
Malam sudah terbit, cahaya rembulan menyeruak di balik celah-celah jendela tanpa kaca. Suara jangkrik berirama membentuk melodi penghantar tidur.
Angin menusuk kulit sampai ke tulang. Dinginnya menyelimut seolah tinggal di hutan bersalju.
Tangisan kecil mengikuti bak musik pengiring seriosa. Teriakan tak diacuhkan olehnya. Bagai tahanan yang tidak pantas hidup. Sejauh itulah korban-korban ketakutan.
"Kak reksi sudah sadar, hiks.."
Lily berhambur memeluk reksi yang tengah terduduk sambil memegang tengkuk.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Balas reksi lembut, mengelus surai hitam panjangnya.
"Akh, dimana ini ? Tengkuk ku sakit sekali."
"Jack, akhirnya kau sadar juga ." Balas frian.
Hah?
Jack terkejut melihat banyak orang terkurung bersamanya di jeruji besi.
Lebih dari itu, mereka semua memakai seragam yang sama.
"Apa ini penculikkan siswa Guna Bangsa X ? "
"Entahlah, di samping kiri dan kanan juga ada korban." Balas frian.
"Benarkah ?"
Jack terdiam, mendengar beberapa suara bising di sebelah kiri kanan jeruji.
"Ini penculikkan massal. Tapi untuk apa mereka menculik anak SMA ?"
Brian menggidikkan bahu tak tahu.
Jack berdiri, ia menempelkan wajahnya pada jeruji besi.
__ADS_1
"Hei kalian yang di sebelah kiri dan kanan, apa kalian dari SMA Guna Bangsa? " Kata jack berteriak.
"Apa ? Tentu saja bukan. Tapi kami memang anak SMA." Balas di sebelah kanan berteriak.
"Dimana itu SMA Guna Bangsa? " Tanya seorang laki-laki di samping kiri.
"Kau tidak tahu ? Tentu saja di kota x." Balas Jack.
"Apa kita di kota X ? Kami bukan dari kota X." Sahut yang lainnya.
"Apa? "
Semua orang terkejut, tak terkecuali belleri yang membuka mata.
"Kami juga bukan dari kota X. Kalau tempat ini benar kota X, berarti kita sudah pergi terlalu jauh."
"Kalian darimana? " Tanya frian mengikuti.
"Kami dari kota R."
"Kami dari kota Y."
'Hah? '
Tiba-tiba menjadi hening. Mereka asik dengan fikiran masing-masing. Penculikkan dilakukan sejauh itu. Lalu dimana ini ? Apa ini benar-benar di kota X ?
Bellerie membatu, fikirannya tertuju pada novel. Bellerie yakin ia tidak melewatkan selembar pun dari ceritanya. Namun, detail ini tidak ada dalam novel.
Bellerie tidak bisa membantu hanya kembali menutup mata. Bergelut dengan beberapa kesimpulan.
"Apa kita benar-benar di kota X ?" Tanya jack.
"Entahlah, kepala kita ditutup. Aku tidak bisa melihat jalan." Balas lily sambil mengusap sisa air mata.
"Tunggu, sekarang tanggal berapa ? " Tanya Frian.
__ADS_1
"Untuk apa kau menanyakan tanggal ? " Tanya jack sambil meraba-raba sakunya.
"Sial, handphone dan tasku tidak ada." Lanjutnya sambil mengamati setiap pojok penjara.
"Aku ingat kita di serang penculik tanggal 13. Kalau sekarang tanggal 14 berarti kita sudah 1 hari menghilang." Jelas Frian.
"Hahh.. Apa yang harus kita lakukan sekarang kak ?" Tanya lily.
"Mungkin kita hanya perlu menunggu. Keluarga kita dan polisi pasti mencari keberadaan kita." Jawab Brian, penuh keyakinan.
Papa nya pasti mengerahkan para penjaga untuk melacak keberadaan anak-anak betrix. Memikirkan ini, brian sedikit tenang.
Malam semakin dingin. Reksi yang melihat lily kedinginan, ia melepaskan jaket tebalnya lalu menyelimutkan pada tubuh mungil lily.
Di belahan malam lain, andreas nampak frustasi mencari keberadaan putra putrinya. Sudah dua hari berlalu, tapi ia belum kunjung menemukan jejaknya.
"Sudah ada kabar? "
Seseorang yang baru masuk itu segera menunduk.
"Belum ada Tuan."
Andreas menggeram, auranya semakin dingin. Bahkan di hari pertama ia tidak menemukan jejak apapun. Para penculik itu terlalu licik, mereka beraksi di tempat yang jauh dari jangkauan cctv.
Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah di keluarga betrix. Pengkhianatan karyawan perusahaan, sampai penculikkan anak-anak betrix.
Memikirkan ini andreas memejamkan mata. Ia sangat frustasi.
"Lanjutkan pencarian, bahkan sampai ke luar kota sekalipun." Perintahnya.
"Baik tuan."
Rain mendengar semuanya. Ia bingung bagaimana harus bereaksi. Rain tidak terlalu dekat dengan adik-adiknya semenjak orang tuanya bercerai. Walau begitu, ia merasa ada kekosongan di hatinya.
Rain memandang langit. Gelap gulita, tidak ada bintang yang berkerlipan. Hanya ada rembulan yang bersinar penuh. Seolah menggambarkan kehampaan hidupnya.
__ADS_1