
Keesokannya, keluarga betrix kembali baik-baik saja. Rain masih melakukan aktifitas seperti biasa, hanya saja kemarin rain mabuk di gazebo. Tidak ada yang tahu kecuali elle, rain minum tengah malam setelah bellerie menyelesaikan latihan. Pada ssat itu pun bellerie masih enggan ikut campur. Biarkan rain melampiaskan emosinya, elle tahu menjadi putra sulung di keluarga konglomerat tidak semudah yang orang-orang fikirkan.
Tinn
"Elle ayo masuk."
Jinyi sengaja menjemput elle. Ia akan menceritakan sesuatu padanya. Hari ini jinyi tidak membawa supir. Ia berinisiatif mengendarai mobil sendiri ke rumah elle.
"Elle, kau lagi lagi tidak membalas pesanku."
Jinyi cemberut, sudah pesan yang kesekian kalinya yang elle abaikan. Memang sebenarnya sudah tidak aneh, tapi jinyi masih sedikit kesal saja.
'Apakah elle tidak terfikirkan mungkin saja pesan itu sangat penting? ' Keluh jinyi dalam hati.
Jinyi melirik elle sekilas, sepertinya tidak ada yang penting bagi elle di dunia ini.
"Lupakan saja yang itu, aku akan memberitahumu sesuatu yang lebih penting."
Ia melihat elle lalu kembali fokus mengemudi.
"Kemarin Carles datang ke rumahku. Ia menyangka aku yang mengemudikan motor sepupu karena motornya ada di garasi rumah. Ia menuduhku sebagai pembalap baru itu,elle."
Elle menoleh, wajahnya menunjukkan ketertarikkan. Jinyi faham ini, ia melanjutkan bercerita.
"Aku sudah menolaknya tapi ia tidak percaya, ia mengajakku berduel."
"Ternyata carles mencari tahu semuanya, ia bahkan telah datang ke rumah sepupuku." Tiba-tiba jinyi kesal mengingat wajah tengil carles yang memprovikasinya tempo hari
"Apa lagi yang dia katakan? " Tanya elle datar.
"Dia bilang ayahnya memintaku untuk ikut pertandingan nasional sebagai timnya. Apa kau percaya itu elle ? Aku rasa dia hanya tidak terima dikalahkan pendatang baru." Memikirkan ini jinyi merasa jijik terhadap carles.
Elle tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya kesamping jendela. Aura menyendiri tiba-tiba menyeruak.
Jinyi tersentak, tapi ia tidak kehilangan fokus. Mencoba untuk tetap mengemudi dengan tenang. Jinyi tidak berani Bertanya, aura elle begitu kuat seolah mengatakan jangan ganggu aku. Karenanya jinyi memilih diam sepanjang jalan.
Banyak hal yang difikirkan elle saat ini. Melihat kejadian kemarin ia tahu selena bukanlah pilihan yang tepat. Sebenarnya ia tidak perduli kondisi dan situasi yang dihadapi semua tokoh novel ini.
Ia hanya akan berjalan tenang, sesekali akan membalas jika ada yang berani mengusik. Tapi, rain mengingatkannya pada kakak pertama Arisa. Di masa lalu, arisa telah melihat keinginan orang tuanya yang dipaksakan pada kakak pertamanya. Arisa juga melihat kesedihan, kekecewaan dan kekosongan dimata kakak pertama yang mirip dengan pandangan rain.
Sejak kecil ia kurang dekat dengan kakak pertamanya juga karena statusnya sebagai anak sulung. Arisa tahu dia sangat menderita. Dulu, arisa kecil selalu menemaninya belajar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kadang, arisa juga menaruh makanan dimeja belajarnya lalu pergi begitu saja.
Yang dilakukan arisa pada kakak pertamanya adalah bentuk kasih sayang. Hanya saja mulut arisa diam, tapi raganya bertindak. Semua berubah setelah keduanya berpisah. Arisa yang bersama Dean dan Kakak pertama yang pergi melanjutkan pendidikan di luar negeri. Itu juga atas kehendak orang tua mereka. Saat itu arisa yang masih anak-anak sangat kesepian. Satu persatu orang-orang disekitarnya pergi, meninggalkan dirinya sendirian dalam sunyi.
Mengingat ini, elle di penuhi kedinginan. Beberapa menit kemudian elle tenang kembali.
"Elle kita sudah sampai."
__ADS_1
Jinyi membuka mulut setelah elle menarik auranya.
