Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Pulang dengan Selamat


__ADS_3

Sinar matahari menyerbu, setiap mata terusik. Burung-burung bernyanyian, pagi yang indah dengan embun di dedaunan. Setetesnya nakal, terjun bebas diantara anak angin. Mendarat di pipinya, ia mengangkat tangan menghapus jejak embun. Perlahan bulu mata lentik itu bergerak.


Dia menghalau sinar, tangannya membentuk bayangan menggelapkan sebagian wajah. Ia menoleh mendapati 5 anak manusia berbaring seperti ikan di pasar loak.


"Sudah pagi." Sisil bangun lebih dulu dari kelimanya.


"Bangun, hei bangun. Rey, bangun." Tangannya terus menggoncang setiap tubuh yang masih terlelap.


"Kita harus pergi." Bellerie berkata datar.


"Benar lebih cepat lebih baik." Setuju Rafi penuh semangat. Kini ia tidak mengantuk lagi.


Bellerie melangkah menuju tempat semalam. Ia menemukkan arang dan jejak-jejak kecil. Lantas melihat kedepan, bellerie terdiam.


"Ada apa bellerie ? Kenapa berhenti? " Tanya Lusheng.


Bellerie tidak menjawab, lusheng tidak mengerti. Ia mengikuti arah pandangnya, lantas menemukan banyak jejak kecil berantakkan. Lusheng mengerti sekarang, ia tidak bisa membantu tapi melihat langit.


Masih pagi.


"Kenapa lusheng?" Rey mengejutkan.


Lusheng melirik ke samping, lantas membuka mulut.


"Jejaknya hilang. Serigala-serigala itu menghapusnya. Lihatlah." Seru lusheng, menunjuk tanah yang sedikit rerumputan diatasnya.


"Apa sebaiknya kita lurus saja ? " Tanya Rey.


Bellerie tidak menjawab ia melangkah lurus seperti yang dikatakan rey. Melihat ini yang lain mengikuti, mereka mempercayai bellerie sepenuhnya.


Setelah kejadian tadi malam, sekarang mereka hanya bisa mengandalkan insting bellerie. Tidak bisa mengelak, bellerie terlalu peka.


"Darah apa ini? " Tanya Rafi.


"Lihat itu kaki binantang." Tunjuk Julian.


"Sepertinya itu mangsa serigala-serigala semalam." Jawab Lusheng.


"Pantas saja mereka berlarian." Gumam Julian.


Julian bertanya-tanya bagaimana jika darah itu darahnya ? Tengkuk julian merinding, bahunya bergidik. Ia tak sanggup membayangkan.


"Sekarang kita harus lewat mana? Jejaknya benar-benar hilang semua." Tanya Lusheng.


Bellerie tidak menjawab ia hanya berjalan ke arah timur. Matahari dari sana terlihat begitu terang. Memikat siapapun yang berminat menghangatkan diri. Namun tidak bagi ke limanya. Mereka kebingungan.


"Kenapa kita ke arah sini? " Tanya rey.


"Sungai." Bellerie menjawab singkat.


"Sungai ? " Beo Julian.


"Ah ya kemarin kita menemukan sungai dari arah timur." Sambung Julian.


Yang lain tidak menjawab, terus melangkah kan kaki mengikutinya.


Mungkin bellerie haus atau sekedar ingin membasuh muka. Fikir mereka. Tidak bisa membantah karena mereja juga sangat lengket, sudah 2 hari mereka tidak mandi. Bagi anak-anak yang terbiasa dengan kemewahan seperti mereka, sesuatu seperti ini sangat tidak mengenakkan. Bahkan untuk berkemah pun mereka mandi setidaknya satu kali dalam sehari.


"Wah airnya benar-benar jernih." Sahut sisil segera membasuh wajah dan tangan.


Bellerie tidak menyahut ia juga membasuh wajah, leher dan tangan. Setelahnya bellerie melajukan kaki menyusur pinggir sungai.

__ADS_1


"Bellerie kau mau kemana? "Tanya Julian


"Mengikuti sungai."


"Tapi kenapa harus mengikuti sungai."


Bellerie tidak menjawab. Teman-temannya menyertai di belakang.


"Bellerie bagaimana kalau kita tersesat ?" Kali ini sisil yang bertanya.


Bellerie menoleh, menatap satu persatu siswa dengan raut datar.


"Percaya padaku." Kata Bellerie tegas.


Diam.Tidak ada yang protes. Mereka percaya pada bellerie sepenuhnya. Pasti bellerie menggunakan kecermatannya lagi, tidak perlu di ragukan. Semalam telah terbukti di depan semua orang.


Karena itu, mereka terus melewati ranting demi ranting dan kerikil demi kerikil. Menjadi pendampingnya yang patuh.


"Sembunyi." Bellerie menarik tangan sisil ke belakang pepohonan.


"Siapa mereka? " Tanya rey.


"Sepertinya mereka menunggu kita." Jawab Rafi.


"Bukankah mereka yang menyeret kita ke hutan? " Julian bertanya.


"Kau benar Julian. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Mengikuti mereka diam-diam ?" Tanya Rafi.


Julian memukul pelan kepalanya. Rafi meringis.


"Lihat itu, mereka membawa mobil. Dengan apa kita mengikutinya ? Jalan kaki ? Jangan konyol."


"Aku tidak menyadarinya." Balas rafi dengan cengiran yang bodoh.


