
Revina yang terbiasa dengan panggung membungkuk hormat, memberi sapaan sopan dengan senyuman yang tidak pernah luntur di bibirnya. Revina sangat rileks seolah keramaian dibawah panggung bukan apa-apa. Terkecuali satu orang yang membuatnya sedikit gugup sejak awal. Hanya saja revina seorang profesional muda, bagaimana mungkin kegugupan bisa mengacaukan penampilan ? Orang itu adalah, Edenson Heirgh.
Ia duduk dengan elegan menghadap piano. Matanya melihat setiap nuts berwarna putih dan hitam. Tersenyum bangga bahwa sesuatu yang akan dimainkan hanya secuil pelajaran ketika ia smp, sekarang ia sudah berada dilevel yang lebih tinggi. Tentu hal yang mudah untuk mengulang kembali skors yang sering dimainkan dulu.
"Seperti yang diharapkan dari bunga sekolah guna bangsa x."
"Permainan revina luar biasa, nada ini sangat menyentuh."
"Apa kau tahu lagu apa ini ? Ini adalah 'Love earth' yang pernah diciptakan legenda pianis."
"Benar. Dia benar-benar tidak kehilangan satu nada pun."
Setiap orang yang mendengar suara piano revina berbinar-binar seolah sedang mengikuti konser idola. Beberapa dari mereka merasa terenyuh. Love earth adalah nada piano yang diciptakan legenda pianis, nada ini masih sering di mainkan para pianis untuk mengenang tentang keindahan dunia dan bagaimana cara kita seharusnya mencintai bumi. Para guru menjadikan love earth sebagai contoh latihan yang harus bisa dimainkan untuk para pianis tingkat atas. Mereka yang memang sudah naik level akan diwajibkan mempelajari lagu ini.
Irama dan melodinya tidak sederhana, butuh pengalaman beberapa tahun untuk bisa memainkan love earth. Revina sendiri yang sudah bermain piano sejak berusia 7 tahun baru bisa memainkan love earth setelah kelas 1 smp.
Dan lagu ini sangat jauh dari skill yuliar. Yuliar bahkan bingung bagaimana selanjutnya ia akan memainkan sebuah lagu. Lagu mana yang akan dia mainkan agar permainannya seimbang dengan revina. Yuliar memeras otaknya dengan keras, apakah ini yang disebut revina mengimbangi permainannya ? Apakah bahkan revina tahu sejauh mana kemampuan dirinya ?
Ia melirik revina, bagaimanapun kemampuan mereka bagai langit dan bumi. Yuliar tanah, maka revina langit. Mungkin yang dimaksud mengimbangi oleh revina adalah sesuatu yang sebenarnya diatas dari kemampuan dirinya. Mengingat ini yuliar tidak merasa direndahkan, ia memaklumi revina dan menyadari levelnya sendiri.
Permainan revina selesai di iringi tepuk tangan dan sorak sorai dari hampir semua siswa. Kini semua mata itu tertuju padanya, menunggu ia menyentuh setiap nuts nada. Yuliar ragu-ragu sejenak, sedetik kemudian ia mengela nafas. Ia sudah menentukan lagu.
"Siapa dia? "
"Entah aku juga tidak tahu."
"Kenapa dia ? Sayang sekali."
"Ngomong-ngomong kemana Raden? "
"Dia sakit, kemarin bahkan raden tidak hadir."
"Aku tahu orang disamping revina. Dia adalah Yuliar dari kelas regular."
"Apa ? Bagaimana bisa kelas regular berdampingan dengan revina? "
"Entahlah. Itu terserah guru."
"Dengar itu, permainannya sangat jelek. Tidak sebagus revina."
"Menurutku ini cukup bagus. Hanya saja diawal revina telah memainkan lagu yang kuar biasa, sehingga gilirannya terdengar lebih buruk."
"Ya, kau benar. Memang tidak ada yang bisa mengimbangi revina selain raden."
Orang-orang yang berbisik tepat didepan jinyi dan elle. Mereka terus bergosip tanpa memperhatikan wajah jinyi yang menghitam.
__ADS_1
"Ini pasti sengaja. Revina mencoba mempermalukan Yuliar." Jinyi menggeram, ia akan berteriak kepada orang-orang didepannya namun ditahan oleh tangan elle.
"Elle, kenapa? "
"Jangan membuat keributan."
"Tidak bisa elle, mereka menjelek-jelekkan yuliar dan kelas regular. Ini sama saja dengan menjelekkan kita. Apa mereka tidak memandangku ? Memang aku bukan anak orang terkaya dikota X, tapi bahkan apakah mereka memandangmu elle ? "
"Mungkinkah kita disini adalah hantu yang tidak terlihat ? "
"Atau mereka mengira kita tuli ? "
Jinyi mengeluh dengan suara yang sedikit tinggi, cukup untuk didengar oleh orang-orang disekitar mereka. Jinyi sengaja melakukannya untuk memancing orang-orang yang bergosip. Benar saja mereka menoleh ke belakang.
