
Jack dan teman-temannya berada di area parkir. Setelah kegiatan selesai mereka akan pulang, namun ia mendengar beberapa siswa berbisik-bisik. Sepertinya telah terjadi pertengkaran di sekolah.
Jack ingin tahu siapa lagi yang bisa membuat keributan jika bellerie telah bertobat ?
"Teman sekelas, ada apa ribut-ribut ?" Jack bertanya kepada seorang siswi yang lewat bersama dua temannya.
"Oh halo senior jack." Sapa mereka antusias. Satu persatu mereka melihat jack dan yang lainnya, mereka begitu tampan.
" Ya Halo." Sapa kembali jack dengan ramah.
"Tadi kami melihat teman sekelas revina mengolok-olok kelas regular Bellerie."
"Bellerie hanya diam saja. Seolah ia tidak perduli sama sekali. Padahal dulu bellerie ratu bullying."
"Oh begitu." Jack faham sekarang.
"Kami juga kelas regular tapi kami masuk 50 besar seangkatan. Cici berkata kelas regular C tidak pernah ada yang masuk 50 besar. Dan itu fakta."
"Seperti itulah teman sekelas revina memprovokasi teman sekelas regular C."
"Ya, aku mengerti sekarang."
Jack mengangguk.
"Senior jack, apakah ada yang ingin ditanyakan lagi? "
"Tidak ada. Terima kasih atas infonya."
"Sama-sama senior. Kalau begitu kami pergi duluan. Sampai jumpa."
"Sampai Jumpa." Jack tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Adik kalian ternyata hanya jago balapan. Tidak apa-apa setidaknya dia punya bakat." Jack menepuk bahu frian.
__ADS_1
"Huh, Apanya yang setidaknya ? Itu masih memalukan untuk menjadi peringkat terakhir." Frian mendengus. Ia tiba-tiba merasa menggigil, ketia ia berbalik kesamping brian sedang menatapnya dengan ganas.
Frian tidak berani berbibacara lagi.
"Tugas kalian sebagai kakak membantunya belajar." Jack menimpali.
Jack adalah orang yang percaya bahwa ikatan darah lebih kental daripada apapun. Sehingga jack yakin di dunia ini tidak ada anggita keluarga yang tidak menyayangi satu sama lain. Jack yang terlahir di keluarga yang harmonis tidak pernah berfikir bahwa selalu ada perselisihan antar manusia, tidak perduli mereka keluarga atau bukan.
"Kemana reksi? " Frian mengalihkan pembicaraan.
"Oh, aku lupa memberi tahu kalian. Reksi pergi bersama lily."
"Haruskah kita menunggu atau menyusul? "
"Tidak perlu menunggu. Kita juga tidak perlu menyusul karena reksi tidak memberitahuku mereka pergi kemana. Sebaiknya kita berangkat duluan."
"Ya."
"Tidak."
"Aku tidak akan ikut. Kalian pergi duluan."
"Brian, kemana kamu pergi? "
"Kakek kembali hari ini, aku akan menemuinya."
"Tidak seperti biasanya." Kata Frian.
"Brian, bukankah kakekmu tidak pernah melarang kalian bermain? "
"Tidak." Jawab Brian enteng.
"Lalu, kenapa kamu tidak ikut kami ?" Tanya jack.
__ADS_1
"Hanya ingin. Kamu naik mobil jack." Perintah Brian kepada saudara kembarnya lalu pergi dengan tas punggung.
"Jangan pedulikan dia, ayo pergi." Frian melirik brian ia tidak mengerti kenapa brian ingin pulang karena hanya kakek kembali. Tidak seperti biasanya.
Walau kakek berwajah dingin dan ketat tapi Kakek tidak akan marah, hanya karena mereka berdua tidak menyambut kedatangannya. Kakek juga tidak akan menghukum mereka yang lebih memilih bermain, bagaimanapun juga berkat pendidikkan andreas mereka tidak berani bermain sampai larut malam.
Brian yang tergesa-gesa sebenarnya tidak pergi, ia menunggu di depan gerbang sekolah.
"Elle, lihat bukankah itu kakakmu Brian? "
Elle mengangkat kepalanya dan melirik dengan acuh tak acuh.
"Aku rasa dia menunggumu elle." Sorak jinyi.
"Baiklah elle kalau begitu sampai jumpa besok."
Jinyi melambai dengan antusias yang tinggi. Ia turut bersuka cita untuk elle, karena kakaknya brian mau menunggu elle pulang.
"Elle, supir tidak akan menjemput. Ayo pulang bersama kakak."
Elle tidak menjawab ia membuka pintu dan duduk di co pilot.
Selama perjalanan hanya hening. Elle yang tidak suka banyak berbicara dan Brian yang bingung memulai percakapan. Ini tidak seperti dimasa lalu, adiknya selalu cerewet saat bersama dengan kakak kakaknya. Namun sekarang hanya acuh tak acuh seolah tidak perduli dengan orang disampingnya, brian merasa kehilangan.
"Elle, tidak lama lagi ujian kenaikkan kelas. Kakak fikir elle harus belajar lebih giat."
Setelah memikirkannya beberapa detik, brian berani membuka topik. Sayang sekali, tidak mendapat respon dari elle.
"Elle, jika tidak ada yang kamu mengerti tentang pelajaran tanyakan pada kakak. Kakak akan membantu elle."
Brian tersenyum melihat elle sebelum kembali fokus mengemudi.
"Aku tahu."
__ADS_1
Hanya dua kata yang elle lontarkan mampu membuat brian dalam suasana hati yang bahagia. Brian fikir adiknya mulai terbuka dan bersedia menerima bantuannya.