
"Hei, kalian meninggalkanku."
"Carles, apa kau mau ikut? "
Tanya Jinyi.
"Aku? " Tanya Carles balik.
"Aku tidak mau bergabung dengan bocah." Sambungnya dengan bangga.
"Siapa yang kau sebut bocah ? "
Jinyi kesal.
"Aku hanya akan berbicara sebentar dengan elle."
"Ya."
Elle menjawab singkat.
"Kami akan menunggu disini elle."
Bellerie tidak membalas, ia mengikuti carles di belakang dengan malas.
"Elle, ayahku sudah menyiapkannya."
"50 juta, uang sewa. Apa kurang ?" Carles menyodorkan amplop pada elle.
"Tidak perlu selama ayahmu menepati janjinya."
"Tapi.."
Elle mengembalikkan amplop pada tangan carles.
"Baiklah. Akan aku katakan pada ayah." Akhirnya carles mengalah, dia menjawab dengan lesu.
Elle mengangguk sekali.
"Elle, aku harus mengakui kemampuanmu. Sangat jauh diluar ekspektasi dari seorang Bellerie Betrix, Kamu sangat hebat." Carles tersenyum.
"Sepertinya apa yang aku dengar tentangmu sebelumnya adalah salah."
Elle tidak menanggapi, ia berdiri dengan enggan. Satu tangannya dengan santai masuk didalam saku jaket. Tangan lain dibiarkan menggantung dengan lemah. Bibirnya tertutup rapat dengan mata yang sesekali berkedip pelan. Pose ini memancarkan keagungan yang langka dari seorang pahlawan yang bosan mendengarkan omong kosong rakyat. Menyendiri dan kesepian.
Carles tertegun. Ia kesurupan dengan penampilan bellerie, orang didepannya seperti seorang raja yang menerima pujian dari pejabat kerajaan. Fikir carles, Bellerie sangat berbeda dari semua orang yang pernah ia lihat. Tiba-tiba ia merasa menjadi pejabat kerajaan yang suka menjilat. Carles linglung.
Ia tetap mematung sampai bellerie pergi, menyusul teman-temannya.
__ADS_1
"Apa tadi ? Apa barusan aku menjilat ? "
Gumam Carles pada dirinya sendiri.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk sadar bahwa bellerie hanyalah seorang anak SMA yang memiliki hobi balapan. Sama seperti ia dulu, bukan seseorang yang akan memerintah negara.
Sedangkan bellerie dan teman-temannya tiba di restoran yang dipilih Lusheng, itu adalah restoran mewah. Tempatnya lebih luas dari restoran bbq pada umumnya.
Elle tahu tempat ini. Feng Restaurant, adalah restoran terbesar di kota X. Tidak hanya menyediakan BBQ tapi juga menu lain, dari masakan barat sampai makanan timur. Semua makanan lokal dan asing bisa di temukan di restoran feng.
Ini adalah restoran milik keluarga feng.
"Rupanya kau membawa kami ke tempatmu."
Canda Jinyi pada Lusheng.
Lusheng terkekeh, ia juga tahu siapa orang didepannya. Penerus perusahaan Calvier.
"Elle, kamu sangat luar biasa." Rafi menatap elle dengan binar dimatanya.
"Benar, bagaimana kamu belajar teknik balapan seperti itu ? Tidak heran kamu begitu cepat membawa mobil waktu itu." Timpal Julian.
"Yah, seperti yang diharapkan dari elle." Jinyi berkata seperti ibu tua yang melihat anaknya sukses.
Yang lain hanya tertawa.
"Tidak, aku lahir di kota X. Hanya saja darahku campuran, ibuku dari negeri seberang."
"Oh, kau terlihat satu ras dengan Lusheng." Rafi ikut menimpali.
"Nenek Moyangku darah murni negeri seberang, mereka pindah jadi warga negara kota X. Begitupun dengan ibuku, mereka satu ras." Lusheng menjawab.
"Oh..." Yang lain menganggukkan kepala.
"Jadi, siapa yang mau bercerita tentang penculikkan itu? " Tanya Jinyi mengalihkan topik.
"Kenapa kau tidak tanyakan pada temanmu, jinyi." Sisil bercanda. Setelah mengenal bellerie, ia tahu bahwa bellerie bukan tipe orang yang akan berbicara panjang.
Jinyi mendengus.
"Apa yang bisa kutanyakan dari elle."
"Ha ha ha.. Kau benar, elle terlalu dingin."
Rey menyahut sembari melirik bellerie yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Baiklah, aku akan menceritakannya."
__ADS_1
Sisil mulai bercerita.
-
"Bagaimana bisa andreas mendapatkan keberuntungan yang besar ?"
Tuan wilson marah. Sedari di sirkuit ia menahan kesal mati-matian. Kalau bukan demi harga diri wilson, tuan wilson pasti sudah berteriak.
"Ternyata bellerie bukan orang yang bisa diremehkan. Bukankah dia hanya suka membuat masalah dan mengejar cinta anakku ?"
Tanya tuan wilson.
"Nona betrix berubah setelah sadar dari koma, tuan."
"Anak itu benar-benar tidak terduga."
"Kita harus hati-hati. Andreas tidak akan diam begitu saja."
"Jangan khawatir tuan, orang itu belum terbongkar."
"Bagus. Mulai sekarang kita tidak bisa menganggap mudah Bellerie betrix. Kamu lihat barusan, dia berhasil membuat kontrak dengan tuan lane, terutama keluarga feng." Setiap tuan Wilson mengingatnya, ia sangat geram sampai kukunya memutih karena kepalannya yang kuat.
"Baik tuan."
"Dimana reksi? " Tuan Wilson tiba-tiba teringat anak bodoh itu.
"Tuan muda sedang bersama nona lily."
"Gadis itu lagi. Sepertinya aku harus lebih mendisiplinkan reksi. Sudah ku bilang jangan berpacaran dengan gadis miskin itu. Dia tidak mau mendengarkanku. Sepertinya dia lupa bagaimana keluarga wilson mendidiknya."
Gerutu tuan wilson.
Tuan wilson melamun. Ia memikirkan reksi yang selalu membantah setelah mengenal perempuan bernama lily.
Sebagai keluarga konglomerat, status sangat penting. Ia selalu melarang reksi bergaul dengan orang-orang menengah kebawah demi menjaga nama baik keluarga. Namun sekarang reksi malah memilih kekasih yang miskin. Jika begitu, reksi lebih baik bersama bellerie putri saingannya.
Menyaksikan bellerie hari ini, tuan wilson menyesal atas kebodohan putranya. Padahal jika reksi berpacaran dengan bellerie, ia dapat menjadikannya batu loncatan.
Bellerie berbeda, hari ini ia membuktikkan kekuatannya. Bellerie bukan lagi pengacau seperti yang sering ia dengar.
'Reksi bodoh, dia pasti menyesal mencampakkan bellerie.' Tuan wilson membatin.
"Pergi ke rumah gadis miskin itu. Katakan padanya untuk menjauhi reksi."
Perintah tuan wilson.
"Baik tuan."
__ADS_1
Asisten pergi setelah menunduk hormat.