"Apa lihat-lihat ?"
Seketika kumpulan beberapa siswa terdiam.
"Kenapa tidak melanjutkan bergosip ? "
Tidak ada yang menjawab
ck, jinyi berdecak meremehkan mereka.
Duel piano selesai dengan hasil sangat bagus untuk revina yang mewakili kelas unggulan dan hasil yang sangat buruk untuk yuliar yang mewakili kelas regular. Ini bukan perlombaan, tapi jinyi merasa sangat kesal karena revina berbicara omong kosong. Jinyi jelas mendengar bahwa revina akan menyeimbangkan permainan dengan yuliar. Apa-apaan ini ? Jinyi jelas tahu ini disengaja. Apakah kelas regular atau yuliar pernah melakukan kesalahan padanya ?
"Elle, aku akan pergi sebentar."
Elle mengangguk.
Jinyi segera bergegas menghampiri ruang tunggu. Ia melihat revina yang dikelilingi siswa siswi, sedangkan disisi lain ada yuliar yang dikelilingi ketua kelas dan diandra. Tunggu ? Teman sekelasnya sebagian bahkan ada disini ? Jinyi mengerti ia segera menghampiri mereka.
"Jinyi, kebetulan sekali kamu ada disini." Sapa Diandra.
"Aku tidak bisa diam saja, saat kita direndahkan." Balas Jinyi berapi-api.
"Kalian jangan salah faham. Permainan revina sangat bagus, permainanku buruk sehingga tidak bisa menyeimbanginya." Bela Yuliar.
"Yuliar, permainanmu sangat buruk lalu kenapa dia tidak merendahkan hatinya ? Sanga jelas dia sengaja membuat semua orang menertawakanmu." Ucap ketua kelas.
"Benar yang dikatakan fandi, kamu hanya menjadi lelucon untuk menjadikan dia sebagai orang yang dipuja-puja."
Teman sejelas lain secara sadar mengetahui ini. Mereka tidak habis fikir, kenapa yuliar masih saja membela revina disaat dirinya bahkan telah menjadi bahan tertawaan ?
Fandi ketua kelas, maju lebih dulu.
__ADS_1
"Revina."
"Oh, hai itu kamu lagi ketua kelas regular." Revina tersenyum ramah.
"Oh yuliar permainanmu sangat bagus." Revina beralih memuji yuliar.
Yuliar yang mendengarnya tersipu, ia menunduk dengan telinga merah.
"Terima... Kasih."
"Untuk apa kau berterima kasih? "Jinyi bertanya dengan frustasi.
Yuliar tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepala.
Jinyi mulai geram, ia mendahului ketua kelas berbicara.
"Revina apakah kamu tahu level yuliar? "
"Tentu saja aku tahu. Yuliar bermain dengan baik."
"Kamu dan yuliar kemarin latihan benar? "
"Ya benar." Revina masih tersenyum.
"Lalu kenapa kamu tidak menyeimbanginya? Kamu hanya berbicara omong kosong."
"Jinyi, apa maksudmu ? Revina sudah berusaha menyeimbangi yuliar tapi permainan dia terlalu buruk. Bahkan tidak mampu mengejar revina walau setengahnya."
Perempuan disamping revina adalah cici. Teman sebangku yang selalu mengikuti kemanapun revina pergi.
"Jinyi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa permainan piano yuliar sangat bagus jadi aku berusaha bermain bagus juga sepertinya."
"Jelas kamu tahu levelnya sebelumnya." Diandra angkat bicara.
"Kamu pasti sengaja mempermalukan Yuliar."
Teman sekelas regular lain menimpali.
"Jangan sembarangan menuduh. Seperti yang dikatakan revina ia mencoba menyeimbangi permainan yuliar yang bagus." Teman sekelas unggulan membela revina.
"Omong kosong ! Bukankah kamu barusan bilang permainan yuliar buruk ?" Jinyi terus membela.
"Jinyi, jangan mentang-mentang kamu adalah anak tuan calvier jadi seenaknya menuduh orang. Apa ini yang diajarkan keluargamu? "
Cici membalas.
__ADS_1
"Beraninya kau menilai keluargaku."
Pertarungan yang tak terhindarkan terjadi. Ketua kelas kewalahan. Benar, jika perempuan bertarung kekuatannya berkali-kali lipat bertambah. Fandi yang dibantu dua orang teman sekelas laki-laki saja tidak mampu melerai.