
Pertanyaan frian mengalihkan atensi brian pada lily. Terutama reksi yang seketika menjadi gelap melihat lebam di lututnya. Sekelebat bayangan bellerie membuly lily di masa lalu, terlintas di kepalanya. Mendadak aura reksi menjadi dingin.
"Oh aku terjatuh di koridor. Aku terburu-buru menuju ruang TU sampai tersandung."
Aura dingin reksi menguap entah kemana. Mendengar itu ia merasa sedikit tenang. Tapi ia masih tetap was-was.
"Hai.."
"Devan. Ada apa? " Tanya lily
"Ini kompres untuk lututmu lily. Kamu terjatuh pasti meninggalkan lebam."
Devan menyerahkan benda yang dibawanya kepada lily dengan sedikit ragu-ragu. Pasalnya ada reksi yang memperhatikan. Devan tidak bermaksud apa-apa, hanya menolong.
"Sekali lagi terima kasih devan."
"Apa kau yakin terjatuh ? Bukan di bully bellerie? "
Tanya frian memotong ucapan devan.
"Bellerie ? " Beo lily.
Devan yang mengerti prasangka frian ia segera membuka mulut.
"Maaf jika aku lancang, lily terjatuh di koridor sendiri, aku melihatnya. Bahkan disana tidak ada bellerie."
Devan segera meluruskan. Meski ia kerap kali melihat bellerie membully lily dulu, namun kali ini bellerie tidak terlibat. Devan bukannya membela bellerie, hanya saja ia tidak suka jika seseorang disalahkan bukan atas kesalahannya. Termasuk si pembuat onar bellerie.
Devan mengatakan yang sebenarnya, bellerie kali ini memang tidak membully lily.
'Apakah saudara kembar itu sangat tidak percaya sedikitpun pada bellerie ? Bagaimanapun bukankah bellerie adiknya ? ' Fikir Devan.
Setelah mengatakan itu devan berlalu dari meja reksi. Wajahnya seolah memancarkan kekecewaan.
"Aku sudah mengatakannya kak frian, aku terjatuh." Balas Lily.
Hati frian sedikit tercubit. Ia telah berprasangka buruk pada bellerie. Perasaan bersalah seolah bersarang di dalamnya.
Apa adiknya benar-benar telah berubah ?
Persaan frian kalut.
Bellerie yang di dalam kelas tidak mengetahui ia sedang menjadi perbincangan. Kepalanya ia telungkupkan diantara lipatan kedua tangan.
Bellerie memikirkan alur cerita, di akhir bellerie meninggal di tangan reksi. Itu karena bellerie yang mencelakai lily.
Sekarang bellerie bahkan tidak menyentuh lily seujung kuku pun. Apa reksi akan tetap membunuh bellerie ?
Entahlah. Namun walau begitu bellerie yakin ia mampu menghadapi reksi.
Di masa lalu ia pernah mengalahkan psikopat gila yang meresahkan masyarakat. Mengurungnya di penjara dengan mudah. Masalah reksi bahkan tidak setengahnya dari psikopat gila yang dihadapi Arisa di kehidupan dulu.
Bagaimanapun Elle harus tetap mewaspadai reksi. Laki-laki bejat sepertinya kadang sangat licik. Apalagi dia di bantu betrix bersaudara yang dungu. Saudara kembar bodoh itu akan menyesali perbuatannya kelak.
Elle harus memperkuat keahlian fisiknya.
__ADS_1
Bellerie menegakkan kepalanya, ia melihat murid-murid berhamburan keluar kelas. Ternyata bel pulang telah berbunyi 5 menit yang lalu.
Ia tiba di dalam mansion. Hal biasa elle mendudukkan bokongnya sebentar di sofa sebelum ke kamar.
"Baik tuan janson, mari saya antarkan."
Dua orang turun dari lantai dua. Tanpa melihat pun elle yakin itu suara yeye. Orang yang bernama janson itu adalah asisten andreas.
Pria yang di sebut janson melirik ke arah bellerie dan mengangguk sopan sebentar sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan mansion.
Yeye yang melihat bellerie duduk santai di sofa, menghampirinya.
"Nona sudah pulang." Katanya sambil tersenyum.
"Apa masalahnya belum selesai ? "
Yeye mengernyitkan dahinya.
Masalah apa yang dimaksud nona ?
"Masalah yang mana nona? "
"Perusahaan." Jawab bellerie datar.
Yeye terkejut, ternyata nona mudanya mengetahui masalah itu juga.
Darimana nona mengetahuinya ?
Pasalnya dirinya tidak memberitahukan apa-apa kepada nona dan tuan muda kembar. Tidak juga dengan berita di tv. Melihat ketenangan pada ekspresi bellerie yeye tidak berani menanyakan darimana nona muda tahu masalah itu.
"Jangan khawatir nona, tuan akan menyelesaikan semuanya."
Bellerie melihat raut yeye, matanya menyiratkan sedikit kegelisahan.
