
Elle menghampiri jinyi yang menunggu di parkiran. Sepertinya jinyi telah lama berdiri disana.
"Elle kau darimana ? Kenapa lama sekali? "
"Toilet."
Jinyi mengangguk, ia tidak bertanya lagi. Ia merasa wajar elle lama di toilet. Semua perempuan melakukan hal yang sama. Mungkin elle tidak memakai make up, tapi siapa yang tahu elle memakai skincare mahal dan ribet. Pemakaian skincare pastinya harus benar.
"Elle, carles mengajak kita bertemu di sirkuit."
Elle mengangguk.
Jinyi tak mengerti dengan sikap carles. Jika ayahnya menginginkan elle menjadi bagian dari tim, kenapa carles mengajaknya berduel?
Bukankah sudah jelas kemarin carles kalah oleh elle ?
Memikirkan ini jinyi menyimpulkan bahwa carles si manusia angkuh itu tidak mau mengakui kekalahannya.
Jinyi menggeleng, carles memang terkenal dengan sifatnya yang tempramental. Pantas jika dia meragukan kemampuan orang lain.
Jinyi bertanya-tanya apakah elle akan bergabung dengan tim carles? Lalu bagaimana dengan keluarga betrix?
Memikirkan ini, jinyi melirik elle. Ia tidak bisa bertanya takut menyinggung perasaan elle.
"Kita sudah sampai elle."
Elle melihat tiga orang lelaki berdiri dengan dua motor dihadapannya. Elle menduga orang yang berada di tengah adalah carles. Itu karena dia satu-satunya pria yang memakai pakaian nonformal.
"Jinyi, jadi dia pembalap itu? " Tanya carles.
Jinyi melirik elle.
"Ya dia orangnya."
"Perempuan saja sudah membuatku ragu, lalau dia? bellerie betrix. Apa kau bercanda jinyi."
"Hei, carles kau tidak bisa meremehkan orang dari luar."
"Aku tidak bermaksud meremehkan, hanya saja... Jinyi ayolah, kalau kau tidak mau mengatakan siapa orangnya kenapa kau membawa dia? "
Carles meragukan bellerie karena suatu alasan. Bellerie terkenal dengan putri yang suka membuat onar. Ia suka membully, mencari perhatian, dan melakukan apapun sesukanya. Bellerie orang yang tidak pernah mengenal jera. Setidaknya itulah yang diketahui carles.
Elle tidak marah. Ia faham bagaimana pandangan orang tentang bellerie asli. Di masa lalu, ia juga pernah mencaci tokoh bellerie.
"Kita bisa mencoba."
Elle bersuara.
Elle melihat carles masih ragu, ia tidak berbicara lagi tapi segera mengendarai motor menuju garis start.
"Kau jangan meremehkan elleku, kau sudah pernah dikalahkan carles." Kata Jinyi memelototi carles.
Carles hanya mendelik tidak suka pada jinyi.
Jinyi mencari tempat duduk terdekat untuk menonton. Ia menyaksikan dua motor saling beradu kecepatan untuk sampai ke garis finish. Sejauh ini, elle selalu memimpin.
"Ada apa dengan carles? Apa dia sengaja melambatkan motornya karena elle perempuan? " Gerutu jinyi, melihat carles yang terlihat santai di belakang elle.
"Carles bodoh."
Jinyi menggeram tidak suka.
Sekarang tidak lagi sama, setelah satu putaran, carles menambah kecepatan. Barulah jinyi yakin bahwa carles serius dalam bertanding. Walau begitu, carles masih tertinggal di belakang elle.
Cuaca sangat terik hari ini. Untungnya tempat jinyi duduk teduh, jadi ia tidak terganggu dengan panas selagi menonton. Pertandingan berakhir setelah dua putaran, kemenangan mutlak berpihak pada elle.
Sudah jinyi duga, carles memang bodoh. Seharusnya dari awal carles tidak bermain-main.
__ADS_1
Segera jinyi menghampiri keduanya dengan semangat.
"Bagaimana? " Tanya jinyi bangga pada carles.
"Baiklah aku kalah." Carles mengaku.
"Sudah kubilang jangan meremehkan orang dari luar. Kau kan tidak tahu bagaimana elle sesungguhnya."
"Oke oke. Kau cerewet, dasar wanita."
"Hei." Jinyi menggeram, ia tidak terima disebut cerewet.
"Kau memanggil dia apa? "
"Elle. Kenapa? "
"Tidak. Elle, bergabunglah dengan tim ayahku."
Jinyi berdecih, Lalu ia mengalihkan atensi pada elle, ia ingin tahu apa yang akan elle putuskan.
"Aku akan, tapi dengan syarat." Jawab Elle santai dengan mata yang malas.
"Apapun syaratmu, sebaiknya kau katakan pada ayahku saja. Ayo pergi."
Carles mengendarai motornya menuju perusahaan. Di belakang, mobil jinyi mengikuti.
Carles mendapat kejutan hari ini. Semula ia tidak percaya jinyi adalah pembalap baru. Ia sengaja mengajak jinyi berduel dengan harapan ia akan membawa pembalap asli. Memang sesuai ekspektasi, hanya saja ia tidak menyangka bahwa orangnya adalah bellerie betrix.
Carles menebak orang itu setidaknya pria yang berusia 5 tahun lebih tua darinya. Dan berlatar belakang pembalap profesional dari luar negeri. Rupanya carles terlalu membanggakan diri sehingga mengira tidak akan ada orang di kota X yang mampu menjadi tandingannya.
