari tuanmu, lalu bersamalah denganku.”
Jovita : “Tak mungkin.”
David : “Katakan berapa denda kontrakmu, aku akan bayar dendamu dan membayarmu sebagai kekasihku.”
Jovita : “Meskipun kau membayarku dua kali lipat, aku tidak akan sudi menjadi kekasih kontrakmu.”
David : “Apa yang kurang dariku? Apa aku terlihat sangat buruk di matamu?”
Jovita : “Ya.”
Pelayan : “Permisi tuan dan nona, ini pesanan Anda.”
Seorang pelayan menyela pembicaraan mereka, ia meletakkan pesanan David dan Jovita di meja mereka.
Jovita : “Terima kasih.”
Pelayan : “Tentu, permisi.”
David : “Katakan, kurang apa diriku.”
Jovita : “Tak ada, hanya saja aku tak ingin menjadi kekasihmu.”
David : “Makanya aku bertanya padamu, kenapa kau tak mau menjadi kekasihku?”
Jovita : “Ya...tak ingin.”
David : “Cih...”
Jovita kembali meminum minumannya.
David : “Kau sungguh tak akan menyesal telah menolakku?”
Jovita : “Tentu tidak.”
David : “Cukup percaya diri kau.”
David mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atiknya. Ia memperlihatkan sesuatu yang ada di ponselnya pada Jovita.
__ADS_1
David : “Lihatlah.”
Jovita melihat gambar yang ada di ponsel David. Seketika ia membulatkan matanya, David menggeser gambar itu dan memutar sebuah video. Di dalam video itu terdengar suara desahan seorang wanita di tengah cahaya lampu yang remang-remang.
Jovita : “KAU!!!”
Jovita berteriak pada David yang mengundang seluruh mata pengunjung untuk melihatnya. Dan David hanya tersenyum tipis pada Jovita. Jovita akan meraih ponsel David, namun ia lebih lambat dari tangan David yang sudah meraih ponselnya.
David : “Kau terlambat...”
Sambil mengejek-ejek Jovita dengan mengeluarkan lidahnya.
Jovita : “Aku tak yakin jika itu adalah aku.”
David : “Benarkah?”
David mengutik ponselnya, lalu memperlihatkan sebuah video lagi. Dalam video itu terlihat jelas gambar Jovita tengah tertidur di ranjang dengan sedikit menggeliat sambil mencoba melepaskan bagian atas dressnya serta mengatakan jika ia merasa kepanasan.
Jovita langsung membulatkan matanya dan ia hendak meraih ponselnya. Namun lagi-lagi ia terlalu lambat dari pada pergerakan David. Jovita menggigit kedua bibirnya dan wajahnya terlihat jelas panik, bahkan tangannya mengepal erat.
David : “Ada apa? Kenapa kau terlihat geram dan panik? Apa kau takut jika video ini dilihat oleh Jeff?”
Jovita : “Jangan coba-coba untuk mengancamku, tuan cerewet. Aku tidak takut sama sekali.”
David : “Sungguh? Aku ingin lihat seberani apa kamu hingga kau searogan itu.”
David kembali mengutik ponselnya dan memperlihatkan Jovita.
David : “Lihatlah! Aku akan mengirimkan kepada siapa.”
Jovita melihat dengan saksama pesan itu. Video itu adalah video suara desahan seorang wanita dan David akan mengirimkannya pada Jeff. Dan itu tertulis jelas nama Jeff sebagai penerima pesan itu.
Tanpa aba-aba, Jovita meraih ponsel David yang dipegang David. Dan kali ini Jovita berhasil mendapatkan ponsel David. Ia langsung menghapus pesan itu dan akan membuka galeri ponsel David. Namun sayangnya galeri itu dikunci dengan kata sandi.
David : “Kasihan...”
David merebut kembali ponselnya saat Jovita lengah. Jovita hanya bisa memejamkan matanya, ada perasaan kecewa dihatinya karena ia tidak berhasil menghapus videonya.
David : “Ikuti permintaanku, maka kau bisa selamat, tapi jika tidak...kau tahu sendiri apa yang akan terjadi, bukan?”
Jovita : “Maaf, aku sudah memiliki tuan.”
David : “Itu pilihanmu, nona cantik. Aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau benar-benar tak mau melakukannya, kau sudah tahu konsekuensinya.”
David meminum kopinya hingga menyisakan setengah dan mulai beranjak pergi meninggalkan Jovita yang tengah berpikir keras. Kali ini Jovita benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan. Jika ia menolak, maka videonya itu akan sampai pada Jeff. Namun jika ia menerimanya, maka ia harus membuat sandiwara pada Jeff.
David berjalan hingga mencapai pintu keluar. Ia mendorong pintu itu dan seseorang memegang lengan satunya. Orang itu bukan lain adalah Jovita.
__ADS_1
Jovita : “Aku setuju.”
David hanya tersenyum kecil sambil menatap Jovita. Dan di saat bersamaan, seseorang telah mengambil gambar keduanya yang seolah-olah mereka ada hubungan.