
Jeff dan Jovita kembali ke kamar mereka, mereka sudah cukup puas dengan jalan-jalan mereka. Saat membuka pintu kamar mereka, Ryan tengah duduk di sofa yang sejak tadi ia duduki. Dan Ryan terlihat sangat sibuk, Jovita cukup geram saat melihat Ryan tengah sibuk sementara Jeff berjalan-jalan dengannya.
Jovita : “Oh...kasihan sekali kau. Kau disuruh bekerja, sementara tuanmu tidak punya akhlak dan malah jalan-jalan denganku.”
Jovita duduk di samping Ryan. Sementara Ryan hanya diam dan tidak menyahuti perkataan Jovita, karena ia tidak ingin dipecat.
Jovita : “Hei! Kenapa kau diam saja?”
Jeff : “Jovita! Kemari!”
Sambil memasang wajah marah.
Jovita : “Hei...Ryan...apa kau takut akan disiksa atau dipecat bosmu yang jahat itu?”
Jeff : “Jovita!”
Jovita : “Diam! Kau membuat dia bekerja siang malam, hingga dia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Dan ya, kau berjanji akan memberikan dia waktu berlibur mumpung di sini. Mana? Mana waktu berlibur dia? Mana?”
Jeff : “Iya-iya, besok akan kuberi cuti sehari untuknya.”
Jovita : “Jeff, jangan bohong lagi denganku. Aku tidak suka dengan lelaki pembohong.”
Jeff : “Iya-iya, aku janji akan beri dia libur untuk besok.”
Jovita : “Kupegang kata-katamu.”
Jeff : “Iya...”
Jovita : “Gak akan bohong?”
Jeff : “Huft...Ryan, kembalilah ke kamarmu. Dan besok kau kubebaskan dari pekerjaanmu. Kau besok bisa liburan atau berkeliling tempat ini, atau kemanapun terserah kau. Yang terpenting sebelum matahari terbenam kau harus sudah ada di vila.”
Ryan : “Baik, tuan.”
Jovita mulai tersenyum dengan lebar.
Jovita : “Kau harus tersenyum yang lebar. Ini adalah waktumu untuk menikmati liburan.”
Ryan tersenyum dan membereskan laptop yang ada di atas meja.
Ryan : “Terima kasih, nona. Saya izin ke kamar saya. Permisi.”
Jovita : “Oke, selamat liburan.”
Jeff mendekati Jovita dan mulai bermanja-manja dengan Jovita.
Jeff : “Lalu siapa yang akan menemaniku besok.”
Jovita : “Angin.”
Jovita berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi. Jeff hanya menghela napasnya dan geleng-geleng kepala.
Setelah Jovita dan Jeff selesai membersihkan diri, Jeff duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Jovita tengah mengecek ponselnya dan duduk di atas kasur. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing sehingga menciptakan suasana yang hening. Secara tiba-tiba, ada suara ketukan pintu yang membuyarkan kesibukan mereka.
__ADS_1
Jeff : “Jovita, bukakan pintunya dong.”
Jovita : “Ogah, kamu aja.”
Jeff : “Cepatlah, aku masih sibuk dengan klien sama karyawan nih.”
Jovita : “Ck, menyusahkan saja.”
Jovita bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu dengan senyuman dan keramahtamahan. Ada seorang pelayan dari balik pintu itu dengan membawa dua botol wine beserta gelasnya di atas nampan.
Pelayan : “Selamat malam, nona. Saya mengirimkan pesanan wine Anda.”
Jovita : “Wine? Mm...Jeff...apa kau memesan wine?”
Jeff : “Hm? Oh ya. Bawa kemari sayang.”
Jovita : “Ya, terima kasih.”
Jovita membawa nampan itu, lalu menutup pintunya. Ia meletakkan nampan dia atas meja di depan Jeff dan kembali ke kesibukannya yang tertunda beberapa menit yang lalu. Jeff meletakkan ponselnya dan mengambil botol wine serta gelasnya.