Melihat ini belleri tidak bisa berkata-kata hanya menggeleng dalam diam. Sudah 3 hari semenjak terbongkarnya pelaku.
kemudian berlalu dengan handphone yang terus di genggamnya.
Drrtt Drrrtt...
"Elle, aku sudah di depan rumahmu."
"Tunggu."
Elle menuruni tangga dengan hoodie hitam dan celana panjang hitam. Auranya menguar, meninggalkan kesan misterius.
Jam 2 siang mansion sepi. Yeye entah pergi kemana. Dan kakak kembar bellerie tentu mereka belum kembali dari sekolah. Elle tidak perduli. Ia mengayunkan kaki keluar.
Tubuh tinggi langsing memasuki sebuah mobil berwarna merah. Mewah, harusnya pandangan orang-orang seperti itu pertama kali melihat mobil tersebut. Namun tidak bagi bellerie, di kehidupannya bahkan mobil lamborghini bukanlah hal yang langka di miliki.
"Elle tidakkah kau merasa kagum dengan mobilku ?"
Bellerie diam
"Keluargamu bahkan tidak memilikinya, elle. Untuk mendapatkan ini aku bahkan memandangi situs perusahaan setiap hari." Kata jinyi dengan begitu bangganya.
__ADS_1
Di luar ekspektasinya, elle hanya memandang jinyi datar. Jelas tidak berminat dengan obrolan jinyi.
Jinyi meringis melihatnya.
Elle menyodorkan paperbag berisi produk make up kepada jinyi.
Dengan antusias jinyi menyambutnya. Mata nya berbinar seolah menemukan harta karun.
"Elle ini untukku ? "
Bellerie mengangguk sekali.
"Terima kasih elle. Ini adalah produk yang aku inginkan. 2 minggu yang lalu aku akan membelinya tapi sold out." imbuhnya.
Bellerie hanya diam. Ia menemukan produk itu di meja rias. Di dalamnya produk masih terbungkus kotak dan di segel. Bellerie yang asli belum memakainya. Ia pasti membeli benda itu sebelum koma.
Sesampainya mereka di tempat tujuan. Bellerie melihat ke samping, ada motor dan seorang yang mengendarainya. Kemudian, dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Pandangannya menyipit. Sekilas ujung bibir kanan bellerie terangkat. Sayang, jinyi tidak melihatnya.
"Elle, itu adalah motor yang kamu pinta. Dijamin tidak akan ada yang mengenali plat nomornya. Itu milik sepupu laki-laki ku. Jangan khawatir, sepupu ku berada di luar negeri." Jelas jinyi pada elle sambil menunjuk motor di sebelah elle.
Elle melihat ke arah jinyi, menatap tepat di manik mata jinyi. Elle mengangguk sekali, lalu membuka pintu mobil dengan mengenakan tudung hoodie.
Setelah mendaftar, elle kini berada di garis start bersama motor-motor yang lainnya.
Dorr
Dengan ini balapan dimulai.
Para pembalap melajukan motor dengan kecepatan diatas rata-rata.
Elle dengan lihainya menyalip ke kanan, lalu ke kiri. Menambah kecepatan setiap kali berhasil melewati satu persatu motor.
Pertandingan begitu menegangkan setelah satu motor keluar sirkuit dengan berguling-guling. Motor-motor yang lain saling mendahului.
Sekarang Elle dihadang dua motor lagi di depannya. Dua motor yang sedang memimpin putaran. Mereka seolah bekerja sama untuk memblokir jalan elle. Salah satu dari mereka saling beradu kecepatan sehingga mereka selalu sejajar. Saat melalui belokan. Motor balap berwarna hitam mendahului motor satunya. Kesempatan elle untuk menyalip motor di depannya.
18 menit telah berlalu, tersisa elle dan pembalap bermotor hitam. Pembalap di depannya seolah membaca gerakkan elle. Ketika elle akan melangkahi lewat kiri, motor hitam berpindah ke kiri. Begitu pun ketika elle ke kanan.
Elle mengurangi sedikit kecepatannya. Membuat motor hitam melaju sedikit jauh darinya. Ketika motor hitam tidak lagi memblokirnya, elle menambah kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya.
Dan ckiittt...
Elle melalui garis finish terlebih dahulu.
Sial. Perempuan itu bahkan tidak terlihat seorang anak SMA. Lebih pantas menjadi pembalap nasional.
Jinyi menganga tidak percaya apa yang di lihatnya.
Gadis itu ?
'Arrgghh..'
Jinyi mengacak rambutnya frustasi. Elle benar-benar gila. Sedari tadi dia tidak berhenti berdebar-debar mengkhawatirkan elle.
Lihatlah sekarang orang yang di khawatirkan turun dari motor begitu kerennya.
__ADS_1
Jinyi akan mendekati elle dan memeluknya. Namun sesuai kesepakatan sebelumnya jinyi tidak boleh memperlihatkan kedekatan mereka di area balap. Atau ia akan di cecar banyak pertanyaan tentang temannya itu. Akhirnya jinyi menahan diri.