
"Elle, sekarang aku tahu bagaimana sikap selena. Dia tidak pantas menjadi artis besar."
Jinyi dan elle duduk dikantin sekolah setelah menghabiskan makanan.
Elle seperti biasa hanya akan menyandarkan bahu pada kursi saat jinyi mulai bercerita.
"Kemarin aku mendengar perkataan selena dan sepupunya. Elle, jangan dimasukkan kedalam hati."
"..."
'Apakah aku terlihat seperti orang yang memasukkannya segalanya kedalam hati ?' Fikir elle.
"Elle, meski selena artis kontrak agensi calvier. Tapi aku tidak akan berpaling, aku akan tetap mendukungmu."
"Aku tahu kamu yang terhebat."
Sambungnya mengacungkan dua jempol.
"Lagipula dia akan keluar setelah drama series berakhir."
Ekspresi jinyi berubah lagi.
"Papa ku bilang episodenya tidak akan banyak."
Katanya tersenyum lebar pada elle.
Elle tidak bergeming, ia sudah melipat tangan di dada. Melihat dari awal raut wajah jinyi yang selalu berubah.
"Elle, apakah kamu tahu sutradara Nick ? Dia akan membuat film terbaru. Pasti kali ini filmnya juga akan sangat populer seperti sebelumnya."
"Tidak."
Kali ini elle menjawab singkat.
Jinyi tercengang.
"Apa ? Elle kamu tidak tahu ? Sutradara Nick adalah sutradar terbaik. Bahkan selena menjadi terkenal karena film sutradara nick."
"Kau sungguh tidak tahu elle? "
Jinyi menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin.
"Sudahlah lupakan, apa yang aku harapkan dari orang sepertimu."
Jinyi bergumam, tapi masih bisa di dengar elle.
"Oh aku lupa. Elle papaku mengundangmu makan malam. Kapan kamu punya waktu? "
"Terserah."
"Hm.. bagiamana kalau malam ini? "
"Tidak."
"Kau bilang tadi terserah."
Jinyi mencebik.
"Bagaimana kalau besok ? "
Elle mengangguk sekali.
"Kamu setuju. Baiklah aku akan memberitahu papa segera."
Jinyi berkata dengan semangat.
Ting... Hp Jinyi bergetar.
"Elle, carles mengajak latihan lusa."
Jinyi mendongak menatap wajah elle yang cantik.
"Carles ini kenapa dia tidak mengirim pesan padamu ? Kenapa malah padaku ?"
Ting
"Elle dia tidak meminta nomor mu? "
__ADS_1
Jinyi bertanya setelah membaca balasan dari carles. Ia terkejut, dua orang bodoh ini benar-benar.
Elle hanya menggeleng.
"Aku kira dia sudah tahu nomor mu makanya kemarin aku memintamu mengajakku latihan."
Jinyi mengetik lagi.
Huh, jinyi menghela nafas gusar. Yang satu bodoh dan yang lain acuh tak acuh. Betapa dua orang ini membuat orang gemas saja.
"Elle aku akan mengirimkan nomormu pada carles, tidak apa-apa kan? "
Elle mengangguk santai.
"Oke."
Jinyi melanjutkan membalas pesan, tak lama hp elle berbunyi.
"Itu pasti dari carles elle."
Elle tidak merespon, ia hanya menunduk memainkan hp.
"Tadi aku lihat reksi menggendong lily ke uks. Sepertinya lily sudah di bully."
"Benarkah ? Siapa yang membully nya? Apakah itu bellerie lagi ? "
"Sssttt.. Diamlah . Kau lihat itu ! bellerie sedang duduk bersama jinyi."
Siswi yang lain menyenggol dan berbisik.
"Lalu siapa yang membullynya? "
"Aku dengar itu adalah Cleya, siswi kelas XI IPS 2 ."
"Siapa dia ? Berani sekali membully kekasih reksi. Apa dia tidak takut dengan pawangnya? "
"Kau tidak tahu cleya ? "
"Tidak."
"Maksudmu selena yang artis terkenal itu? "
"Memangnya selena mana lagi? "
"Aneh, kenapa dia baru membully lily sekarang ? "
"Itu pasti karena selena bertunangan dengan penerus keluarga betrix."
Gosip dengan mudah menyebar. Elle mendengarnya tapi ia tidak perduli. Untuk apa berurusan dengan pemeran utama pria dan wanita ? Kehidupan yang sekarang elle jalani adalah keinginannya.
Sekarang elle mengerti kejadian kemarin. Anak itu berlindung dibelakang selena. Mungkin siswi bernama cleya menduga ia akan baik-baik saja melakukan pembullyan karena selena telah menegur elle untuk menjaganya di sekolah.
Elle bilang mendengar selena bukan berarti untuk menuruti perkataannya. Ia hanya mendengar selena berbicara tanpa berniat melakukan.
"Elle, itu cleya. Sepupu selena yang kemarin berbicara denganmu."
Elle mendongak, ia tidak tertarik membahas selena atau sepupunya.
"Elle, apa kamu tidak ingin menegurnya? "
Tanya jinyi hati-hati.
