Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Gadis di Ujung Rak


__ADS_3

Andreas mendengus dingin, orang tua masih tidak menyukai putrinya. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Namun andreas kali ini tidak diam, ia akan membela putrinya.


Elle yang menjadi topik pembicaraan keluarga tidak terganggu sama sekali. Ia bahkan tidak perlu repot-repot memikirkan pendapat dirinya dibenak tuan tua. Setelah makan malam, elle tidak langsung tertidur, seperti biasa ia akan melatih massa ototnya. Setelah sekian lama akhirnya kekuatannya meningkat. Elle semakin gesit dan ringan. Seperti yang diharapkannya, ia sangat puas.


Elle mengulang kejadian disekolah. Saat revina bermain piano, ia teringat kakeknya. Dulu ketika arisa berusia 7 tahun ia akan mengikuti kakeknya setiap liburan sekolah. Kadang-kadang Kakeknya bahkan dengan sengaja membiarkannya bolos sekolah untuk mengajak arisa bermain. Permainan yang dimaksud kakek adalah alat-alat musik koleksi kakek. Arisa pada awalnya hanya menonton pertunjukkan kakek memukul, memetik dan meniup alat musik. Lama kelamaan arisa terbiasa mendengar setiap tangga nada, melodi dan irama. Atas bujukan sang kakek arisa kecil memainkan beberapa alat musik dengan mudah, seperti seorang jenius musik.


Namun, sejak arisa remaja ia tidak lagi bermain musik bersama kakek. Ketika itu arisa hanya menyibukkan diri dengan belajar dan menghasilkan uang. Kakek juga semakin tua, ia pindah ke pulau keluarga untuk perawatan kesehatan tubuhnya. Arisa kembali menyendiri.


Elle melihat keluar pagar, ia bergegas mengenakan tudung hoodie dan menghindari cctv. Elle tidak membuat suara membuka gerbang, ia memanjat dengan langkah-langkah ringan seperti cicak yang merayap di dinding. Orang-orang tidak akan mengira bahwa seseorang telah keluar melalui gerbang.


Elle sampai diluar kompleks, beberapa menit kemudian kendaraan umum menghampirinya. Elle masuk taksi.


"Pergi ke toko musik."


"Baik nona." Pengemudi tidak mengenal siapa elle.


Sesampainya dijalan kota, elle tidak terburu-buru masuk toko. Ia memasukkan tangannya kembali kedalam saku setelah menyaksikan taksi melaju pergi. Ia berjalan kedalam dengan tidak pelan dan tidak terburu-buru. Postur tubuhnya sangat rileks seolah semua orang disekitarnya bukanlah orang yang harus diwaspadai, matanya menunjukkan kemalasan yang jelas. Namun wajahnya yang halus dan cantik menarik perhatian beberapa orang yang lewat.


"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu? "


Pelayan pria yang sedari pintu bergemerincing memperhatikan elle datang menyapa. Pelayan adalah petugas toko pria yang memiliki tubuh tinggi 20 cm diatas elle.


"Lihat-lihat."


Elle bahkan tidak tertarik untuk melihat wajahnya. Suaranya enggan, seolah ia adalah orang yang tidak mau diganggu siapapun.


Pelayan takut menyinggung nona muda cantik yang terlihat kaya, sehingga ia dengan sadar diri mundur dengan sopan.


Dari kemunculannya elle tidak perduli, ia tidak repot-repot untuk melihat kemana pelayan itu pergi. Rak-rak besar berjejer rapi di kedua sisi, semua digolongkan berdasrkan jenis. Elle melewati alat musik yang berukuran besar. Ia berdiri memilih-milih harmonika didepannya.


Prank


"Ada apa? "


"Sepertinya didepan ada perkelahian."

__ADS_1


Dorr


"Ahh..."


Para pengunjung didalam toko menjerit kaca toko pecah karena peluru.


"Ada apa ini? "


"Aku tidak tahu aku tidak berani keluar."


Pelayan pria mencoba melihat keluar dari belakang meja kasir.


"Ada apa? " Teman pelayan disampingnya bertanya dengan penasaran.


"Sepertinya ada yang mereka cari."


"Siapa yang mereka cari, berani membuat keributan dikota besar. Mereka tidak takut bahkan ditangkap polisi."


"Mungkin dia mencari tuan heirgh, aku mendengar tuan heirgh memiliki banyak musuh. Sekarang tuan heirgh ada dikota kita, mungkin mereka mencarinya." Yang lain menimpali.


Dorr


"Jangan bicara sembarangan. Yang harus kita fikirkan adalah bagaimana Caranya kita keluar dengan selamat."


Dorr... prang


"Itu suara kaca toko sebelah." Pelayan wanita berkata dengan suara gemetar.


Tak tak tak...


Ada banyak suara sepatu terdengar semakin jelas. Merka sepertinya berlari, tiba-tiba pintu di dobrak sampai hancur. Melihat Beberapa orang berpakaian hitam dan membawa pistol, semua orang otomatis berjongkok. Hanya elle yang masih tenang memilih harmonika diujung rak, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Semua orang sibuk dengan perasaan masing-masing, tidak ada yang memperhatikan kelainan elle.


"Apakah kalian melihat pria berjangkut putih memakai mantel hijau tua? "


Pria yang paling deoan bertanya dengan wajahnya yang sangar. Pertanyaan justru membuat mereka bungkam ketakutan.

__ADS_1


"Jawab !" Nadanya naik 2 oktaf.


"Kami tidak melihatnya." Pelayan pria memberanikan diri membalas.


Segera semua orang mengangguk setuju. Mereka tidak berbohong, bukannya medeka melihat atau tidak tapi mereka sibuk dengan alat musik masing-masing sehingga tidak memperhatikan siapa yang masuk dan keluar.


Sedangkan untuk kasir mereka tidak melihat seorang pria berjangkut putih memakai mantel hijau tua membayar.


Melihat wajah kejujuran semuanya, orang berpakaian hitam mengerutkan kening. Lalu ia melihat ke penjuru toko.


"Nona yang diujung, apakah kamu melihat pria berjangkut putih ? "


Semua orang mengalihkan atensi pada elle. Baru sekarang mereka menyadari betapa hebatnya gadis muda diujung rak, dia tidak panik bahkan berdiri dengan tenang sambil memegang harmonika ditangan kanannya.


Elle yang telah selesai memilih berbalik kesamping, melihat kekacauan dimana-dimana. Wajahnya masih acuh tak acuh.


"Sepertinya anda tidak takut sama sekali. Ini menarik."


Orang berpakaian hitam menyeringai, menunjukkan minat didalam matanya.


"Tanya sekali lagi, apakah kamu melihat pria berjangkut putih memakai mantel hijau tua? "


Tanya teman sebelahnya.


"Tidak." Elle menjawab dengan malas.


Semua yang hadir sekali lagi terkejut, nona ini benar-benar tidak takut pada kematian.


Pria yang tadi bertanya mengerutkan kening, ia tidak bisa menilai apakah gadis itu berbohong atau tidak. Melihat dari matanya yang tidak perduli, pria itu memberi klaim bahwa elle mungkin berkata jujur.


"Periksa setiap ruangan dan sudut."


"Ya."


Pemandangan selanjutnya adalah para pria berotot yang mengobrak abrik toko, memasuki ruangan seenaknya. Kadang menghancurkan beberapa peralatan musik yang menurutnya mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2