Ia mendapatkan dua pelajaran hari ini. Pertama, jangan terlalu sombong. Kedua, ia harus berlatih lebih keras.
Harga dirinya sebagai pria di pertanyakan setelah dikalahkan dua kali oleh bellerie.
'Ah ****. Memalukan.' Carles mengumpat dalam hati.
"Kau memang perlu didisiplinkan lagi carles."
Carles menyengir lebar. Ia segera angkat suara sebelum sang raja memberi ultimatum.
"Ayah, jangan terburu-buru. Aku membawa keuntungan untuk kita."
"Kau lah yang terburu-buru."
Seperti biasa, carles selalu mati kutu di depan ayahnya.
"Ohh, ini rupanya pembalap baru yang mengalahkan berandal itu."
Carles melotot, kata berandal itu keluar dari mulut ayahnya terkesan dirinya adalah seorang pria liar yang tidak bisa dikendalikan. Padahal mereka sedang didepan orang lain. Lagi, ini melukai harga dirinya.
"Ini sungguh kejutan. Bukankah kau anak bungsu tuan andreas yang suka membuat masalah ? Kenapa tiba-tiba menjadi pembalap ?"
"Ayah bagaimana kau tahu? Aku bahkan belum bicara. " Tanya Carles.
"Karena aku pintar."
Carles mendelik, kenapa dia harus mempunyai ayah sepertinya.
"Mari duduk. Ah kau anak tuan Calvier kan? "
"Benar. Saya Jinyi, tuan lane."
Orang yang dipanggil tuan lane tertawa.
"Rupanya kau tahu namaku."
"Anda selalu mengadakan pertandingan nasional setiap tahun, siapa yang tidak mengenal anda, tuan."
__ADS_1
"Panggil saja aku paman. Buat dirimu nyaman."
"Baik paman." Jinyi tersenyum. Ia duduk disamping elle.
"Jadi nona betrix, bagaimana dengan penawaranku? "
"Aku punya syarat."
"Tentu, katakanlah."
"Saya ingin anda menjalin kontrak dengan perusahaan betrix."
uhuk uhuk..
Bukan tuan lane yang tersedak, melainkan carles. Tuan lane memandang sinis putranya.
"Bukankah perusahaan betrix memiliki kontrak dengan keluarga Caroline ? "
Tanya tuan Lane.
"Itu syaratku."
Balas bellerie dengan sedikit kedinginan.
Carles dan tuan lane terkejut. Mereka merasakan atmosfer yang tiba-tiba berubah. Keduanya melirik bellerie.
"Kau sangat mirip dengan ayahmu, nona betrix."
Elle tidak menjawab.
"Sebagai pengusaha, saya memikirkan untung dan rugi. Kau tahu, bagaimana jika pertunangan kakakmu tiba-tiba dibatalkan ? Saham perusahaan keluargamu mungkin akan turun drastis dalam jangka waktu yang lama."
Tuan lane melanjutkan.
"Saya tidak ingin menanggung rugi."
Elle menyeringai tipis. Seringaian yang tidak terlihat jelas oleh siapapun.
"Kalau begitu, saya akan mewakili keluarga saya di pertandingan nasional."
Tuan lane mengernyit, ia mengerti maksud bellerie. Ia sedang menimbang pilihan mana yang akan dia ambil. 3 tahun kebelakang ia selalu berhasil mengajak para pembalap bergabung dengan tim tanpa syarat. Itu karena mereka bukan dari golongan pengusaha atas.
Lalu selama 3 tahun ini ia tidak perlu repot-repot menghabiskan uang hanya untuk membayar para pembalap. Sebab carles lah yang mewakili perusahaan keluarga. Ini menguntungkan karena perusahaan bisa menghemat selain itu reputasi perusahaan semakin bagus.
Namun sekarang berbeda, bellerie bukan dari golongan menengah kebawah. Ia anak dari perusahaan raksasa kota X. Uang bukan apa-apa baginya. Jika ia menolak syarat bellerie, reputasi perusahaan pasti akan buruk. Selain itu, bisa saja pertandingan nasional diambil alih.
Mungkin setelah bellerie memenangkan pertandingan atas nama betrix, mereka akan menduduki sirkuit. Jelas ini merugikan perusahaan lane.
"Baiklah saya akan terima syaratnya. Tapi kontrak akan ditanda tangani setelah pertandingan."
"Maaf paman, sepertinya anda meragukan kemampuan elle."
Jinyi mengintrupsi. Sedari tadi ia hanya diam menyimak. Sampai ia menangkap pembicaraan tuan lane, menurut jinyi tuan lane sengaja mengundur kontrak.
"Carles dikalahkan oleh pendatang baru. Kita tidak tahu berapa banyak pendatang baru diluar sana." Tuan lane menyahut dengan senyuman lebar kepada jinyi.
"Tapi paman..."
Suara jinyi terpotong kala elle menggerakkan tangannya menyentuh pergelangan tangan jinyi.
Elle mengerti maksud tuan lane. Bagaimanapun para pebisnis terkenal dengan kecerdikkannya
"Baik. Mari buat perjanjian diatas materai."
"Nona betrix sangat cermat. Saya suka itu." Kata tuan lane.
"Mari buat kesepakatan. Oh benar, panggil saja saya paman." Lanjut tuan lane tersenyum ramah.
__ADS_1