Jeff : “Jovita.”
Jovita : “Hm?”
Masih sibuk dengan ponselnya.
Jeff : “Kemarilah, temani aku minum wine.”
Jovita : “Gak mau.”
Jovita : “Ga mau.”
Jeff merasa putus asa, lalu ia mendekati Jovita yang tengah chattingan dengan seseorang. Ia duduk di dekat Jovita sambil melihat ponsel Jovita.
Jeff : “Vania? Siapa itu?”
Jovita : “Adikku.”
Jovita melihat ke arah Jeff, lalu ia mengambil wine yang ada di tangan Jeff. Ia langsung meminumnya dan mengembalikan gelasnya pada Jeff. Seketika alis Jeff terangkat dan ia melihat ke arah wine yang ada di tangannya dan Jovita.
Jeff : “Tunggu, kenapa kau minum wineku?”
Jovita : “Oh, itu bukan untukku?”
Jeff : “Em...tak apalah.”
Jeff meminum wine yang ada di tangannya.
Jeff : “Manisnya...bekas bibirmu...”
Jovita : “Hei! Iihhh...kenapa kau minum sih...”
Jeff : “Kau meminum wineku, jadi aku berhak dong minum wine ini.”
__ADS_1
Jovita : “Tapi kan itu bekasku.”
Jeff : “Kan rasanya jadi lebih nikmat, sayang.”
Jovita : “Ish...”
Jovita turun dari kasur, kemudian duduk di sofa mengambil gelas dan menuangkan wine ke gelasnya. Jeff mendekati Jovita dan kembali menuangkan wine ke gelasnya. Ia langsung meminum winenya dan mereka melakukan itu hingga habis satu botol wine.
Jovita : “Jeff...”
Jeff : “Hm?”
Jovita : “Entah mengapa aku sudah mulai mabuk...”
Jeff : “Bersandarlah di sini sayang.”
Jeff menepuk bahunya dan Jovita menyandarkan kepalanya ke bahu Jeff.
Jeff : “Mau kubukakan lagi?”
Jovita : “Mau...”
Jeff membuka satu botol wine yang tersisa. Ia menuangkan wine ke gelasnya terlebih dahulu, lalu menuangkan wine ke gelas Jovita. Jovita langsung meminum wine itu begitu pula Jeff.
Jovita : “Entah mengapa rasanya tenang sekali.”
Jeff : “Karena ada aku?”
Jovita : “Entah...emm...mungkin tidak...emm...tidak-tidak...mungkin...i...ya.”
Jeff : “Lucu sekali.”
Sambil tersenyum kecil.
Jovita : “Jangan tertawa! Aku tidak suka orang yang tertawa...mm...salah-salah...menertawakanku...yaps betul.”
Jeff : “Sepertinya kau sudah mabuk, sayang. Sini gelasmu.”
Jovita : “Tidak! Tidak boleh! Aku masih ingin minum.”
Jeff tetap mengambil gelas Jovita dan meletakkan di atas meja serta gelas miliknya. Jovita sepertinya memang benar-benar sudah mabuk dan ia mulai marah-marah dengan Jeff.
Jovita : “Jeff...jangan ambil gelasku...”
Jeff : “Sudah cukup, kita tidur saja.”
Jovita : “Nggak mau! Aku maunya minum.”
Jeff : “Jangan bandel.”
Jeff menggendong Jovita dan seketika Jovita menurut saat Jeff menggendongnya. Jeff menidurkan Jovita dan menyelimuti tubuhnya. Namun, saat Jeff akan pergi, tangan Jovita memegang tangan Jeff dan menarik tubuh Jeff agar tidur dengannya. Jeff berbaring di samping Jovita, lalu Jovita memeluk tubuh Jeff. Jeff mencium pucuk rambut Jovita dan mereka tertidur dengan berpelukan.
*****
__ADS_1
Maaf baru bisa update🙏🏻🙏🏻🙏🏻