
"Elle, Maaf. Gara-gara aku kamu jadi ikutan dihukum."
"Hm."
"Elle, sebenarnya ini bukan salah kita. Ini salah mereka." Jinyi mengacungkan jari telunjuknya ke arah kerumunan siswa unggulan yang juga sedang membersihkan halaman. Kebetulan tindakan jinyi dilihat oleh cici.
"Apa tunjuk-tunjuk? " Cici semakin berani menantang jinyi.
"Orang sinting." Cibir jinyi
"Siapa yang kamu bilang sinting? "
"Sudah cici. Jangan bertengkar lagi." Teman sekelas lain menahan cici yang akan berangkat adu jambak rambut dengan jinyi untuk yang kedua kalinya.
"Jangan menambah hukuman. Ingat cici, mungkin hukuman berikutnya revina juga akan ikutan dihukum. Beruntung sekarang revina berlatih piano untuk lomba."
Setelah mendengarnga cici menjadi tenang. Ia juga tidak mau dibenci revina karena menyebabkan ia terkena hukuman. Bagi bunga sekolah seperti revina yang tidak pernah dihukum, melakukan hukuman ringan sekalipun akan mencoreng reputasi baiknya. Cici melihat selama ini revina selalu menjaga reputasinya. Karena itu cici tidak ingin mencorengnya.
"Anjing yang menggonggong." Jinyi tidak berhenti mencibir.
Apa yang dilakukan hewan peliharaan hanya tahu menggonggong untuk tuannya. Jinyi tidak bisa tidak membenci revina. Difikir-fikir ini semua terjadi karena si rubah revina yang sengaja merendahkan kelas regular.
'Hmph. Tidak bisa di maafkan' Jinyi mendelik kesal dalam hati. Raut wajahnya sangat tidak enak dipandang.
"Jangan hanya bisa membuat masalah. Jinyi, meskipun kamu murid pindahan tetapi kamu bahkan tidak pernah masuk peringkat 5 besar. Pantas saja kamu berada di kelas regular C." Cici membalas.
"Sebaiknya kamu bercermin. Kamu saja tidak pernah masuk 5 besar."
"Setidaknya aku berada di kelas unggulan, tidak seperti kamu yang ada dikelas regular C. Tidakkah itu memalukan bagi keluargamu? "
"Beraninya kamu !" Wajah jinyi menjadi merah. Ia akan maju menampar wajah cici tapi dihentikan oleh elle.
__ADS_1
Jinyi mendengus, ia harus tenang. Jangan sampai terprovokasi oleh anjing yang menggonggong.
"Cici, apakah kamu tidak pernah cape membuat masalah? " Diandra yang sedari tadi mengamati ia mulai bersuara.
"Membuat masalah ? Siapa ? Yang membuat masalah adalah kelas kalian, kumpulan orang-orang tidak berguna." Cici berkata dengan jijik.
"Kamu! "
Jinyi ingin mencolok mata cici dengan jari telunjuknya tapi segera dihentikan oleh Diandra.
"Jinyi, jangan terpancing. Tenanglah." Diandra berbisik ditelinga kanan jinyi.
Huh...
"Kenapa kamu marah? Itu adalah kenyataan." Teman sekelas cici ikut merundung.
"Bagaimanapun juga kelas kalian tidak pernah ada yang masuk 50 besar seangkatan. Apa namanya kalau bukan kumpulan orang-orang bodoh? "
Kelas regular tidak ada lagi yang membantah. Bagaimanapun juga apa yang dikatakan teman sekelas cici adalah kenyataan. Selama ini tidak ada satu pun dari mereka yang masuk 50 besar untuk setiap ujian. Terakhir adalah ujian bulanan, jinyi juga tidak masuk 50 besar. Dalam hal ini jinyi mati-matian menahan amarah nya.
"Lihatlah mereka diam, tidak bisa membantah."
Tawa siswa siswi kelas unggulan semakin menggema.
"Jangan pedulikan mereka. Ayo lanjutkan bersih-bersih."
Ketua kelas berlari menghampjri teman-temannya. Ia baru saja di tegur oleh wali kelas, ketika ketua kelas tiba dihalaman ia mendengar semua olok-olok kelas unggulan untuk kelasnya. Ketua kelas tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya sedih kenapa otaknya malah ikutan tidak mampu seperti latar belakang keluarganya ?
"Sayang sekali, meskipun bellerie jago balapan tapi otaknya kosong." Sekali lagi teman sekelas unggulan lain yang tidak menyukai bellerie berbicara. Ia sengaja menargetkan bellerie.
"Dia bahkan peringkat paling terakhir dikelas."
__ADS_1
"Gadis liar yang hanya tahu bermain motor."
Cibiran demi cibiran beralih ke bellerie. Jinyi yang tidak suka ellenya di jadikan bahan tertawaan orang-orang menjadi marah.
"Diam ! Mulut kalian bau busuk." Jinyi meledak.
"Kaulah yang bau busuk. Kenapa kamu marah padahal bellerie saja tidak membalas ? Anjing yang menggonggong." Cibir Cici, membalikkan kata-kata jinyi sebelumnya.
"Hahahaaa...."
Tawa orang-orang bergemuruh kembali.
"Sudah jinyi. Jangan dilanjutkan. Ayo kita selesaikan hukuman ini." Ketua kelas menengahi.
"Orang-orang sombong seperti mereka bukan lawan kita." Diandra mengeluh.
"Elle, kenapa kamu diam saja? " Jinyi berkata dengan sedih. Ellenya adalah anak yang baik, tidak suka membuat masalah dan tidak suka membalas.
Namun, justru orang yang selalu diam seperti elle akan mudah menjadi sasaran orang-orang.
"Jangan pedulikan." Elle berkata dengan malas.
"Tapi kamu baru saja di bully." Suara jinyi lemah, penuh dengan keprihatinan.
"Elle kamu baru saja dibully. Tidakkah itu menyakiti harga dirimu sebagai ratu bully di masa lalu? " Celetuk ketua kelas bercanda.
Elle melihat fandi sebentar, lalu berbicara dengan enggan. "Tidak."
Nadanya tidak memiliki emosi apapun. Yang lain tidak bisa menelusuri emosi elle saat ini. Mereka tidak tahu apakah elle sedih atau marah. Ini benar-benar berubah dari bellerie sang ratu bully yang terkenal. Mereka bertanya-tanya 'Apakah seseorang akan berubah drastis setelah mengalami kematian? '. Semua orang tahu bahwa bellerie telah koma selama kurang lebih satu bulan.
Ketika bellerie mulai masuk sekolah, karakter, ekspresi dan nada bicaranya berbeda. Seolah mereka adalah dua orang yang berbeda. Hanya saja bellerie betrix tidak punya kembaran dan wajah yang ada didepan mereka saat ini adalah wajah bellerie betrix. Jadi bagaimana bisa orang yang berbeda ?
__ADS_1