
"Jinyi, halo. Saya Revina."
Jinyi memandang tidak suka pada orang di depannya. Ia terpkasa menerima uluran tangan revina.
"Halo."
"Jinyi, maafkan teman sekelas robi. Dia dan teman-temannya tidak bermaksud merendahkan kelas regular."
Mata jinyi menyipit melihat revina tersenyum manis.
Orang ini seperti sengaja untuk mendapatkan simpati dari orang-orang disekitarnya. Apa sebenarnya yang dia inginkan ? Jinyi tidak bisa untuk tidak memaafkan, dalam situasi dimana orang-orang masih membereskan kekacauan ia akan mendapatkan reputasi buruk jika pergi begitu saja.
Walaupun sebal jinyi masih menanggapi revina dengan senyuman.
"Tidak apa-apa asal jangan mengulanginya lagi."
"Jinyi kamu sangat baik. Aku akan mengawasi robi di masa depan."
Revina berkata lembut yang membuat orang-orang disekitar merasa luar biasa terhadap kepribadiannya. Seorang wanita cantik berbakat dengan latar belakang keluarga yang baik seperti revina pantas menjadi bunga sekolah.
Revina lantas mendekati yuliar, ia memegang kedua tangannya dengan lembut berbicara.
"Teman Yuliar, Maafkan robi dan teman-temannya yang memojokkanmu."
Yuliar yang dipegang terkejut. Tidak pernah sekalipun ia bermimpi bisa berbicara dengan pianis muda seperti revina. Yuliar sangat mengagumi revina karena ia bermain piano dengan luar biasa. Yuliar seperti penggemar yang bertemu artis dengan keberuntungan. Ia melihat ke jari-jari ramping revina, putih halus dan cantik. Jari-jari itulah yang dengan lihai menekan setiap nuts piano, kini jari-jari itu menggenggam tangannya dengan lembut. Yuliar hanya merasa akar telinganya memerah. Ia terpesona.
"Teman Yuliar."
"Ah," Yuliar sadar kembali.
"Hm... Itu... bukan masalah."
Yuliar malu-malu menjawab.
"Ha ha ha... Baiklah, terima kasih atas kemurahan hatimu."
Yuliar terpesona lagi oleh tawa ini. Ia melihat bahwa revina jauh lebih cantik saat tertawa.
Yuliar mendengar beberapa orang berkata bahwa ia beruntung bisa bermain piano bersama Revina.
Yuliar juga merasa ini adalah keberuntungan atas ketidak hadiran Raden. Jika kemarin raden tidak izin sakit ia tidak akan mempunyai kesempatan ini. Diantara siswa siswi piano, raden dan revina adalah pasangan pianis terpanas di sekolah. Revina yang bermain dengan nada-nadanya yang lembut dan menyentuh, sedangkan raden bermain dengan gelombang nada yang emosional. Duel keduanya hanya seperti panggung nasional. Pasangan yang diturunkan dari surga.
"Yuliar, lihatlah mukamu memerah."
"Ha ha ha... Apakah kamu terlalu bersemangat berbicara dengan revina."
__ADS_1
Yuliar tidak menjawab ia menundukkan kepala, namun teman-teman lain melihat telinganya masih memerah. Mereka tidak bisa menahan tawa. Penampilan yang malu-malu ini sungguh lucu. Yuliar adalah seorang pemalu.
"Sayang sekali Raden tidak hadir. Kalau ada, dia yang akan menjadi pasangan main revina. Penampilan kalian akan menjadi luar biasa."
"Apa yang kamu bicarakan Cici ? Penampilan Yuliar juga sangat baik."
"Tidak sebaik milikmu." Cici berkata terus terang.
"Aku... Aku akan berusaha keras."
Yuliar memberanikan diri berbicara.
"Tidak apa-apa, aku akan menyesuaikan dengan permainanmu." Revina mencoba menenangkan yuliar.
"Te... Terima kasih..."
Yuliar menjawab terbata-bata.
Revina tersenyum lalu ia melihat ke sebelah pintu. Ia melihat bellerie yang diam tidak seperti biasanya. Bersandar di dinding dengan ceroboh, seolah menjauhkan diri dari keramaian, tidak berbicara dari awal sampai akhir. Bellerie terlihat tidak perduli dengan keadaan sekitar. Revina merasa bellerie berubah seperti rumor yang beredar baru-baru ini. Ia teringat sesuatu, bellerie sering dibicarakan teman-teman sekelas sebagai pembalap baru. Revina baru mengetahui bahwa orang seperti bellerie mempunyai hobi balapan.