Elle tidak membalas, ia keluar terlebih dahulu.
"Hmm, elle tentang carles apa yang harus aku lakukan ? "
Jinyi bertanya dengan hati-hati.
"Kita pergi."
"Ha? "
jinyi linglung, apa artinya elle akan mengatakan identitasnya ?
Kalau begitu untuk apa aku sembunyikan, fikir jinyi.
Jinyi menyusul elle, duduk di sampingnya.
"Selamat pagi anak-anak."
"Selamat pagi pak."
"Hari ini kita akan belajar cara berinvestasi. Disini ada beberapa laporan keuangan dari beberapa perusahaan. Kalian bisa mengamatinya."
"Alex, tolong bagikan ini."
"Baiklah kalian akan membuat kesimpulan tentang laporan ini. Ya, Jika ada yang tertarik berinvestasi kalian bisa hubungi saya. Mengerti? "
"Mengerti pak."
"Kalian bisa berdiskusi dengan teman. Saya akan kembali lagi dalam waktu 1 jam."
Setelahnya, guru investasi meninggalkan kelas.
"Baiklah teman-teman, kita bisa saling bergilir mengamati laporan-laporan ini." Instruksi Alex.
"Oke lex." Jawab beberapa siswa.
Elle menatap jinyi seolah meminta penjelasan. Jinyi tidak faham maksud elle, ia membuka mulut,
"Elle, ada yang ingin kau tanyakan? "
"Apa dia pemilik perusahaan sekuritas? "
"Guru investasi tadi? "
Elle mengangguk sekali.
__ADS_1
"Bukan. Tapi dia bekerja di perusahaan sekuritas terbesar di kota X. Dia hanya asisten direktur."
Elle tidak bertanya lagi.
"Elle, apa kau tertarik berinvestasi? "
Elle tetap diam.
"Aku rasa aku tidak akan berinvestasi. Aku hanya perlu membuat kesimpulannya saja. Lagipula aku belum menggantikan ayahku." Tukas Jinyi.
Elle menganalisis laporan dengan serius, ia berencana untuk memulai investasi kembali dari nol. Keduanya hanyut dalam pembelajaran.
-
"Anak itu sudah minta maaf pada selena? "
"Sudah tuan."
Andreas beranjak dari kursi, menatap kota dari gedung kantor. Dari sini ia bisa melihat orang-orang beraktivitas. Pandangannya rumit, entah apa yang difikirkannya. Semua hal berputar di kepalanya. Walau begitu andreas cukup tangguh, ia tidak terpengaruh apapun saat bekerja. Mengesampingkan urusan rain, ia harus fokus pada perusahaan.
Dimasa lalu ia begitu diktator. Memutuskan sesuatu yang tidak disukainya dan mengerjakan sesuatu yang disukainya. Semuanya begitu mudah dengan nama besar betrix. Andreas juga bukan orang yang tidak pernah agresif, sewaktu muda andreas bahkan lebih agresif daripada rain.
Sekarang berbeda, ratusan ribu karyawan dipertaruhkan. Jika nama betrix berguling kebawah, banyak hal yang akan berubah. Andreas tidak mampu membayangkan semua itu. Perusahaan yang telah dibangun berabad-abad oleh nenek moyangnya harus runtuh begitu saja ditangannya, ia tidak akan berani untuk menghadapi leluhur disana. Apa yang akan ia katakan pada orang tuanya.
"Bagaimana dengan proyek kita? "
Andreas tersadar, ia ingat proyek yang saat ini sedang dikerjakannya.
"Seperti yang anda harapkan tuan, proposal sudah di perbaiki. Silahkan di periksa."
Andreas berbalik, ia duduk kembali. Membaca paragraf tiap paragraf.
" Kapan Tuan Lucas sampai? "
"Beliau sedang di pesawat. Besok pagi beliau tiba di penginapan. Seminggu setelahnya akan diadakan rapat ."
"Jangan mengecewakan. Kita harus memenangkan kerja sama ini."
"Saya mengerti tuan."
Andreas fokus memeriksa proposal. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Janson, bagaimana pencarian orang itu? "
Janson mengerti siapa yang dimaksud orang itu, ia mengatakan dengan jujur.
"Maaf tuan, jejaknya masih belum di temukan. Sekarang sedang dilakukan pencarian di negeri seberang."
__ADS_1
Andreas mengangguk. Ia mengakui cara kerja otaknya. Penyesalan memang selalu datang di akhir, kesalahnnya terlalu mempercayai orang lain.