Namun, di depan penculik tidak ada lagi orang. Hanya mereka. Mereka mengira anak-anak ini begitu bodoh dan tidak akan selamat semua. Sayang dirinya tidak membiarkan siapapun luka. Bellerie tidak bisa membuang waktu. Dia harus segera bertindak sebelum kemungkinan mereka ketahuan.


Bellerie mengetukkan kayu pada kayu yang di pegang rey. Kebetulan rey berada di samping bellerie.


"Pukul !" Perintah bellerie mutlak.


Yang lain menatap bellerie mengerti. Bellerie lebih dulu melangkah dan memukul satu. Penculik satu melihatnya, rey, lusheng dan julian mendapat perlawanan sebelum mereka memukul titik lemah lawan. Beruntung penculik tidak membawa senjata seperti pisau lipat atau pistol. Sehingga mereka terkapar tak bergerak.


Bellerie menatap sekilas, kemudian menaiki mobil di kursi pengemudi.


"Apa kita yakin akan naik ini? "


Tanya Rafi ragu. Pasalnya mobil yang akan mereka naiki adalah mobil penculik. Mungkin saja mereka memasang gps atau yang lainnya untuk menangkap mereka kembali.


"Naik !" Perintah Bellerie.


Bellerie sudah mengatakan untuk percaya padanya. Mengingat ini, semua hanya menurut.


"Bellerie, apa kau bisa mengendarainya? Mungkin kita harus sedikit ngebut. " Tanya rey.


rey mungkin percaya pada kecerdasan bellerie. Namun, untuk satu ini rey ragu. Bellerie perempuan, kebanyakan anak sepertinya dimanja dan sering diantar jemput supir saat bepergian.


Pihak kedua tidak menjawab, ia mengangguk sekali. Lantas mengemudikan mobil dengan cepat.


"Bellerie, apa kau ingat jalannya? " Tanya Lusheng.


Bellerie tidak melirik, lagi ia mengangguk santai sekali. Dirinya mengingat harus ada jalan beraspal yang dia lewati. Benar saja di depannya ada perempatan. Bellerie berbelok ke arah kanan. Jalan ini baru diperbaiki, terlihat aspalnya masih halus.

__ADS_1


Bellerie menemukkan pesawat akan mendarat dari arah kiri. Sangat jauh dari tempatnya sekarang, tapi ia yakin seharusnya jalan ini juga dilewati.


Didepan sana ada jalan gang masuk mobil dan jalan raya. Lagi ia mengingat harus menemukan halte bus. Umumnya halte hanya akan di temukkan di jalan raya. Bellerie mengarah pada jalan itu.


Bellerie mengemudi dengan lancar, sangat cepat baginya memutuskan arah jalan. Secepat ia membawa mobil melewati jalan demi jalan.


"Berhenti! "


Ckitt..


'Dukk'


"Aduh.."


Bellerie tidak bisa membantu, ia hanya mengikuti suara 'berhenti' , sehingga ia menge rem mobil mendadak.


"Kenapa? " Tanya Lusheng mengarah pada rey.


" Ini kota Z." Rey menjawab.


Bellerie tetap melajukan mobilnya dengan sangat pelan.


"Berarti kalian telah sampai di rumah. Tunjukkan pada kami dimana rumah kalian, kita akan mengantar."


Lusheng menimpali, ia melirik bellerie yang hanya diam. Lusheng berprasangka bellerie tidak keberatan dengan idenya.


"Tidak usah antarkan saja kami ke sekolah." Balas Rey.


" Kenapa ? Kami tidak keberatan."


"Tidak Lusheng, ayahku adalah pemilik sekolah. Pihak sekolah akan mengurus kami."


Lusheng mengangguk faham.


"Baiklah kalau begitu tunjukkan jalannya."


Tiga teman rey tidak menolak. Mereka cukup dekat dengan keluarga rey, jadi tidak perlu khawatir. Mereka mempercayakan semuanya pada rey. Memang hanya rey yang dapat diandalkan diantara mereka.


Rey tenang dan mengelola emosi dengan baik, karena itu banyak orang yang menyukai serta mempercayai rey. Ia dewasa di usianya yang masih remaja.


Berdiri di depan gerbang sekolah rey menunduk hormat pada bellerie dan Lusheng, di ikuti tiga yang lain.


"Terima kasih atas bantuan kalian. Terutama kau bellerie, kau sungguh menakjubkan." Puji rey.


"Benar, terima kasih bellerie. Akhirnya aku pulang dengan selamat."


Sisil menitikkan air mata haru, ia bersyukur bisa bertemu keluarganya kembali. Terlebih dengan keadaan utuh.


Melihat ini, Rafi dan julian mengikuti. Mereka lega setelah kembali. Tak segan mereka menawarkan bantuan apabila bellerie dan lusheng membutuhkannya.


Papa rey berada di sekolah, setelah mendengar kabar dari beberapa siswa ia begegas menuju gerbang. Dan menemukan anak dan murid-muridnya kembali.


Mendengar penjelasan singkat rey, ia melihat bellerie dan Lusheng. Menunduk hormat mengucapkan terima kasih berkali-kali. Lantas memberikan kartu nama pada keduanya. Untuk menghubunginya jika mereka membutuhkan bantuan.


"Bellerie, kita akan ke rumahmu langsung."


Lusheng berkata dengan berpegangan erat tatkala bellerie menambah kecepatan mobilnya.


"Kantor polisi."


Jawab bellerie tanpa mengurangi kecepatan diatas rata-rata.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa sedikit pelan ? Kita sudah di kota X."


Keluh lusheng yang tidak dihiraukan bellerie.


__ADS_2