
Elle terbangun, ia menoleh ke samping pukul 06.00 A.M. Semalam ia merasa tubuhnya lemas. Ia tak berdaya, karenanya memilih beristirahat lebih awal. Tapi apa yang terjadi ? Arisa tidak mempunyai riwayat penyakit apapun.
Pagi ini elle masih terasa lemas. Elle mencoba mengingat, apa saja yang telah dimakannya kemarin malam. Elle hanya mengambil daging sapi, beberapa seafood dan 3 gelas kopi hitam.
Apakah bellerie asli alergi seafood ? Atau daging sapi ? Ia tidak mempunyai tenaga lebih untuk mengurai pelukan andreas.
Elle memutuskan untuk diam sampai andreas bangun.
"Elle.."
Tak lama andreas tersadar.
"Pergi mandi. Kita akan sarapan."
Andreas beranjak dari kasur.
Ia melihat elle yang tidak bergeming. Wajahnya sedikit pucat. Andreas mulai khawatir.
"Elle, ada apa? "
"..."
"Apa elle sakit? "
Andreas meletakkan tangan di dahi elle.
Tidak panas.
Tok tok tok
"Nona."
"Masuk."
Andreas membalas.
"Maaf tuan, saya kira tidak ada tuan."
"Eri."
Elle memanggil eri dengan lemah saat eri berniat untuk keluar lagi.
"Iya nona."
Saat eri melihat wajah elle ia terkejut. Eri segera berlari mendekati elle.Ia melihat wajah elle yang pucat, matanya terkulai lemas. Eri melihat elle tidak banyak bergerak sedari tadi.
"Apakah nona lemas? " Tanya Eri khawatir
"Hm..." Elle mengangguk tak berdaya.
"Nona, pasti minum kopi hitam lagi. Sudah sering saya ingatkan nona jangan minum kopi, apalagi kopi hitam." Eri mengambil obat dilaci samping tempat tidur bellerie.
Hanya ada dua jenis obat disana tapi jumlahnya cukup banyak untuk diminum seminggu. Seolah-olah pemiliknya akan mengalami kesakitan kapan saja.
Elle mendongak. Ia melihat sebungkus obat di tangannya, antasid. Elle mengerti sekarang, bellerie asli pasti sering minum kopi padahal tidak di perbolehkan. Bellerie memiliki riwayat asam lambung.
"Kopi ? "
"Iya tuan, nona elle memiliki riwayat asam lambung. Nona tidak bisa minum kopi."
__ADS_1
Di kehidupan dulu, arisa sering minum kopi. Ia tidak mempunyai masalah dengan lambung. Lambung arisa sehat. Elle ingat kemarin malam adalah pertama kalinya bagi arisa minum kopi setelah menyeberangi waktu.
"Sejak kapan ? "
Tanya andreas. Elle tidak terlihat lemas, wajahnya sedikit pucat tapi matanya selalu acuh tak acuh. Andreas tidak bisa menahan gejolak dihatinya. Ia fikir elle mencoba kuat di depannya karena tidak mau bergantung padanya.
Eri menunduk.
"Sejak kelas 4 SD, tuan. Dulu nona tidak mau makan kalau tidak ada tuan." Eri memberanikan diri menambahkan kalimat terakhir dengan harapan tuan andreas merasakan cinta elle untuknya.
Mendengarnya andreas tersentak, ia melihat elle. Dadanya semakin sesak, dulu ia menyibukkan diri dengan kertas-kertas. Bahkan ia tidak melirik anak-anaknya sekalipun. Andreas mempercayakan urusan keluarganya pada yeye dan para pelayan. Seperti andreas mempercayakan elle pada eri.
"Permisi tuan, saya akan menyiapkan bubur untuk nona."
Andreas tersadar, ia mendekati elle dengan sendu. Segera ia merengkuh tubuh kecil putrinya. Mencium pucuk kepala elle.
"Maaf, elle."
Gumam andreas yang masih terdengar elle.
Elle sendiri mencoba memberontak, tapi andreas semakin erat memeluk. Elle tidak punya banyak tenaga. Akhirnya ia hanya pasrah.
Elle tidak menyangka, bellerie sangat berlebihan. Hanya karena andreas tidak ada dirumah ia tidak mau makan. Arisa juga sama seperti elle, kekurangan kasih sayang. Hanya saja ia tidak terlalu rewel, arisa makan 3 kali sehari, tepat waktu.
"Elle, makanlah yang teratur ya."
Andreas mengusap pipi elle. Matanya memandang elle dengan sendu.
"Pergi." Jawab elle lemah.
Elle merasa risih di peluk dan diusap. Ia tidak ingin menjadi lemah, kehidupan arisa terbiasa menyendiri.
"Elle.." Lirih andreas.
"Baiklah, papah akan berangkat ke kantor. Elle beristirahatlah. Makan bubur setelah itu minum obat."