Elle diam.
"Atau kamu ingin membantu lily, mungkin."
Elle berdiri. Melihat jam tangan yang menunjukkan 10 menit lagi istirahat akan berakhir.
" Kelas akan segera di mulai."
Setelahnya elle mengayunkan kaki menyusuri koridor.
Ditengah jalan ia terhalang oleh kerumunan siswa dan siswi. Elle mendengus, drama anak SMA. Ia tidak berniat untuk menonton, tapi ia tidak bisa lewat. Melihat ini elle hanya diam, dia akan menunggu sampai kerumunan bubar.
Sedangkan jinyi tidak setuju dengan elle, dia menarik tangan elle mendekati keramaian.
"Apa yang kamu lakukan pada lily? "
__ADS_1
Reksi berteriak.
"Sudah aku bilang aku tidak melakukan apa-apa. Dia saja yang terlalu lemah." Cleya membela diri.
"Berani kamu menyentuhnya lagi kamu akan menerima akibatnya."
"Reksi, kenapa kamu terus membela dia ?"
Cleya menunjuk wajah lily.
"Dia itu miskin dan jelek. Lihat aku ! Kita memiliki kesamaan, kita dari keluarga kaya. Dia tidak bisa bersamamu."
"Cleya, Sudahlah kamu minta maaf saja pada lily biar masalahnya cepat selesai. Gak malu apa di lihat satu sekolah? "
Jack menimpali sebelum reksi membalas.
"Minta maaf ? Apa kamu tidak salah berbicara? Dia pantas mendapatkannya."
"Cleya."
Reksi membentak. Ia memeluk lily yang menangis.
"Kak reksi sudah hiks aku tidak hiks apa-apa hiks.."
Lily berkata sesenggukkan.
"Cengeng banget sih jadi manusia."
Cleya mencibir.
Plak
Reksi menampar pipi cleya hingga menimbulkan bekas merah.
"Kamu.." Cleya syok, ia tidak menyangka reksi akan menamparnya.
"Cleya lebih baik kamu pergi. Jangan membully lily lagi."
Frian angkat suara. Ia tahu cleya akan menjadi sepupunya juga di masa depan, frian tidak ingin memperpanjang masalah.
"Udah sana pergi cle, daripada kamu tambah luka."Jack mensehati.
Jack memang selalu menyuruh orang-orang yang membuly lily untuk segera pergi. Bukan apa-apa, tapi ia hanya merasa kasihan saat seorang perempuan di tampar atau dipukul reksi. Jack juga melakukan hal yang sama pada bellerie di masa lalu.
"Reksi, aku sudah lama menyukaimu. Dulu aku tidak berani mendekatimu karena bellerie. Tapi sekarang bellerie sudah berubah, jadi aku memutuskan untuk mengejarmu."
Cleya melirik lily yang menangis dalam pelukan reksi, cahaya dimatanya berbahaya.
"Dan kamu... lihat saja." Cleya memandang lily dengan penuh kebencian dan dendam.
Setelah itu cleya pergi meninggalkan kerumunan. Meninggalkan banyak orang yang berbisik-bisik sedari awal.
"Cleya menjadi pengganti bellerie."
"Kau benar, hidup lily pasti tidak akan damai lagi."
"Reksi terlalu kasar, tidak seharusnya dia memukul perempuan."
"Berarti dulu bellerie adalah penyelamat. Kalau tidak ada bellerie, mungkin sudah banyak orang yang mendekati reksi dan membully lily setiap hari."
"Kau benar. Reksi harusnya tidak perlu kasar pada bellerie dulu. Sekarang pasti akan banyak perempuan yang terang-terangan mendekati reksi."
Reksi yang masih mendekap lily mendengar bisik-bisikkan itu. Ia mendengar beberapa murid yang menyayangkan bellerie telah berubah. Perubahan bellerie justru membuat beberapa perempuan yang menaruh hati pada reksi menjadi lebih berani. Ia juga memikirkan masa sekolah lily yang tidak akan damai lagi. Situasi yang jauh lebih buruk dari yang bellerie lakukan dulu.
Reksi sepertinya merasakan ada sesuatu yang menghilang di hatinya.
"Elle, aku tidak bisa membayangkan kalau dulu kamu seperti cleya."
Jinyi nyengir, ia berkata sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Elle tidak menjawab, ia melangkah menuju kelas. Kerumunan sudah bubar, ia tidak terhalang lagi.
Elle berfikir apakah jalan ceritanya akan sama hanya beda tokoh saja ? Mungkin jika bellerie tidak berubah, yang ada di posisi cleya adalah bellerie. Tapi karena bellerie telah menjadi protagonis, akankah cleya atau perempuan lain yang akan menggantikan peran bellerie ?
Jika begitu bukankah akhir lily dan antagonis pengganti akan sama seperti plotnya ? Entahlah, elle merasa ini tidak ada hubungan dengannya lagi. Ia tidak usah ikut campur dengan urusan protagonis dan antagonis.
Elle merasa, cukup bagus untuk menjadi tokoh figuran.
__ADS_1