
Pa'
Pupil gelapnya terbuka dengan emosi tidak sabaran. Dia tidak tahan lagi, siapa yang memiliki keberanian menggangu tidurnya ? Elle mengerutkan kening tidak senang, jarang ada emosi dimatanya. Saat ini justru tidak ada siapapun di dalam kamar, sangat disayangkan tidak ada yang melihat perubahannya.
Lusheng.
Pemuda ini memnaggilnya.
"Elle, akhirnya kamu mengangkat telponku." Suara disana terdengar terburu-buru.
"Ada apa ?" Elle menguap malas, kelopak matanya masih mengantuk.
"Apa yang harus aku lakukan ? paman ken dibawa kabur oleh beberapa orang. Aku ingin memanggil polisi tapi sepertinya paman ken sesuatu yang tidak boleh diketahui banyak orang ..? " Nadanya tidak yakin apakah bertanya atau memberikan pernyataan.
Hanya saja lusheng mendunga-duga bahwa paman ken ini sepertinya tidak sesederhana kelihatannya. Bagaimana mungkin seorang pria dewasa biasa dibawa paksa oleh orang-orang galak berpakaian hitam ? Mereka sepertinya para bodyguard yang mendapat perintah, atau jangan-jangan para penculik yang pernah menculiknya dulu ? Anehnya, paman ken seolah mengenal mereka dan mereka mengenalnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi ? Barusan ia ingin membantu paman ken untuk bertarung, tapi melihat jumlah mereka yang lebih banyak, hanya akan menjadi pertarungan sia-sia. Lalu dia akan melarikan diri bersama paman ken. Apa daya, mereka bisa mengejarnya. Dan dia dipukul tanpa perlawanan.
Karena elle mempercayakannya padanya maka lebih baik mendengarkan pendapatnya terlebih dahulu alih-alih langsung memanggil polisi. 'Hiss...' Lusheng meringis, mengusap darah diujung bibirnya.
Elle yang mendengarnya, mengerti. Orang-orang itu mnemukan ken. Elle terdiam beberapa detik sampai ia mendengar lusheng meringis. Sepertinya lusheng terluka.
"Kemana mereka membawa ken ?"
"Mereka pergi ke timur kota X, aku dengar mereka akan membawanya ke pabrik kosong di jalan kecamatan timur. Elle, aku fikir lebih baik kita meminta bnatuan polisi."
"Tidak perlu. Terima kasih sudah membantu ken. Lusheng, kembalilah dan obati lukamu."
"Elle jangan gegabah. Kamu tidak bisa pergi sendiri. Itu sangat berbahaya. Lihatlah aku yang seorang pria terluka sangat mudah ditangan mereka, bagaimana kamu seorang gadis menghadapinya. Elle, kita melapor polisi saja, oke ?" Lusheng sangat cemas sehingga dia bahkan tidak merasa sakit lagi.
__ADS_1
tut tut tut
Oh, ****.. Elle memutuskan panggilan. Apa yang harus dia lakukan ? Elle sangat cantik bagaimana kalau mereka orang-orang kasar merusaknya ? Membayangkannya saja sudah membuat dirinya bergidik. Haruskah dia melapor polisi saja ? Tapi elle bilang tidak perlu. Oh ya Tuhan.. bagaimana ini ?
Atau, dia memberi tahu tuan betrix saja ? Tidak, tidak. Bagaimana kalau tuan andreas membunuh dirinya ? Punggung belakang lusheng tiba-tiba menjadi dingin. Lusheng saking paniknya dia bolak-balik ditepi jalan raya sampai dia tersandung kakinya sendiri, barulah ia sadar kalau lukanya belum di obati. '
'Ah, ini sangat perih' batin Lusheng.
Tiba-tiba lusheng mendapat pencerahan. Mengapa dia tidak meminta bantuan kakaknya saja ? Benar, adalaha solusi yang tepat meminta bantuan kakaknya. Lagi pula saudara laki-laki bisa memobilitas bodyguard. Bagus, ayo cepat pergi.
