
Elle mengayunkan kaki sepanjang lorong koridor, beberapa murid juga melakukannya. Tak ada yang aneh, hanya bisikan-bisikkan mencemooh.
Sebagian masih mencibir dan bersikukuh menganggapnya sedang bersandiwara untuk menarik perhatian Reksi.
Apalagi mereka mendengar elle masuk kelas bisnis hanya untuk bisa berdekatan dengan reksi. Terbukti elle berada di kelas yang sama dengan reksi, fikir mereka.
Sedang untuknya, ia sama sekali tidak terusik. Mengingat pengalaman Arisa, gadis itu pastinya tidak akan mudah terprovokasi.
Ia menyeringai tipis, sesuatu yang tidak bisa di lihat semua orang.
Melihat seorang gadis sesusianya berjalan tergesa-gesa berlawanan arah, elle memilih berbelok memasuki kelas kosong.
Bruk
Tepat seperti dugaannya. Elle ingat adegan ini, benar-benar seperti di novel.
Bedanya elle asli akan mendekat dan meledek lily. Tidak membantunya berdiri. Saat semua orang mulai berkerumun, mereka mengira bellerie sedang membully lily.
Tidak lama setelah itu berita tersebar, reksi yang sedang di kantin terburu-buru melihat pujaan hatinya. Melihat itu, reksi sangat geram. Wajahnya semakin gelap ketika melihat elle berdiri di depan lily.
Keadaan mulai berbalik, lily yang jatuh di bantu frian berdiri. Sedangkan elle yang tengah menahan kesal mendapat bulyan dan hinaan dari reksi. Tidak segan-segan reksi bahkan mendorong elle sampai terjatuh. Begitulah seharusnya.
Namun..
"Lily, kau tidak apa-apa ? " Tanya salah seorang siswa yang lewat.
Siswa mengulurkan tangan membantu.
"Ah tidak, aku terburu-buru sampai tersandung. Terima kasih."
__ADS_1
"Lebih hati-hati lily. Kalau begitu aku duluan."
"Ya, Terima kasih Dev."
Elle keluar kelas setelah mereka pergi. Senyum puas terbit di wajahnya yang santai.
Menghindari masalah yang di buat penulis ternyata sangat mudah.
Dia bukan seorang pengecut ataupun penakut, hanya saja memilih untuk tidak terlibat dalam drama picisan anak SMA lebih menentramkan.
Gadis berjaket abu itu melanjutkan langkahnya ke kantin.
Baru saja dirinya melangkah masuk, semua fokus sudah tertuju padanya dan meja pojok kantin. Mereka melihat bergantian. Bisik-bisik mulai terdengar, suasana kantin mulai sedikit ricuh.
Seolah mereka akan menyaksikkan pertunjukkan gratis seperti itulah saat ini penghuni kantin hening.
Selepasnya elle benar-benar pergi ke arah meja pojok. Orang - orang mulai merasa jantung mereka berdetak sedikit kencang. Menarik, fikir mereka.
Tepat 5 langkah sebelum menuju arah Reksi dan betrix bersaudara, elle duduk di kursi sebelahnya. Meja yang di hadapan elle adalah satu-satunya meja yang kosong.
Elle dengan santai mulai menikmati makanan.
Kejadian barusan benar-benar berbeda dari harapan semua orang. Ada raut kecewa dan aneh. Seolah kehabisan tiket untuk menonton film favirit di bioskop.
Reksi sendiri bingung dengan sikap elle yang terlihat acuh tak acuh padanya. Kemana perginya sahabat kecil yang selalu menempel dan menyatakan cinta padanya ?
Reksi tidak tahu harus senang karena elle telah berubah, atau harus khawatir karena mungkin saja bellerie sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai kekasihnya, lily.
Sejauh yang diperhatikan reksi, akhir-akhir ini elle tidak pernah meliriknya ketika mereka berpapasan apalagi mengejar seperti dulu.
__ADS_1
Sama dengan reksi, frian dan brian pun tercengang. Barusan bellerie bahkan tidak melihat mereka barang sedetik pun. Juga tidak mencoba untuk mendapatkan perhatian kakak-kakaknya.
Tetapi mereka tetap kukuh dengan prasangka bahwa bellerie sedang memainkan trik. Mereka melihat dari masa lalu.
'Saudara bodoh'
Bellerie menyelesaikannya tidak sampai habis, segera ia berdiri dengan tangan kanan didalam saku rok. Bellerie berjalan tidak pelan, tidak juga terburu-buru. Ada sedikit kedinginan dari aura yang dikeluarkannya. Beberapa orang yang dilewati elle merasakan tengkuk mereka merinding.
Ini menakutkan ! Itukah bellerie yang baru ?
Berbagai macam spekulasi dilontarkan orang-orang dalam hati. Mereka bahkan tidak berani berbisik-bisik lagi seperti pertama elle masuk kantin.
Brian mematung. Punggung kecil itu menghilang dibalik pintu. Barusan dia melihat sosok perempuan keren dengan sedikit kedinginan.
Brian merasa itu tidak mungkin jika seseorang berpura-pura sampai memiliki aura yang berbeda sepertinya. Batin brian sedikit terenyuh, mungkin bellerie tidak berpura-pura tapi ia benar-benar berubah.
"Kak reksi."
Brian tersadar dari lamunannya.
"Lily, darimana ? " Reksi berucap dengan kelembutan.
"Tadi Staff TU memanggilku."
"Duduklah! " Perintah reksi halus.
Setelah lily duduk di samping reksi, frian melihat lutut kanan lily sedikit lebam. Lantas ia menggeram, apakah ini ulah bellerie lagi ? Adiknya tidak mengindahkan peringatan rupanya.
"Lily, kenapa dengan lututmu? " Tanya frian.
__ADS_1