"Bellerie, lama tidak bertemu."
Revina tersenyum ramah.
Elle tidak menjawab, ia mengangguk sekali.
"Bellerie, kamu telah berubah tidak seperti dulu lagi. Oh ya, aku dengar kamu memenangkan pertandingan nasional. Selamat untuk itu."
Revina mengulurkan tangan yang langsung dijabat jinyi.
"Terima kasih, elle memang berbakat." Jinyi juga tersenyum ramah. Ia tidak sadar tindakkannya seperti ibu tua yang melindungi anak perempuan.
Revina tersenyum canggung, ia segera melepaskan tangan dari jinyi.
"Belerie, akhir-akhir ini kamu sangat terkenal. Kamu mempunyai banyak penggemar."
"Benar, elle begitu populer sekarang."
Jinyi menimpali.
"Bahkan lebih populer dari raden."
Revina menanggapi jinyi yang selalu menjawab untuk bellerie.
"Itu artinya lebih populer darimu."
__ADS_1
Jinyi bercanda diiringi tawa. Orang-orang melihat ini sebagai gurauan semata.
"Baiklah, aku akan segera tampil. Sebaiknya aku dan yuliar segera mendekati panggung. Ayo yuliar."
Revina meninggalkan jinyi yang tersenyum bersama yuliar dan beberapa teman sekelas unggulan.
Jinyi menghela nafas, bibirnya kaku karena tersenyum terus menerus.
Elle yang melihatnya menggeleng. Ia tahu jinyi tidak menyukai revina. Ia menepuk bahu jinyi.
"Ayo."
"Elle, revina itu bukan orang baik. Kamu harus berhati-hati."
Elle tidak menjawab.
"Huft... Lupakan. Lagipula kamu tidak suka berbicara dengan orang lain."
Elle tidak menjawab ia duduk di kursi belakang karena kedatangannya dengan jinyi yang paling terlambat.
"Elle lihat, itu tuan muda ketiga heirgh." Jinyi berdiri, melihat ke kursi paling depan.
"Disini kita hanya dapat melihat punggungnya. Sayang sekali." Jinyi menggerutu kesal, ia kembali duduk.
"Elle, tuan muda ketiga heirgh ini belum menikah. Jangankan menikah bahkan dia belum bertunangan. Usianya 23 tahun, sudah mewarisi bisnis keluarga."
"Apa kamu tahu kenapa yang mewarisi bisnis keluarga bukan tuan muda tertua heirgh ? Karena tuan muda pertama adalah seorang dokter dan tuan muda kedua adalah seorang pelukis. Yah, aku rasa tuan muda ketiga tidak punya pilihan selain mengurus bisnis. Elle, kamu seharusnya tahu kan nama lengkap tuan muda ketiga ?"
Jinyi bercerita sedari tadi sambil terus menerus memperhatikan punggung dan kepala belakang tuan muda heirgh. Saat merasa orang disampingnya tidak bergerak, jinyi menoleh. Ia mendapati elle menunduk memainkan hp.
"Elle, kamu tidak mengarkanku? " Jinyi bertanya dengan tidak percaya.
"Dengar." Jawab elle acuh sambil terus mengoperasikan hp.
"Lalu, siapa nama tuan muda ketiga heirgh ? "
"Tidak tahu."
Jinyi tercengang. Masih ada orang yang tidak mengetahui nama tuan muda ketiga heirgh, orang-orang berlomba untuk mengingat namanya bahkan sampai kedalam mimpi. Mereka sangat menyukai nama tuan muda ketiga heirgh, berangan-angan bisa menikah dengannya. Lantas elle bilang tidak tahu. Sial.
Benar-benar tidak ada yang menarik bagi elle.
"Elle... Namanya Edenson Heirgh."
Jinyi berbisik, khawatir orang lain akan mendengar.
__ADS_1
Melihat elle tidak menjawab lagi. Jinyi menghela nafas, sudah berapa kali dirinya menghela nafas hari ini. Ia tidak melanjutkan, memilih fokus pada penampilan berikutnya. Ternyata itu yuliar dan revina yang naik. Jinyi melihat yuliar gugup, dari awal naik ia selalu menundukkan kepala. Berbeda dengan revina, berjalan anggun sambil tersenyum. Memang berbeda bagi orang yang sudah terbiasa diatas panggung, tidak canggung sama sekali.