Lusheng mengendarai mobil dengan kecepatan full sampai di perumahan mewah dekat kantor pusat perusahaan keluarga feng, barulah ia menurunkan kecepatannya. Walau begitu, ia masih tidak sabar untuk mencari kakak laki-laki.
Lusheng menekan sidik jari pintu utama, lalu berlari menuju kamar kakaknya.
Duk duk duk duk
"Kakak, kakak laki-laki. Apakah kamu di dalam ? Buka pintunya."
Duk duk duk duk
Ceklek
"Lusheng ! Untuk apa kamu membuat keributan !" Kakak Laki-laki Lusheng, Feng yusheng keluar mengenakan piyama lengan pendek dan rambutnya acak-acakkan. Ia sangat marah pada adiknya, tengah malam begini apa yang dilakukan bocah nakal ini untuk mengganggu tidurnya ?
"Kakak jangan marah dulu, ini darurat. Ayo ayo panggil bodyguard kakak untuk menolong elle, semakin banyak semakin baik." Lusheng menjelaskan dengan gelisah.
Kakak laki-laki lusheng yang mendengarnya terkejut, matanya terbuka sempurna, tidak ada lagi rasa kantuk.
__ADS_1
"Apa maksudmu bellerie betrix ?"
"Ya ya, kakak jangan basa basi lagi. Ayo cepat panggil saja para bodyguard dan ikuti aku. Aku akan menunjukkan jalannya." Lusheng memegang lengan kakak laki-lakinya, untuk menopang tubuhnya. Ia terluka dan berlari seperti orang gila, rasanya dia ingin pingsan.
"Lusheng, kamu terluka. Duduk dulu, jelaskan perlahan." Yusheng baru sadar dengan keadaan adiknya, pakaiannya berantakkan, ada bercak darah di lengan bajunya, ujung bibirnya sobek, ujung matanya biru, hidungnya berdarah. Yusheng khawatir, dia segera memapah adiknya ke sofa. Mencari kotak obat sambil menelpon dokter keluarga untuk segera datang ke rumahnya.
"Lusheng, ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi ?" Yusheng bertanya sembari membantu adiknya membersihkan luka.
"Hiss..." Lusheng meringis saat kakaknya mengobatinya. Ia menceritakan bahwa teman mereka yang bernama ken menjadi target orang lain dan dibawa paksa, ia sempat melawan namun kalah jumlah. Akhirnya ia memberitahu elle lewat telpon. Namun elle menyuruhnya untuk tidak melapor polisi dan mengobati lukanya.
"Elle.. dia... Pergi sendiri."
"Dasar idiot, itu kesalahanmu memberitahu elle." Yusheng menoyor kepalanya yang tidak terluka.
"Ah, kakak, aku tahu seharusnya aku tidak usah memberitahu elle." Yusheng memegang kepala, kakaknya tidak tahu bahwa kepalanya juga sempat dipukul. Untungnya tidak berdarah.
"Tunggu dokter datang, periksakan tubuhmu. Aku akan pergi menyusul elle."
"Tidak kakak, aku akan ikut. Kamu tidak tahu tempatnya." Lusheng mencoba untuk berdiri tapi ditekan kembali oleh kakak.
"Kamu katakan dimana tempatnya ?"
"Pabrik kosong dijalan kecamatan timur kota X."
"Yah, aku tahu. Tunggu disini, aku akan memanggil bibi." Kata Yusheng, tangannya mengetik beberapa kata di hp.
"Tapi kakak, aku.." Lusheng akan berdiri lagi tapi ditekan oleh kakaknya.
__ADS_1
"Lusheng, diam saja dan periksa tubuhmu. Percaya padaku, aku akan membawa temanmu kembali dengan selamat, oke ? Bagiamanapun juga elle adalah orang yang menyelamatkanmu, keluarga kita berhutang padanya. Tidak munngkin aku memperlakukannya sembarangan."
Lusheng akhirnya diam. Kakaknya keluar dengan tenang.