
Semua atensi teralihkan pada Rain. Menunggu jawaban apa yang akan di lontarkan tokoh utama.
"Bisakah aku menolak ?" Tanya Rain
"Tidak." Tegas Andreas.
"Aku tidak mencintainya."
"Tidak ada pilihan."
"Pa, kenapa harus aku ? Aku selalu menuruti perintah papa. Tapi untuk yang satu ini aku mohon pa, Jangan paksa." Pinta rain.
Andreas diam. Auranya menjadi semakin dingin. Tatapannya menajam menghunus mata Rain.
"Kamu adalah penerus perusahaan. Kamu harus bertanggung jawab."
Setelahnya andreas pergi meninggalkan rain yang termenung.
Elle melirik rain dengan ekor matanya. Tatapan dalam matanya memperlihatkan rasa kasihan yang tidak bisa di ekspresikan. Ini mengingatkan pada kakak pertama arisa di kehidupan dulu. Mereka sama-sama tidak berdaya sebagai anak sulung.
Bellerie pun meninggalkan meja makan.
"Kak, selena cantik, pintar, baik dan seusia dengan kakak. Setelah bertemu dengannya kaka pasti menyukainya, percayalah."
Frian berkata bermaksud menghibur kakaknya.
Brian hanya diam. Ia menatap rumit pada rain. Brian ingin menolong tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, dia hanya bisa menatap iba.
Brian yang lebih tenang dari frian mengerti sedikitnya tentang kerisauan rain. Pernikahan bukan hanya tentang tinggal satu atap dan membuat anak, tapi juga tentang cinta dan ketulusan.
Dia tidak ingin keluarganya kelak berakhir seperti dirinya. Orang tua bercerai ketika masih anak-anak membuatnya tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup. Mama nya yang entah kemana dan Papa nya yang selalu sibuk semenjak perceraian.
Rain tidak menjawab. Ia hanya menggeser kursi dan pergi.
Rain berencana pergi keluar, namun gerbang sudah di kunci. Ia malas berurusan dengan papa nya lagi. Keluarga betrix memiliki aturan untuk tidak keluar setelah gerbang dikunci, tepat jam 11 malam. Kecuali untuk pekerjaan kantor. Namun sekarang, sepertinya andreas sengaja menguncinya lebih awal, agar rain tidak menimbulkan masalah di luar.
Jadilah ia berada di gazebo halaman depan. Memandang langit malam, bertaburan bintang-bintang.
Menghisap sepuntung rokok, ia merenungi kehidupannya. sejak kecil sampai sebesar ini, rain benar-benar bingung dengan kehidupan. Seolah senang mempermainkannya. Ia ditakdirkan tidak memiliki orang tua yang harmonis dan jalan yang dipilihkan papa nya.
__ADS_1
Difikirkan lagi, rain merasa ini terlalu tidak adil baginya.
Dulu sewaktu SMA, rain selalu merasa iri dengan teman-temannya yang pergi ke acara kenaikkan kelas bersama ayah atau ibu mereka. Berbeda dengan dirinya yang di wakil kan oleh yeye. Saat kelulusan, semua orang berphoto dengan keluarganya. Dirinya lagi dan lagi bersama yeye seorang. Terlalu pelik.
'Heuhh...'
Rain menghela nafas frustasi. Ia meneguk kembali minuman kaleng beralkohol untuk yang ke 6 kalinya.
Bellerie yang menyaksikkan tidak bisa membantu tapi menggeleng.
Dalam novel pun seperti ini, perusahaan betrix mengalami kerugian dan rain harus bertunangan dengan seorang aktris.
Adegan rain minum dan merokok di gazebo juga ada dalam alur novel. Dalam hal ini bellerie tidak berminat mengubah plot.
Ia berbalik mengulurkan kaki menuju halaman belakang, melatih kekuatan fisik.
Di rumah lain seorang pemenang selama 3 tahun berturut-turut diam menunduk. Bukan karena menyesal atau bersedih, melainkan sedang memikirkan lawan yang mengalahkannya.
Pria mana yang telah mempermalukan juara bertahan tak tertandingi ini.
'Sial.'
"Kau mendengarkanku tidak? "
Rupanya pemuda itu sedang dimarahi. Ia mendongak, menatap mata hitam lawan bicaranya. Ada kemarahan dan kekecewaan disana.
"Iya pah, carles akan cari orangnya." Balasnya jengah, papa nya lagi dan lagi mengomel semenjak pulang dari area balap.
"Awas kalau sampai tidak ketemu. Dia akan papa ikut sertakan dalam pertandingan nasional. Ini akan menguntungkan kita."
Carles berdehem mengiyakan.
"Jangan hanya hm hm saja kamu. Bujuk dia untuk bergabung dengan kita. Mengerti ?"
"Iya pa, iya."
Lantas carles pergi meninggalkan ruang tamu.
'Orang tua itu, kenapa tidak dirinya saja yang mencari.' Kesalnya dalam hati.
__ADS_1
'Hahhh..'
"Aku harus mencari kemana ?"
Carles terfikirkan cctv di area balap. Lantas ia menelpon seseorang meminta rekaman tadi sore.
Carles menonton video sampai habis.
"Strategi apa ini ? Kenapa aku tidak pernah melihat seseorang bermain seperti ini ? "
Carles akui dia benar-benar hebat.
Ia meyakini satu hal bahwa pendatang itu dari luar negeri.
3 tahun yang lalu dirinya mengikuti balapan nasional yang diadakan papanya untuk mempromosikan motor terbaru. Dia tidak pernah melihat siapapun bermain seperti pendatang baru itu.
Saat itu dirinya menang, jika dia mengikuti balapan satu tahun kebelakang kenapa dia baru menang sekarang ? Kecuali orang itu lebih tua beberapa tahun darinya.
Melihat dari perawakan pendatang baru, carles yakin dia seusia dengannya.
Carles memikirkannya. Dia segera mempaus video dan mencatat plat nomor.
Ia mengambil handphone.
"Bim, tolong carikan pemilik plat nomor yang aku kirim."
"Carles bodoh, kau tidak lihat kode platnya berbeda dengan kendaraan lain. Berarti dia bukan dari kota kita."
"Aku tidak bodoh, aku hanya tidak perduli. Untuk apa aku memperhatikan semua plat nomor motor ? Punyaku saja aku tidak hafal."
"Lalu ini untuk apa? "
Skakmat
Terdengar kekehan sinis di seberang sana.
"Carles berhentilah menjadi bodoh, kau bukan anak ingusan lagi. hahaha..."
"Diam kau." Geramnya
__ADS_1
"Untung kakakmu pintar."
"Sialan. Lalu aku harus cari dimana ? "