Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Anak Muda Jangan Terburu-buru Menyimpulkan


__ADS_3

Yeye berjalan mondar mandir menunggu nona muda kembali. Pelayan tua itu terlalu resah dan berlebihan. Keadaan seperti ini membuatnya menjadi bodoh, setelah menerima telpon pemberitahuan dari pemimpin kelas bisnis ia sangat terkejut. Dasar tua bangka.


Setelah tersandung kakinya sendiri akhirnya dia sadar bahwa dia telah melupakan hal penting. Hal yang sudah menjadi tugas dan kebiasaannya.


"Hallo, selamat siang tuan."


"Katakan."


"Tuan, saya menerima panggilan dari pemimpin kelas bisnis bahwa nona akselerasi kelas. Seharusnya nona berada di kelas satu, tapi nona menyelesaikan soal-soal kenaikkan kelas dengan benar. Jadi sekarang nona di kelas dua."


Yeye menceritakan dengan begitu semangat. Ia yakin tuannya pasti akan sangat senang dan terkejut mendengar berita ini.


Yeye akui sangat kaget pertama kali mendengarnya. Bagaimana bisa ?


Yeye berfikiran mungkin alasan nonanya selalu buruk dalam pelajaran sekolah karena mempelajari materi kelas bisnis diam-diam.


Luar biasa. Nona ternyata orang yang pintar.


Memikirkan ini membuat yeye bangga.


Memang selama ini yeye paling sering memperhatikan bellerie, karena hanya nona muda lah yang sering membuat masalah.


Yeye tidak pernah membencinya, yeye justru merasa kasihan, nona muda menjadi pembuat onar karena kekurangan cinta dan kasih sayang. Orang tuanya bercerai sejak usia nona 6 tahun. Ayah dan kakak-kakak nya selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Jadilah nona elle kehilangan semua cinta dan perhatian yang seharusnya ia dapatkan.


Sama halnya dengan tuan muda kembar. Hanya saja mereka laki-laki jadi tidak selemah bellerie yang merupakan perempuan dan anak bungsu.


"Baiklah."


Jawaban di seberang sana membuyarkan lamunan yeye.


Belum yeye membalas, telpon kembali di putus sepihak oleh andreas.


"huft... Kalau difikir-fikir, sikap nona sekarang jadi mirip tuan." gumam yeye


Tinn...


Gerbang besar di buka.


Mendengarnya, yeye bergegas keluar mansion menyambut nona di teras. Wajahnya berseri-seri sedari tadi.

__ADS_1


"Selamat siang nona muda."


Senyuman lebar itu lagi. Di hitung hari ini belleri sudah menemui senyum seperti itu sebanyak dua kali.


Ada apa dengan mereka, fikir belleri.


Bellerie memasuki mansion dengan santai.


"Nona saya dengar anda akselerasi kelas. Saya ucapkan selamat untuk nona."


Brian yang baru turun mendengar perkataan yeye membuatnya tertegun. Berulang kali melirik yeye dan bellerie, mengamati apakah ada sandiwara.


Melihat bagaimana santainya belleri melempar tas. Dan ketidak perdulian bellerie atas ucapan yeye, membuat brian ragu kalau itu adalah sandiwara.


Belleri yang telah duduk di sofa mendongak melihat wajah keriput penuh suka cita di depannya.


Belleri mengangguk sekali.


yeye kembali tersenyum. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Melihat keberhasilan pertama nona muda, membuat dirinya bernafas lega. Keluarga betrix tidak akan di rendahkan lagi kan ?


"Nona, makan siang sudah siap. Apakah nona akan makan sekarang ?"


Setelahnya bellerie tidak lagi menatap yeye, ia mengayunkan kaki menuju meja makan. Disusul di belakangnya oleh brian yang sedari tadi diam.


Yeye mengerti nona dan tuan mudanya akan makan siang bersama.


"Bagaimana rencanamu mendekati reksi ? Gagal ? "


Mendengar cemoohan frian, yeye merasa kesal. Meski itu bukan di tunjukkan padanya


Kenapa tuan muda frian berfikiran dongkol.


Yeye heran, kenapa pertanyaan itu yang pertama kali di tanyakan kakak nona muda.


Bellerie santai, ia tidak perduli. Dan ia juga tidak tahu bahwa yeye sedari tadi menahan diri untuk tidak membelanya.


"Kenapa kamu diam ? Frustasi." Ejeknya.


" Apa maksudmu? "

__ADS_1


Bukan belleri yang membalas tapi brian.


"Aku lupa memberi tahu mu kalau dia dan reksi sekelas." Jawab frian menunjuk bellerie.


"Darimana kamu tahu? " Tanya Brian


"Reksi yang memberi tahu ku." Jawab Frian.


Brian diam. Jadi, bellerie melakukan semua itu untuk bisa sekelas dengan reksi. Brian tidak habis fikir dengan bellerie, bagaimana bisa ada perempuan senekat dirinya.


Belajar keras hanya untuk bisa berdekatan dengan orang yang di cintainya. Kenapa itu terdengar bodoh. Apalagi yang di kejarnya jelas-jelas sudah mempunyai kekasih.


Brian menggelengkan kepalanya, tidak habis fikir. Ia tidak jadi mengagumi adiknya.


Jangankan Brian, yeye pun ikut terdiam. Ia menatap cemas nona mudanya.


"Sudah ku bilang jangan ganggu reksi lagi, bellerie. Kamu tidak pantas untuknya." Sinis frian.


"Dan jangan pernah membully lily lagi. Ingat itu." Peringat Frian.


Bellerie tidak terganggu dan tidak terprovokasi. Sedari tadi dia hanya menyuap makanan ke dalam mulutnya dengan santai dan elegan.


Melihat itu, frian emosi. Bagaimana bisa dia diabaikan seperti ini. Bahkan bellerie terlihat santai.


"Kau dengar aku, bellerie. Jangan mempermalukan keluarga betrix lagi." Tekannya dengan marah.


Kini 3 pasang mata menatapnya. Brian dan yeye penasaran akan reaksi bellerie. Biasanya ia akan menangis dan melapor pada andreas setiap kali dirinya di bentak oleh Frian atau pun Brian.


Rain tidak pernah membentak bellerie sama seperti papa nya. Mereka hanya cenderung acuh, tidak perduli.


Perlahan bellerie mengelap mulutnya dengan tissue. Ia mendongak menatap mata frian. Bellerie belum berbicara.


Lantas bellerie mendekati frian. Menebuk bahu sebelah kiri frian.


"Anak muda jangan terlalu terburu-buru menyimpulkan." Balas bellerie dengan ujung bibir kanannya terangkat sedikit.


Elle menarik tangannya dari bahu frian. Sudut bibirnya kembali seperti semula. Ia melirik sekilas Brian, setelah itu melangkahkan kaki menuju kamar.


Frian belum tersadar dari kesurupannya, begitu juga dengan Brian.

__ADS_1


Yeye adalah orang pertama yang sadar. Ia tersenyum lembut mendongak ke lantai dua. Kemudian bergegas ke belakang. Tentu saja untuk melaporkan yang barusan terjadi pada tuannya.


__ADS_2