
Jovita memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke kasurnya dengan telungkup. Ia masih terkejut dengan perlakuan Jeff yang baru saja mencium pipinya. Ia belum pernah mendapat perlakuan seperti itu sejak ia bekerja sebagai wanita malam di klub Madam Ella. Jovita membalikkan badannya menghadap langit-langit kamarnya, masih dengan tangan di pipinya.
Jovita : “Apa itu tadi?”
Jovita masih melamunkan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia masih betah dengan tangannya di pipinya sambil melihat langit-langit kamar selama beberapa menit.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, Jovita tersadar dari lamunannya. Ia berdiri dan beranjak mendekati pintu. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat Pak Sam berdiri di depan pintu.
Pak Sam : “Selamat malam, nona.”
Jovita : “Malam, Pak Sam. Ada apa ya?”
Pak Sam : “Waktunya makan malam, nona.”
Jovita : “Oh? Makanannya sudah siap?”
Pak Sam : “Sudah, nona. Tuan Jeff juga sudah menunggu.”
Jovita : “Baiklah.”
Jovita menutup pintu kamarnya dan berjalan di depan Pak Sam. Ia menuruni anak tangga, berjalan menuju ruang makan.
Setibanya di ruang makan, Jovita melihat Jeff sudah duduk di meja makan sambil bermain dengan tabletnya. Jovita duduk di dekat Jeff.
Jeff : “Halo, sayang.”
Jovita : “Hm.”
Jeff : “Ada apa? Apa kau sedang datang bulan?”
Jovita : “Tidak.”
__ADS_1
Jeff menyerahkan tabletnya kepada Pak Sam yang berdiri di dekat Jeff. Jeff akan mengelus kepala Jeff, namun Jovita langsung menjauhkan kepalanya. Jeff melipat tangannya di dadanya.
Jeff : “Ada apa? Apa kau kecewa tidak ada Ryan di sini?”
Jovita : “Apa hubungannya dengan Ryan?”
Jeff : “Aku lihat tadi kau sangat ramah dengan Ryan, tapi setiap kali kau denganku kau tidak pernah ramah ataupun membalasku dengan sopan.”
Jovita : “Aku hanya ingin menjaga diriku sendiri.”
Jeff : “Dari siapa? Aku?”
Jovita : “Hm.”
Jeff : “Hahaha....lucu sekali. Kenapa? Apa aku terlihat menakutkan?”
Jovita : “Aku takut kau akan melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan.”
Jeff : “Contohnya?”
Jeff : “Hahaha...menerkammu? Apa kau merasa kau seekor rusa? Atau kelinci?”
Jovita : “Sudahlah Jeff aku sudah tak ingin membahasnya.”
Jeff : “Apa yang kau maksud dengan menerkam, sayang? Kau harusnya menjelaskannya lebih jelas?”
Jovita : “Sudahlah, Jeff. Kau pasti sudah mengerti, jadi jangan berpura-pura tidak mengerti.”
Jeff : “Kau seorang wanita malam, tapi kau takut seorang pria akan menerkammu.”
Jovita : “Dengarlah, aku bukan wanita malam yang murah ataupun murahan.”
__ADS_1
Jeff : “Aku tahu.”
Pak Sam : “Tuan, silakan.”
Pak Sam menyajikan steak daging di hadapan Jeff dan Jovita, serta menuangkan air putih di gelas masing-masing. Jeff menyuruh Pak Sam pergi, lalu ia mengiris daging itu dan memakannya.
Jeff : “Dan perlu kau ketahui, kau adalah wanita malam termahal yang pernah aku kontrak.”
Jovita : “Apa kau menyesal telah mengontrakku?”
Jeff : “Tidak, aku tidak menyesal sedikit pun. Tapi aku hanya menyayangkan uangku.”
Jovita : “Kalau begitu kenapa kau mau mengontrakku, jika kau sayang dengan uangmu?”
Jeff : “Karena yang aku butuhkan adalah seorang wanita yang terlihat sangat-sangat sempurna.”
Jovita : “Apakah aku terlihat sangat-sangat sempurna?”
Jeff : “Lumayan sempurnalah. Tapi kau harus lebih mengontrol emosimu itu, saat kita sedang di tempat umum.”
Jovita : “Akan kuingat untuk itu.”
Jeff : “Baguslah, jika kau akan mengingat hal itu. Aku tidak akan merasa aku menyayangkan uangku.”
Jovita : “Hm.”
Jeff dan Jovita menghabiskan steak daging mereka. Jovita menghabiskan lebih dulu, ia segera meneguk air digelasnya dan berdiri.
Jovita : “Aku ke atas lebih dulu.”
Jeff : “Hm.”
__ADS_1
Jovita berjalan menuju lantai dua, ia kembali ke kamarnya. Jeff melihat Jovita yang berjalan meninggalkan ruang makan dan menuju anak tangga. Jeff kembali menghabiskan makanannya dan meneguk air digelasnya.
Pak Sam kembali ke meja makan membawa buah-buahan. Ia menyajikan di depan Jeff, namun Jeff berdiri dan meninggalkan meja makan. Ia menuju lantai dua dan masuk ke kamarnya.