
Beberapa penjaga berpakaian sama bolak balik melewati ken. Seolah sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Ken yang melihatnya berfikir. Ini kesempatan, seharusnya menjadi kesempatan untuk lari kalau saja penjaga disebelah tidak mencengkram lengannya begitu kuat. Tendang saja, gumam ken. Saat kaki kanannya terangkat, orang lain sudah menginjak punggung kaki kirinya yang merupakan titik keseimbangan ken.
"Ah. Kenapa kamu menginjak kakiku ?" Ken menjerit
" Oh ?" Penjaga itu bingung, ia melihat ke bawah memverifikasi. Ternyata benar.
"Maaf, tidak sengaja. Awalnya aku ingin melihat ke belakangmu." Tunjuknya.
" ! ! ! " Sungguh sial !
Memang ada orang yang berlari dari belakang ken.
"Oh, oh, cepat bantu. Disana juga ada api." Ia terengah-engah. Namun suaranya yang keras berhasil menarik kepanikan orang-orang.
"Kenapa ada api lagi ? Api di gudang timur belum padam.!" Keluh yang lain.
"Baiklah, tenang. Kalian lanjutkan padamkan api di gudang timur. Sisanya ikuti ke gudang belakang." Seseorang mengatur dengan tegas, melihat lebih dekat sepertinya orang ini memiliki posisi yang berbeda.
"Baik ketua."
Orang yang dipanggil ketua itu akan pergi ketika ia teringat sesuatu, ia berbalik ke arah ken.
"Kenapa kamu membawanya keluar ?"
"Ketua penjaga, dia bilang dia lapar dan terbiasa makan ditempat yang luasa dan terbuka. Didalam kantor terlalu pengap."
Ketua melihat bahwa penjaga disebelah mencengkeram lengan ken begitu erat. Sedangkan kedua pergelangan tanganya di borgol. Melihat ini, ketua cukup puas. Anggota timnya memang terlatih dan cerdas. Bos harus memberikan apresiasi nanti.
"Kalian pergi makan. Ingat, jangan alihkan pengawasanmu darinya." Ketua menunjuk ken dengan dagunya.
"Baik ketua." Hanya tersisa dua orang yang pergi makan. Penjaga tidak berfikir aneh, menurutnya tidak ada satu orang pun yang mengikuti mereka ketika datang ke pabrik kosong. Lagipula ini tengah malam siapa yang mau melihat keributan ? Orang-orang harus terlelap dalam mimpi masing-masing. Adapun remaja yang bersama peneliti ini, dia yakin mereka sudah menghajarnya sampai sekarat. Paling-paling tubuhnya akan ditemukan besok pagi. Tidak masalah, toh dua atau tiga jam lagi kami akan melanjuykan perjalanan.
__ADS_1
Namun, kenapa tiba-tiba ada api dipabrik yang tidak berpenghuni ?
Tuk
Saat tubuhnya perlahan jatuh ke tanah ia baru menyadari bahwa ada yang aneh dengan semua ini. Ia pun kehilangan kesadarannya.
"Ah." Ken terkejut karena cengkeraman penjaga itu terlepas dan ia menyaksikan tubuh kekarnya berbaring dilantai tidak bergerak. Pingsan ? Atau mati ? Pergerakannya begitu cepat, sehingga ken tertegun.
Ken sadar kembali setelah borgol di tangannya dibuka dengan suara klik.
Kemudian, ia melihat wajah yang heroik dan familiar. Seperti pahlawan yang menyelamatkan kecantikkan.
"Elle.. Bagaimana ? Kamu... Kamu..." Pengucapan ken tidak jelas. Ia tidak percaya bahwa gadis kecil yang barusan ia fikirkan, muncul di bawah hidungnya.
"Pergi." Jawab elle acuh tak acuh.
"Ah, ya. Elle kamu bagaimana bisa kesini ? Dengan siapa kamu datang ? Bagiaman dengan lusheng itu ?"
"Elle, orang-orang itu sedang memadamkan api. Apakah kita bisa melarikan diri ? Bagaimana kalau apinya sudah padam lalu mereka mengetahui aku menghilang ? bukankah mereka akan menangkap kita ? Kamu akan terlibat elle.."
Elle meliriknya sekilas, memperbaiki jaket levis nya merosot.
"Tidak." Balasnya. Entah tidak untuk tidak akan terlibat atau tidak untuk api yang akan padam.
Ken mengernyitkan alisnya, "Apakah kamu yang membuat api ?"
Elle mengangguk sekali.
Ken bersemangat, "Seberapa besar itu ? Apakah cukup waktu sampai kita keluar dari sini untuk apinya padam ?"
"Ya."
__ADS_1
"Ha ha ha ha... Sudah kuduga kamu memang berbeda." Ken tertawa.
Saat mereka keluar dari pintu, orang-orang didalam ribut mengetahui ken menghilang. Mereka berpencar kesetiap penjuru pabrik, tidak perduli lagi apakah apinya akan menarik perhatian orang lain atau akan membakar semua gudang.
Elle yang baru 5 langkah dari pintu menyeret ken kembali ke samping pintu, bersembunyi di bagian tong besi besar yang ukurannya lebih tingi dari tubuh elle.
"Apa yang terjadi ? Kenapa kita bersembunyi disini ?"
"Ssstt."
Ken segera tutup mulut, kendati ia tidak mengerti kenapa elle memilih mengajaknya bersembunyi alih-alih berlari cepat untuk sampai ke pinggir jalan raya. Ketika ia dijalan mungkin ada satu atau dua mobil yang lewat untuk meminta tolong. Lebih baik daripada menunggu disini. Walau begitu ken tetap patuh berdiri disamping elle tanpa membuat keributan.
"Sial, kita ditipu. Pasti ada yang mengikuti kita sampai kesini." Geram penjaga yang baru saja keluar.
"Tidak mungkin. Saat itu kita tidak melihat siapapun dibelakang. Kalau pun ada yang mengikuti kenapa harus menungu sampai sekarang ? 1 jam sudah berlalu."
"Jangan pedulikan itu lagi. Cepat cari peneliti, dia memiliki fisik yang lemah tidak mungkin berlari jauh."
Ken akhirnya tercerahkan, benar juga. Dirinya memiliki kekuatan fisik yang lemah, kalau ia terus berlari dengan elle barusan. Bukankah ia akan menghambat elle dan akhirnya keduanya ditangkap dengan mudah ? Ken melirik kesamping, ia tercengang.
'Kemana dia pergi ?'
"Ah !"
"Sial.."
Ia melihat dua orang penjaga yang kurang dari 30 detik yang lalu mengerutu, sekarang berbaring ditanah seperti orang sebelumnya, tidak bergerak. Ia melihat pelakunya berdiri, memandang mereka dengan ekspresi kebosanan yang jelas di wajahnya.
" ! " Elle sangat hebat, fikir ken.
"Pergi." Suaranya yang malas terdengar dibalik kegelapan malam.
__ADS_1
Ken kembali bangun, "Pergi, ayo pergi."