Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Elle Semakin Kuat


__ADS_3

"Lili, ayo aku akan memperkenalkanmu pada beberapa kenalan keluarga. Ibuku punya sahabat seorang manajer perusahaan Airing entertaintment. Tahukah kamu Airing entertaintment? "


"Aku pernah mendengarnya. Bukankah perusahaan yang merekrut selena? "


Lili ingat suatu hari frian pernah bercerita tentang selena, calon nyonya muda betrix. Ia berkata banyak tentang latar belakang, profesi dan sikap selena. Pada saat itu ia tidak tertarik dengan gosip industri hiburan. Ia berfikir bagus untuk mendapatkan nilai tinggi di sekolah sehingga dapat melanjutkan kuliah di perguruan terbaik di ibu kota.


"Benar. Tapi tempat kerja bibiku adalah perusahaan cabang kota x." Rachel terus berbicara sambil berjalan.


"Tidak apa-apa lili. Kamu bisa mencobanya, jika beruntung mungkin kamu bisa pindah ke ibu kota seperti selena." Rachel mengamati perubahan ekspresi temannya. Ia khawatir lili merasa dirinya terlalu banyak ikut campur.


Hening untuk beberapa saat. Sampai rachel kembali membuka mulutnya.


"Lili, maaf aku tidak bermaksud..."


"ya, aku akan mencoba."


Melihat lili tersenyum, rachel menghela nafas lega.


"Bagus. Ayo ikuti aku." Rachel bersemangat.


Jinyi melihat mereka berdua pergi entah mau kemana. Ia melirik elle.


"Mau kemana mereka? "


"Jinyi, kamu cukup menganggur mengawasi orang lain." Kata Elle.


Jinyi diam dengan jujur. Ia patuh duduk disamping elle, matanya tidak lagi mengawasi kesana kemari.


Acara jumpa fans yang sederhana dan singkat telah selesai 1 menit yang lalu. Reksi dan kelompoknya pergi dengan wajah puas.


"Ugh, anak-anak sangat antusias." Ucap carles yang kembali bergabung dengan bellerie.

__ADS_1


"Tidak benar. Kenapa kalian tidak meminta tanda tangan dan photo ku? " Tanya carles, memperhatikan satu persatu wajah orang-orang disekitarnya.


"Apa kamu bercanda ? Kami tidak mengejar idola pembalap." Jinyi yang sudah diam, mulai angkat bicara.


"Tidakkah kamu mengejar bellerie? " Tanya carles curiga.


"Tentu saja, tapi elle bukan pembalap. Dia adalah perempuan kuat yang aku kagumi."


Carles yang pernah balapan dengan elle, "..."


"Anak muda, dia benar. Untuk apa pembalap ? Tidak akan mengubah peradaban dunia."


Ken berkata terus terang. Sebagai seseorang yang sering berada di laboratorium. Sejujurnya ken seperti pria tua yang tidak pernah melihat dunia. Tidak ada hiburan dan tidak mengejar bintang.


"Bagaimana dengan kalian berdua? " Tanya carles pada ray dan lusheng.


"Oh, sebenarnya aku pernah menjadi penggemarmu. Tapi sekarang tidak lagi." Jawab ray.


"Karena kamu kalah dari bellerie." Jawab ray polos.


"Aku hanya kalah sekali." Carles tidak terima.


"Tapi bellerie perempuan dan kamu laki-laki."


Carles, " !!! "


Melukai harga diriku.


Ia melihat lusheng.


"Aku juga sama." Kata lusheng canggung.

__ADS_1


Jadi sekarang ia adalah bintang yang dicampakkan penggemarnya ?


"..."


"Teman kecil, apa yang kalian bicarakan adalah hal-hal yang tidak bermanfaat."


"Siapa teman kecilmu ? Kamulah hal-hal yang tidak berguna." Carles mendengus tidak senang.


"Apa maksudmu. Aku adalah..."


Brakk


"Eh, suara apa itu? " Tanya ken yang pembicaraannya teralihkan.


"Ayo kita pergi lihat." Jinyi melihat kerumunan di ujung aula. Matanya berbinar-binar seolah melihat pertunjukkan yang menyenangkan.


Setelah beberapa kali mengikuti diandra melihat pertunjukkan disekolah, jinyi benar-benar menjadi bintang gosip. Setiap kali ia akan tertarik melihat keributan atau hal-hal yang berbau mesiu. Jinyi berfikir mungkin ini insting seorang reporter.


"Elle, apakah kamu tidak ikut ? "


Tanya jinyi.


Yang lain sudah berjalan sedangkan elle masih tidak bergerak. Jinyi tidak percaya, elle pasti jelmaan kaisar abad sebelum masehi.Yang hanya duduk menjaga singgasana.


"Elle, ayo ikut. Ini adalah perjamuan keluargamu. Kamu harus melihat apa yang terjadi."


Jinyi menyeret elle sekuat tenaga. Sedangkan yang diseret hanya mengikuti selangkah demi selangkah dengan malas.


"..."


Jinyi merasa elle semakin kuat.

__ADS_1


__ADS_2