
"Bibi, halo."
"Elle, kamu terlihat berbeda. Sekilas aku tidak mengenalimu." Bibi berkata sambil tersenyum.
Elle tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
"Elle, bibi lihat kamu telah banyak berubah. Bagaimana hubunganmu dengan reksi ? Apakah ada kemajuan? " Bibi jessy terus berbicara sambil tersenyum.
Elle mengernyitkan dahinya samar.
"Jangan sungkan untuk berbicara dengan bibi. Kamu adalah putri bibi, tentu saja bibi akan membantu sebisa mungkin. Bibi akan memberikan beberaoa saran untuk hubunganmu dengan reksi." Bibi jessy menepuk bahu elle santai, senyumannya tidak pernah pudar dari awal sampai akhir. Nada bicaranya lembut, seperti seorang tetua yang membujuk junior.
Jessy melihat bellerie banyak diam, tidak seperti biasanya yang akan mengatakan apapun yang ada dalam fikirannya. Saat ia memberikan saran, bellerie akan menerimanya sepenuh hati. Dan saat ia mengatakan bahwa bellerie telah dianggap seperti putrinya sendiri, bellerie akan memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
Ada apa dengan bellerie sekarang ?
Mungkinkah sikap seseorang berubah setelah koma ?
Apa yang harus ia lakukan ? Terus berbicara tanpa mendapat balasan dari lawan bicaranya membuatnya seolah-olah sedang membuat pertunjukkan sendiri. Jessy merasa marah, bellerie ini benar-benar menjadikannya seperti lelucon.
Walau dihatinya sedang marah, dipermukaan bibirnya terus tersenyum Mempertahankan kelembutan nada bicaranya.
"Elle, kamu sibuk dulu. Bibi akan menyapa tuan tua. "
Jessy pergi setelah tersenyum ringan pada elle. Saat ia berbalik ekspresinya banyak berubah, hanya ada kekesalan dan alis yang menukik.
Jessy fikir, pembuat onar bellerie sepertinya berubah. Mungkinkah ia telah kembali ke jalan yang benar ? Jessy butuh waktu untuk menerima perubahan bellerie.
"Elle..." Jinyi bergegas menghampiri bellerie.
"Oh elle, kamu sangat sangat cantik." Mata jinyi berbinar melihat elle di depannya seperti peri yang turun dari langit.
"Jinyi, apa yang kalian berdua lakukan ? Cepat kesini." Carles yang berteriak. Disana sudah ada ray yang juga melambai pada elle.
"Oh benar, elle ayo kita kesana. Kami baru saja berkumpul disana dan mencarimu."
Tanpa menunggu jawaban elle, jinyi menyeret tangan elle dengan teguh.
Elle melihatnya hanya mengikuti dengan malas. Langkahnya tidak terburu-terburu juga tidak pelan.
__ADS_1
"Elle, silahkan duduk. Kita akan mengobrol ringam disini." Carles berinisiatif membuka kursi untuk di duduki elle.
"Lama tidak bertemu elle. Kamu sangat cantik hari ini." Ray tersenyum tulus. Pujiannya adalah kebenaran, tidak ada niat untuk berbohong atau sekedar untuk menyenangkan elle.
"Sudah kubilang elle sangat cantik hari ini." Jinyi juga ikut menegaskan.
Elle tidak menjawabnya. Hanya melirik mereka dengan santai. Ia tidak seperti kebanyakkan gafis yang akan tersipu atau pipinya memerah ketika mendapatkan pengakuan cantik dari beberapa orang.
"Sepertinya tadi aku melihat Lusheng. Dimana dia ?" Tanya Ray.
"Lusheng siapa ? " Tanya balik carles.
"Itu teman kami." Jawab Ray sambil tersenyum.
"Oh." Carles tidak berminat menindaklanjuti percakapannya.
"Itu dia, Lusheng. Kesini." Jinyi melambai saat ia melihat Lusheng dan seorang pria berjalan dari pintu masuk perjamuan.
"Maaf semuanya. Tadi aku menjemput seseorang."
Lusheng minggir, memperlihatkan orang dibelakangnya
"Ihh... Siapa orang idiot ini. Dia sangat jelek." Jinyi adalah orang yang pertama bereaksi setelah melihatnya.
Orang yang sekarang berdiri disamping Lusheng adalah pria yang tinggi badannya lebih tinggi dari Carles. Diantara mereka, carles adalah yang paling tinggi, mungkin juga karena usianya yang paling tua. Yang kedua adalah Lusheng. Tapi sekarang pria disamping lusheng lebih tinggi dari carles.
Bukan tanpa alasan jinyi memanggilnya idiot, pria itu memiliki bola mata berwarna cokelat. Ada tompel bulat seukuran kuku ibu jari di kiki kanannya. Rambutnya di sisir kesamping kiri dengan gel dan ia memakai kemeja putih yang dimasukkan kedalam celana bahan hitam. Pria itu memakai celana diatas pusar, dengan bantuan sabuk celananya tidak melorot sama sekali. Melihat kebawah, ternyata celana bahan itu cukup panjang sehingga menutupi setengah dari sepatu kulitnya. Dia adalah definisi dari si culun masa sekolah.
Elle yang melihatnya, "..."
"Darimana kamu mendapatkan orang ini ? "
Carles adalah orang yang terus terang.
"Ini temanku. Namanya Ken." Lusheng menjelaskan
"Halo, elle." Ken antusias saat melihat elle.
"Dia kenal elle." Jinyi berkata.
__ADS_1
"Yah, dia juga teman elle." Lusheng menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Elle, bagaimana kamu mengenalnya? "Tanya jinyi penasaran.
Elle yang dihadapkan banyak pasang matang, mau tidak mau harus menjawab.
"Dipinggir jalan."
"Maksudmu gelandangan ? " Tanya jinyi lagi.
Orang yang disebut gelandangan, " !!! "
Dia adalah seorang ilmuwan yang kaya. Dia memiliki kartu hitam, bagaimana dia bisa disebut gelandangan.
Ken sangat marah.
Ia melirik elle, berharap elle tidak mengangguk atau mengatakan ya.
"Ya." Elle mengangguk sekali.
Ken sangat frustasi. Anak ini elle tetaplah orang yang begitu dingin.
"Aku bukan gelandangan." Ken tidak tahan, dia berbucara disela-sela giginya
"Kami bertemu di toko musik. Ada kecelakaan kecil dan dia membantuku." Karena elle tidak mau menjelaskan, maka ken yang berbicara.
"Oh."
Yang lain hanya mengangguk mengerti.
"Kenapa kamu seorang idiot bisa masuk perjamuan ini ? "
Jinyi, seorang wanita yang menyukai kecantikkan tidak senang melihat ken yang berpenampilan idiot.
"Aku yang membawanya." Lusheng menjawab.
"Baiklah, tidak apa-apa bertambah satu teman lagi. Ken, kamu bisa duduk."
Ken tidak menjawab, ia hanya duduk dengan patuh. Didalam hatinya ia berkata, kenapa aku harus duduk dengan anak-anak nakal ini ? Penampilanku memang jelek, ada apa dengan orang jelek ? Apakah itu merusak matamu ? Hmph ! Ken mendengus tidak suka.
__ADS_1