Andreas menarik selimut elle sampai perut, kemudian berlalu keluar kamar dengan wajah murung.
Di dapur eri sedang menyiapkan bubur yang sudah dimasaknya. Karena terburu-buru ia hampir bertabrakkan dengan Rain yang baru saja turun tangga.
"Ah, maaf tuan muda." Eri tersentak. Ia bersyukur buburnya tidak tumpah.
"Kenapa terburu-buru? " Rain melihat bubur di tangan eri.
"Maaf tuan muda, nona muda sedang sakit. Saya khawatir perut nona perih jadi saya terburu-buru. Sekali lagi maafkan saya tuan muda."
"Bellerie sakit? " Tanya rain yang menghiraukan permintaan maaf eri.
"Iya tuan muda. Maaf tuan muda saya terburu-buru." Tanpa menunggu jawaban dari rain eri telah melesat keatas tangga.
Rain akan bergegas mengikuti eri namun dihentikan suara andreas dari tangga.
"Mau kemana? "
"Ke kamar elle."
"Dia sedang istirahat. Jangan menganggunya."
"Tapi pah, elle..."
__ADS_1
"Sarapan." Andreas memotongnya.
Di meja makan ternyata sudah ada Frian dan brian yang menatap penasaran ke arah mereka.
Andreas telah bersiap memegang garpu dan sendok saat brian bertanya.
"Dimana elle? "
"Elle tidak ikut sarapan bersama."
Jawab andreas tenang.
"Kenapa pah? " Tanya Brian
Andreas mengernyit, "Elle sakit, sedang istirahat."
Decitt...
"Sarapan."
Andreas menyela saat brian berdiri berniat menjenguk adiknya.
Suara andreas yang tegas tidak bisa dibantah oleh siapapun, brian dengan berat hati kembali duduk.
Bukan tanpa alasan andreas melarang putra-putranya untuk menjenguk elle. Tubuh elle lemas tentu saja membutuhkan istirahat, jika putranya mengganggu itu hanya akan membuatnya tidak nyaman. Andreas tidak ingin elle semakin menjauh dari keluarganya.
Setelah sarapan selesai, rain dan frian yang sedari tadi diam tidak tahan lagi. Ia mengumpulkan keberaniannya.
"Pah..." Frian dan Rain berbicara bersamaan tanpa kesepakatan. Keduanya saling melirik seolah berkata 'Ada apa kamu memanggil papah? ' .Frian yang memang lebih muda ia memilih mengalah.
"Pah, tentang pertunanganku dengan selena. Bisakah dibatalkan? " Tanya rain dengan hati-hati.
"Kenapa? "
Mendengar pertanyaan andreas yang datar, rain diam-diam menghela nafas.
"Aku tidak menyukainya sejak awal."
Tidak ada jawaban dari andreas. Suasana tiba-tiba menegang. Rain mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika setelah kejadian kemarin pertunangan masih diadakan, maka ia tidak akan perduli dengan apapun lagi. Ia hanya akan melarikan diri sejauh yang dia bisa untuk kebebasannya.
Namun...
"Terserah."
Kerutan didahi rain menghilang, ia tersenyum mendengarnya. Itu berarti ia bebas untuk memutuskan pertunangan sialan itu.
"Namun, jangan merusak reputasi betrix." Lanjut Andreas.
"Aku mengerti."
Rain faham satu hal ini, saat pertunangan itu putus selena seharusnya tidak akan menerimanya begitu saja. Kemungkinan besar ia akan menyebarkan rumor buruk tentang dirinya yang membatalkan pertunangan. Selena yang seperti rubah betina itu akan bertingkah menyedihkan didepan media. Kemudian para penggemarnya akan menyerang rain dan keluarga betrix. Dalam hal ini reputasi betrix terancam, ada kemungkinan saham betrix akan kembali turun. Meski tidak sebesar penurunan sebelumnya.
"Kak rain dan selena akan memutuskan pertunangan. Lalu untuk apa pertunangan itu diadakan? "Tanya Frian.
Rain sebenarnya malas untuk menjelaskan. Tapi melihat sifat frian yang kurang baik terhadap bellerie, ia fikir ia harus menjelaskannya.
"Tentu saja untuk bisnis. Ayah temanmu, tuan wilson telah mencuri prorposal perusahaan betrix. Kami mengalami kegagalan dalam kerja sama 1 miliar. Kalau bukan karena bellerie yang memenangkan balapan dan mengajukan persyaratan kontrak pada tuan lane, mungkin kita sudah menjadi gelandangan."
Rain menjelaskan dengan sinis. Ia benci mengingat wajah tua tuan wilson yang Mengejeknya tempo hari.
__ADS_1
Rain juga sengaja melebih-lebihkan. Agar frian bisa lebih menghargai bellerie daripada temannya.
Seperti yang diharapkan Rain, frian bungkam, kehilangan kata-kata.